Menikah Karena Tradisi

Menikah Karena Tradisi
Kissing Code


__ADS_3

Hasan melirik Hana yang terlihat bimbang. Hasan kemudian menghela nafas ketika pekerjaannya rampung. Ia menutup laptopnya dan meregangkan tangan agar otot-ototnya rileks.


"Alhamdulillah, kelar juga!" ucap Hasan senang.


"Waktunya tidur,"


Hasan naik di atas sofa dan melipat tangan di dadanya.


"Kamu buruan ke kamar, aku mau tidur di sini," ucap Hasan.


"Kamu gak ganti baju dulu?"


"Nggak! Aku mau langsung tidur aja," jawab Hasan mulai memejamkan matanya.


"Ka-kamu tidur sama kakak sana," ucap Hana.


"Gak mau, maunya sama kamu. Kalo gak boleh aku tidur di sini aja," jawab Hasan.


Hana tampak berpikir panjang.


"Iya iya, kamu tidur sama aku. Tapi inget, kamu gak boleh ngapa-ngapain aku loh," ucap Hana.


Hasan membuka kedua matanya. Ia kemudian duduk dan memandang Hana yang duduk di bawah.


"Kamu serius?" tanya Hasan memastikan.


"Iya, tapi kamu gak boleh macem-macem loh,"


Hasan menyunggingkan senyum. "Emangnya kamu pikir aku mau ngapain? Aku juga tau kali Han, batasannya. Aku numpang tidur aja koq. Kalo kamu takut, aku tidur di sofa depan akuarium aja. Buat jaga-jaga, takut aku nafsu sama kamu," ucap Hasan sambil mendekatkan wajahnya ke arah Hana dengan nada menggoda di akhir kalimatnya.


Perkataan terakhir Hasan, mampu membuat Hana merinding. "Gimana kalo Hasan nafsu beneran sama aku?" batin Hana bergejolak.


"Awas aja kalo kamu macem-macem. Aku bilangin Kakak ntar," jawab Hana.


Hasan tersenyum lalu berjalan lebih dulu ke kamar Hana. Hana mengekor di belakang Hasan.


Sesampainya di kamar, Hana segera menutup pintunya. Ia mengambil satu selimut lagi untuk Hasan. Tak lupa, Hana memberikan satu bantalnya untuk Hasan.


"Nih," ucap Hana sambil menyerahkan bantal.


Hasan tersenyum tipis sambil meraih bantal dan selimut yang diberikan Hana.


"Sebenarnya, kamu lebih hangat dibandingkan selimut ini," bisik Hasan di telinga Hana sebelum pergi ke sofa.

__ADS_1


Hasan tersenyum nakal. Ia kemudian merebahkan tubuhnya di atas sofa depan akuarium.


Hana tersipu malu ketika Hasan membisikkan kalimat itu. Tanpa berlama-lama, Hana menaiki ranjangnya dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Dasar otak mesum! Aku heran kenapa, Hasan menjadi bersikap aneh seperti itu," Hana bergumam dalam hatinya.


Sebelum Miki terbangun, Hasan dan Hana sudah bangun lebih dulu. Mereka menunaikan sholat subuh berjamaah. Setelahnya, Hasan melanjutkan untuk tidur lagi, sementara Hana bingung harus membuat sarapan apa, sebab stok sayur di kulkasnya sudah habis.


Hana mengecek magicom, ternyata masih ada nasi.


"Nasinya masih ada. Tapi, telornya udah abis. Adanya sosis. Ah, aku bikin nasi goreng sosis aja deh. Siapa tau pada suka," gumam Hana kemudian menyiapkan semua bahannya.


Hana mulai mengiris tiga buah sosis yang dipotong menyerong. Tak lupa juga, Hana mengiris bawang merah. Setelahnya, Hana menaruh wajan di atas kompor. Setelah kompor menyala dan wajannya panas, Hana mulai mengoleskan mentega.


Pagi ini, perasaan Hana begitu senang. Ia sangat yakin nasi gorengnya akan enak karena ia memasak dengan penuh cinta dan bahagia. Miki membuka pintu sambil meregangkan tangan. Ia menguap tanpa menutup mulut. Diliriknya, Hasan masih tertidur di sofa.


"Baguslah, ternyata dia tidak tidur sama Hana," batin Miki menyunggingkan senyum.


Miki menghirup aroma masakan Hana yang harum dan menggugah seleranya. Miki berjalan melewati Hasan begitu saja. Ia berjalan mendekat ke arah Hana yang masih sibuk membolak balikan nasi goreng di atas wajan.


Perasaan Miki begitu bahagia, ia membayangkan jika Hana adalah istrinya, dan kini tengah menyiapkan sarapan untuk dirinya.


Dan lagi, untuk kedua kalinya, Miki memeluk Hana dari belakang yang membuat Hana kaget dan langsung berbalik badan. Mengetahui yang memeluknya adalah Miki, matanya seketika membulat dan mendorong tubuh Miki dengan kasar.


Miki yang terdorong hingga membentur kursi, segera membenarkan posisinya agar dapat berdiri kembali dengan benar.


"Sory, aku terhanyut suasana," jawab Miki tanpa merasa bersalah.


"Inget ya, Kak! Aku ini udah jadi istri orang. Hasan, adik Kakak, dia suami aku. Kakak gak boleh bertingkah seenaknya," ucap Hana lalu kembali membalikan nasi goreng dalam wajan.


Setelah matang, Hana segera menyiapkannya ke dalam mangkok besar. Miki yang masih berdiri merasa bingung harus berbuat apa. Ia memutuskan untuk membantu Hana.


"Aku buatin susu yah," ucap Miki sambil menggaruk kepalanya.


"Boleh, bikin tiga gelas," jawab Hana tanpa menoleh ke arah Miki karena ia sendiri sibuk menyiapkan piring dan sendok.


Miki tersenyum melihat tingkah Hana yang cekatan. Ia kemudian mengambil tiga gelas dan segera membuatkan tiga gelas susu.


"Aku bangunin, Hasan dulu yah!" ujar Hana kepada Miki.


Miki menganggukan kepalanya sembari tersenyum. Hana segera berjalan mendekati sofa di depan televisi.


Hana tersenyum melihat wajah suaminya yang begitu menggemaskan ketika tidur.

__ADS_1


Hana bersimpuh di bawah sambil menatap lekat Hasan. Ia mengagumi ketampanan Hasan yang tak berbeda jauh dengan Miki. Perlahan, Hana mengelus pipi Hasan yang tak kalah mulus dengan pipinya.


"San, bangun! Kita sarapan yuk, Hasan!" ucap Hana dengan nada lembutnya.


Hasan hanya menggeliat kecil sambil menikmati elusan lembut di pipinya.


"Ayo bangun, kamu mau sarapan nggak?" tanya Hana lalu mencubit hidung Hasan.


Hasan yang tidak bisa bernafas kemudian terbangun, ia melihat Hana yang tengah tersenyum kepadanya. Hasan mengerjapkan kedua matanya seraya tersenyum.


"Selamat pagi, istriku!" sapa Hasan yang mampu membuat Hana tersipu malu dan merasa bahagia.


"Istriku? Ada apa sama dia?" batin Hana.


"Susunya udah aku buat nih. Kalo Leo gak bangun juga, kita sarapan berdua aja, Han!" seru Miki dari arah meja makan.


Mendengar suara Miki, Hasan seketika beranjak dari sofa, ia melirik Miki sekilas dan bergantian menatap Hana. Hana hanya diam mendapat tatapan tajam dari suaminya.


"Kamu dari tadi masak sama Abang?" tanya Hasan.


"Enggak, dia cuman bantuin buatin susu aja,"


"Sama aja, kamu dari tadi sama Abang. Kenapa gak bangunin aku," tanya Hasan lagi dengan kesal.


"Emangnya kenapa? Kan sama kakak kamu juga gak sama Raja," balas Hana dengan kesal.


Hasan membulatkan matanya ketika Hana menjawab kalimatnya di tambah dengan nama Raja.


"Hisshhh! Kamu itu susah dibilangin," ucap Hasan dengan gemas.


"Woy, pada sarapan gak nih? Aku udah laper banget tau!" seru Miki dari dapur.


Hasan melirik Miki sekilas kemudian menatap Hana lagi.


"Awas kalo ketauan macem-macem lagi, aku kasih ini ... Muach," Hasan memonyongkan bibir tipisnya kepada Hana, lalu berdiri meninggalkan Hana yang masih terpaku di bawah.


Hana tersipu malu, hingga pipinya terasa panas. Hana mengusap kedua pipinya yang sudah merah akibat kalimat dan ekspresi wajah Hasan yang imut.


"Itu orang kenapa sih! Dia mencoba buat merayu aku?" gumam Hana.


"Hana, buruan kesini!" teriak Hasan dari arah meja makan.


Hana kemudian berdiri dan bergabung dengan dua kakak beradik yang sama-sama mengisi hatinya.

__ADS_1


__ADS_2