
Sepanjang perjalanan pulang, Lita lebih banyak terdiam daripada bicara. Darmawan berhenti di depan komplek perumahan Hasan. Ia sendiri melihat Hasan yang berdiri di sebelah motor miliknya.
Darmawan kemudian menepikan mobilnya dan membuka kaca, saat Hana sudah keluar.
"Papah sama Mamah gak mampir yah. Udah malem." Ucap Darmawan kepada anak mantunya.
"Iya Pah. Makasih yah udah nganterin Hana. Tadinya, Hasan mau jemput, tapi Hana nolak terus." Jawab Hasan seraya tersenyum.
"Ya udah kalo gitu, kami pulang dulu yah," ucap Darmawan kemudian melanjutkan perjalanannya lagi.
Hana tersenyum melihat Hasan yang kini memperhatikan dirinya dari atas hingga bawah. "Kenapa ngliatin aku begitu? Ada yang salah sama penampilan aku?" tanya Hana.
"Iya, kamu semakin cantik. Harusnya kamu pake dress kalo di rumah aja sama aku."
"Di rumah mau pake apa aja oke sih. Tapi, kalo ke acara pake kaos oblong dan celana pendek kan gak etis, San." Jawab Hana sambil mencubit pipi Hasan.
"Iya, tapi aku gak suka kalo kamu dandan cantik buat orang lain. Emangnya teman Papah siapa?" tanya Hasan.
"Mau tetep ngobrol di sini? Yakin? Apa nggak sebaiknya kita ngobrol di rumah? Aku tadi mampir beli martabak nih," ujar Hana sambil memperlihatkan kotak yang ia bawa.
Hasan tersenyum kemudian mengisyaratkan Hana untuk naik di jok motor. Mereka berdua kemudian pulang dan melanjutkan obrolan yang tertunda sambil menikmati martabak tersebut.
"Jadi, siapa temen Papah yang ngundang makan malam?" tanya Hasan lagi.
"Pak Bagas. Orang yang pernah kita temui waktu ke rumah Mamah," jawab Hana.
"Oh, orang itu ... jadi, dia tetap dengan rencananya untuk menjodohkan kamu sama anaknya?" tanya Hasan kemudian dengan ekspresi tidak sukanya.
"Bukan gitu, San. Mereka minta tolong aku buat bantu anaknya. Aku pikir, kamu akan kaget setelah tau siapa anak mereka,"
"Memangnya siapa?" tanya Hasan sambil menatap Hana dengan tajam.
"Samuel," jawab Hana sembari menghela nafas di akhir kalimatnya.
__ADS_1
"Apaaaa! Samuel?" tanya Hasan dengan kagetnya.
"Iya, aku juga gak nyangka kalo anaknya Pak Bagas itu adalah, Samuel. Tapi, menurut aku orang tua Samuel orang yang baik, San. Apalagi Bu Ratna, Mamah Samuel. Dia kayak sayang banget sama aku,"
Hasan memperhatikan ekspresi wajah Hana. "Kamu suka mereka menyayangi kamu?"
"Suka lah, San. Dapat perhatian dari orang lain, itu artinya kita ber ...."
"Apa kamu kurang perhatian dan kasih sayang dari aku, Mamah, dan juga Papah? Sehingga kamu bisa bicara seperti itu?" tanya Hasan tidak senang.
"Ma-maksud aku bukan gitu, San!" Hana menghela nafas lalu memijit kepalanya yang kini berdenyut. "Haduh, dia udah marah kayak gini. Apalagi kalo tau aku menerima tawaran dari orang tua Samuel? Aku harus jujur atau diam aja?" batin Hana.
"Kamu mau lanjut kerja lagi?" tanya Hana mengalihkan pembicaraan.
"Lanjut besok aja. Bisa kacau kalo aku lanjut kerja sekarang. Lebih baik kamu istirahat sekarang. Besok kan harus sekolah," ujar Hasan lalu bangkit dari kursi.
"Hey, tunggu!" Hana menarik tangan Hasan. "Kamu marah sama aku?" tanya Hana.
Hana tau jika Hasan sebenarnya marah. Tapi, ia juga tidak bisa berbuat banyak. Hasan merebahkan tubuhnya begitu saja. Tadinya ia memang ingin melanjutkan pekerjaannya yang tinggal beberapa lagi finish. Tapi, perdebatan kecil membuat moodnya hilang begitu saja.
"Pasti ada maksud dari orang tua itu. Aku harus tanya Mamah. Terlebih lagi, anaknya itu adalah Samuel. Apa benar jika Samuel benar-benar amnesia?" gumam Hasan sambil menatap langit-langit.
Hasan kemudian menghubungi Cantika untuk meminta nomor Raja.
"Hay, belum tidur? Maaf mengganggu ... Aku mau minta nomornya Raja. Kamu punya kan? Apa ... benarkah? oke, makasih ya Cantika. Kamu benar-benar temanku, oke, good night." Hasan memutus telponnya.
"Hana, lagi-lagi kamu bikin ulah. Sejak kapan kamu berhubungan dengan Raja. Sejak kapan kamu suka berkomunikasi dengan dia."
Hasan tampak geram lalu meremas hapenya dengan kuat. Ia bangkit dari tempat tidur dan membuka pintu kamar. Tak disangka, Hana tengah berdiri di depan pintu kamarnya. Dari logat yang ia tunjukan, sepertinya Hana ingin mengetuk pintu kamar Hasan.
"Hasan," ucap Hana.
Tanpa basa basi, Hasan segera menarik tangan Hana untuk masuk ke dalam kamarnya dan duduk di tepi ranjang. Hana cukup kaget dengan sikap Hasan yang tiba-tiba menariknya dengan kuat.
__ADS_1
Hasan mencoba mengatur emosinya. Ia tidak mau marah lagi. Jika kemarahannya membuat Hana semakin berani, ia akan memilih bersikap seperti biasa. Mungkin benar, Hana juga ingin kebebasan layaknya seorang pelajar pada umumnya tanpa terikat apapun.
"Ada apa, San? Kamu benar-benar marah sama aku?" tanya Hana dengan gugup.
"Nggak, aku cuman mau tanya. Kamu ada nomor Raja? Sejak kapan kamu save nomor dia?" tanya Hasan seraya tersenyum.
Hana lebih suka jika Hasan marah ketimbang bicara halus dengan senyuman yang mengerikan menurutnya.
"Da-darimana ka-kamu tau soal itu?" tanya Hana dengan gugup.
"Oh, jadi benar. Kamu diem-diem suka chat sama dia? Mana hape kamu!" tanya Hasan. Kali ini, dia tidak bisa bicara manis lagi.
"Nggak kok, San. Kalo ada hal penting aja aku chat sama dia," jawab Hana dengan gugup.
"Hal penting apa? Apa dia lebih penting ketimbang aku, suami kamu? Kamu aja gak pernah chat aku. Kamu malah chatan sama dia,"
"Kita kan tinggal satu rumah, San. Buat apa kita chat-an. Kalo ada apa-apa kan tinggal ngomong," jawab Hana.
"Kamu ini," Hasan mendorong tubuh Hana ke kasur. Ia menindihnya begitu saja, lalu ******* bibirnya dengan kasar.
"Hasan aku ... em, um, San!" Hana mencoba untuk bicara di sela-sela amukan Hasan.
Setelah puas ******* bibir Hana. Hasan merebahkan tubuhnya di sebelah Hana. Nafasnya terlihat ngos-ngosan.
Jantung Hana berdebar. Ia menghirup nafas dalam-dalam setelah dibuat sesak oleh suaminya sendiri.
"San, aku, aku minta maaf. Aku gak jujur soal nomor Raja. Aku takut jika kamu marah. Meskipun pada akhirnya, kamu akan marah juga," tutur Hana melirik Hasan.
Hasan memejamkan matanya sekilas. "Apa kamu benar-benar cinta sama aku? Atau sama Raja? Atau ...."
Hana memiringkan tubuhnya dan menarik wajah Hasan agar mau melihatnya. "Aku cinta sama kamu. Gak ada laki-laki lain di hati aku. Cuma ada kamu. Iya aku salah. Dan kamu juga udah hukum aku. Harusnya kamu udah gak marah lagi soal ini," tutur Hana.
Hasan lalu tersenyum kemudian menarik Hana ke dalam pelukannya. "Sudahlah, jangan bicara lagi. Kamu bisa jelaskan kembali besok. Ayo, kita tidur saja," bisik Hasan sambil mendekap tubuh Hana dengan erat.
__ADS_1