Menikah Karena Tradisi

Menikah Karena Tradisi
Ternyata orang Indonesia


__ADS_3

"Apparently, your cooking is delicious too. Oh yes, I want you to make an application letter. Give it to me tomorrow when you've finished it,"


("ternyata, masakan kamu enak juga. Oh iya, aku ingin kamu membuat surat lamaran. Berikan padaku besok kalo kamu sudah menyelesaikannya,") ucap Miki sembari mengusap mulutnya dengan tisu.


"What! I think I just want to be a summons. I...."


("Apa! Saya rasa, saya hanya ingin menjadi jasa panggilan saja. Saya ....")


"How about a salary of ten million per month! Let's just say that today you are having an interview with me,"


("Bagaimana dengan gaji sepuluh juta per bulan! Anggap saja hari ini kamu sedang tes wawancara denganku,") ucap Miki terus menatap Mona dengan tenang.


"Ten million? I think that's still not enough. Usually, I get more than that,"


("Se sepuluh juta? Saya rasa itu masih kurang. Biasanya, saya dapat gaji lebih besar dari itu,") jawab Mona ragu-ragu.


"Cih, you think I don't know how much your real salary is! Do you want it or not? Otherwise, today I won't pay you. And your perfume, I'll confiscate it,"


("Cih, kamu pikir aku tidak tau berapa gaji yang sebenarnya! Kamu mau atau tidak? Kalo tidak, hari ini aku tidak akan menggajimu. Dan parfum mu, aku sita.")


Miki beranjak dari kursinya. Ia berjalan menuju tempat kerja yang sengaja ia setel di pinggir jendela dengan pemandangan yang begitu memanjakan mata.


Mona membulat ketika mendengar kalimat dari Miki. Ia segera berjalan dengan tergesa, sehingga lulutnya membentur siku meja.


"Ahhh, sial!" gumam Mona sambil mengusap usap bagian yang sakit.


Miki tak mengindahkan kecelakaan tersebut. Ia hanya fokus dengan laptopnya.


Mona kemudian berdiri di sisi Miki.


"Master, do you intend to trick me? I will report you to..."


("Tuan, apa anda berniat untuk menipuku? Saya akan laporkan anda ke ....")


"What about you who make perfume at will without any procedures from the government? If I leak it, the impact will be very extraordinary for you. This is considered illegal, right?"

__ADS_1


("Bagaimana dengan kamu yang membuat parfum seenaknya tanpa prosedur dari pemerintah? Jika aku membocorkannya, imbasnya akan sangat luar biasa bagimu. Ini termasuk ilegal kan?") ucap Miki menyeringai.


Mona menelan salivanya sendiri. Jika itu terjadi, tentu saja ia akan di tahan. "Orang ini ternyata sangat berbahaya. Diam-diam dia menjebak ku. Apa yang sebenarnya dia inginkan!" gumam Mona dalam hatinya.


"Gadis ini sepertinya begitu bodoh. Mudah sekali untuk ditipu. Harusnya, jika ia terus terang, namanya akan gemilang. Dia bisa menjadi pengusaha sukses," batin Miki seraya menahan senyum.


"I just want you to be my personal assistant. Er, I mean to be a household assistant. I need someone to tidy up my apartment. I also need you to cook every day. If only my former assistant was still here, I also wouldn't make such a tempting offer for you,"


("Aku hanya ingin kamu menjadi asisten pribadiku. Eh, maksudku menjadi asisten rumah tangga. Aku butuh orang untuk membereskan apartemenku. Aku juga perlu kamu untuk masak setiap hari. Kalo saja asistenku yang dulu masih di sini, aku juga tidak akan memberi tawaran yang menggiurkan untukmu,") jawab Miki dengan tenang.


Mona kaget mendengar penjelasan Miki. Seakan-akan dia tahu isi kepala Mona.


Mona segera berlutut di sebelah Miki. Kepalanya menunduk tak berani menatap. "Baiklah Tuan, saya akan terima kontrak yang Tuan berikan. Mohon untuk tidak membocorkan rahasia parfum saya," ucap Mona.


"Gadis bodoh. Kamu itu sebenarnya lulusan apa!" Batin Miki.


Miki merogoh dompet dan memberikan uang sebesar 500 dolar kepada Mona. Mona yang masih menunduk kemudian mendongak karena melihat dolar di depan matanya.


"Master,"


"I have taken out everything in my wallet. If it's still lacking, I'll give it tomorrow. Take it,"


("Isi dompetku sudah aku keluarkan semua. Kalo masih kurang, aku akan memberikannya besok. Ambil lah,") ucap Miki.


Mona merasa terharu, dalam sehari ia diberi 500 dolar adalah suatu anugerah. Belum pernah ia diberi uang sebanyak itu dalam sehari. Mona segera menerimanya dengan perasaan terharu. Untung lah, dia ada uang untuk membayar kontrakan kecil yang sangat pengap itu.


"Thank you, sir. You are very kind, willing to give me this much money in one day,"


("Te terimakasih, Tuan. Anda sangat baik, mau memberi saya uang sebesar ini dalam sehari saja,")


"That's because your work is really satisfying. Next time I won't give you that much money. By the way, where are you from?"


("Itu karena kerjamu benar-benar memuaskan. Lain kali aku tidak akan memberimu uang sebanyak itu. Oh iya, ngomong-ngomong kamu berasal darimana?") tanya Miki.


"I'm, I come from Indonesia,"

__ADS_1


("Sa sa saya, saya berasal dari Indonesia,") jawab Mona sembari memasukkan uangnya ke dalam saku celana. Celananya kini begitu penuh depan belakang.


"Indonesia?" Miki kaget namun juga sangat senang mendengarnya.


"Yes. Do you also come from the same country as me?"


("Iya. Apa Tuan juga berasal dari negara yang sama dengan saya?")


"Eghm. Aku bisa berbahasa Indonesia. Kalo begitu kita ngobrol dengan bahasa Indonesia saja,"


Mona tersenyum dengan sangat manis ketika mengetahui Miki bisa berbicara bahasa Indonesia. Rasanya begitu bahagia jika hidup di negeri orang, bisa bertemu dengan orang yang berasal dari negara yang sama.


Miki ikut tersenyum melihat Mona. "Kamu tinggal dimana?"


"Tuan, apakah Tuan orang Indonesia?" tanya Mona sekali lagi dengan penuh semangat.


Miki menghela nafas sambil memperhatikan Mona. "Gadis ini begitu bahagia jika dia tau aku orang Indonesia," ucap Miki dalam hatinya.


"Iya. Kenapa?" tanya Miki.


"Alhamdulillah. Saya merasa sangat senang bisa bertemu dengan saudara sendiri," ucap Mona sembari mendekat.


Kini, Miki bisa melihat Mona dengan sangat jelas dan dekat.


"Saudara? Sejak kapan ibuku melahirkanmu? Tolong agak menjauh dariku," ucap Miki memberi isyarat dengan tangannya.


Mona tersenyum lalu mundur. "Maaf Tuan, maksudku bukan saudara seperti itu. Tuan, siapa nama anda?"


"Kenapa baru sekarang kamu menanyakan namaku? Kenapa tidak tahun depan saja." ucap Miki kesal.


"Maafkan saya, Tuan. Saya mungkin kurang sopan. Tapi, saya benar-benar bahagia dan bersyukur bisa bertemu dengan Tuan. Setelah melihat pekerjaan Tuan, dan kemampuan Tuan menggaji saya, saya berasumsi jika Tuan bukanlah orang sembarangan. Saya ...."


"Ada sesuatu yang ingin kamu inginkan dariku? Apa itu!"


"Ya ampun, Tuan adalah orang yang pandai menebak. Tuan, saya minta tolong untuk membuatkan saya paspor dan visa baru untuk saya. Apakah ...."

__ADS_1


"Apaaaa! Apa maksudmu? Apakah paspor dan visa mu hilang?" tanya Miki kaget setengah mati.


__ADS_2