Menikah Karena Tradisi

Menikah Karena Tradisi
Titip Hana


__ADS_3

Hasan menyetir sambil sesekali melirik Miki yang terus tersenyum sendiri. "Kamu kenapa senyum-senyum sendiri, Bang?" tanya Hasan yang tidak tahan dengan sikap Miki.


"Kenapa?" tanya Miki membalik pertanyaan Hasan.


"Hana, kamu suka sama kalung yang Kakak kasih gak?" tanya Miki tiba-tiba sambil melongok ke bangku belakang.


Mendengar pertanyaan Miki, Hana jadi gugup. Hana melihat ekspresi Hasan dari spion tengah. Tampak raut wajah Hasan yang cemburu dengan mata tajamnya.


"Em, su-suka kok, Kak! Makasih yah," jawab Hana sekenanya, membuat Hasan lebih cemburu lagi, Hasan menambah kecepatan mobilnya agar cepat sampai di bandara. Hampir saja Hana terjerembab ke depan jika ia tak berpegangan kuat. Sebab, Hasan menancap pedal gas secara tiba-tiba.


"Pelan-pelan aja, Leo! Hana hampir saja terjatuh loh," tutur Miki melirik Hasan.


Hasan tidak menjawab kalimat Miki. Beberapa menit kemudian dengan kemudi cepat, mereka sampai di bandara. Hasan dan Hana mengantar sampai ke boarding pass. "Terimakasih yah kalian sudah anterin aku. Semangat buat sekolah kalian ... Leo, jangan macem-macem dulu sama Hana. Kalian masih pelajar. Study kalian masih sangat panjang. Fokus belajar aja yah," Miki mengacak rambut Hasan, dan berganti mengacak rambut Hana. Hana tersenyum menanggapi kalimat Miki.

__ADS_1


"Kamu gak usah ingetin aku soal itu, Bang. Lagi pula, aku mau ngapain aja sama Hana, sah-sah aja. Toh dia istri aku. Tujuan nikah ini kan supaya kalo kita khilaf, kita nglakuin itu sama pasangan kita," jawab Hasan dengan santai.


"Kamu kalo dibilangin nurut aja. Jangan bawel. Kakak gak mau Hana putus sekolah gara-gara kamu," Miki menjentikkan jarinya ke dahi Hasan.


"Ahhh!" Hasan mengaduh sambil meraba dahinya.


Hana hanya tersenyum melihat tingkah kakak beradik tersebut.


"Ya sudah, aku masuk dulu yah. Kalian baliknya hati-hati," Miki memeluk Hasan sambil menepuk lembut punggung Hasan.


Miki melepaskan pelukannya dari Hasan. Dan ia berjalan mendekati Hana. Hana tersenyum memandang Miki. Dengan senyuman yang begitu manis dan menahan rasa sesak di hatinya, Miki memeluk Hana dengan erat. Hana hanya bisa pasrah sambil sesekali melirik Hasan yang menahan emosi. Kalo saja ini bukan perpisahan mereka, Hasan pasti akan menghajar Abangnya.


"Aku masih menunggu kamu. Jangan lupain aku, Hana. Aku masih sayang sama kamu. Aku akan selalu merindukanmu," Miki berbisik di telinga Hana, yang membuat Hana sedikit kaget dengan ucapan Miki. Perlahan, Miki melepaskan pelukannya, dan tanpa terlihat oleh Hasan, Miki mencium pipi kiri Hana sebelum ia benar-benar melepaskan pelukannya. Mata Hana membulat ketika Miki melakukan hal itu. Jantungnya kembali berdebar. Tubuhnya terasa kaku memandangi wajah Miki yang tak kalah tampan dengan suaminya. Perlahan memori-memori masa lalunya bersama Miki muncul kembali dalam ingatannya.

__ADS_1


Miki tersenyum dan mencubit hidung mancung Hana. "Kamu bikin aku gemes tau gak. Kakak pamit dulu yah, baik-baik di sini," ujar Miki.


"Udah sana buruan masuk. Segera punya pacar dan menikah. Biar kamu gak iri sama aku," Hasan menarik Hana dan merangkulnya dengan erat.


Miki menyunggingkan senyum tipisnya. Lalu ia mulai berjalan maju meninggalkan kedua adiknya yang mematung menatap kepergian dirinya. Miki melambaikan tangan kanannya.


Hasan melirik Hana yang fokus memandangi kepergian Miki. Hasan mencubit hidung Hana, hingga Hana mengaduh.


"Fokus banget liatnya. Kamu gak rela ditinggal Abang?" tanya Hasan dengan wajah cemburunya.


"Ih, apaan sih kamu. Udah ayo buruan pulang," Hana melepaskan rangkulan Hasan dan berjalan mendahului suaminya.


Hasan menghela nafas kemudian berlari mengejar Hana dan meraih tangannya. Hasan menggandeng Hana dengan begitu mesra. Mereka kemudian masuk ke dalam mobil dan pergi dari bandara.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, terdengar pesawat lepas landas. Hana bisa mendengar suara pesawat yang akan terbang mengudara di langit. Ia sedikit membungkuk untuk melihat pesawat tersebut. Hasan hanya diam memperhatikan Hana.


__ADS_2