
Hasan sudah sampai di rumah. Ia merebahkan tubuhnya di atas sofa. Wajahnya terus memancarkan senyuman.
"Ternyata, aku sama Hana, sebelas dua belas ... Nanti sore, mobil itu datang. Hana pasti seneng banget deh! Aku telpon dia ahh,"
Hasan bangun dari rebahannya. Ia mengambil hape dan mulai mencari kontak Hana. Belum sempat memanggil, Hana sudah lebih dulu menelpon.
Hasan mengembangkan senyuman ketika nama Hana tertera di layar hapenya.
"Hallo," jawab Hasan sambil tersenyum dan merebahkan tubuhnya lagi di sofa.
"Kamu udah sampai belom? Nanti jemput aku yah, kalo kamu udah gak cape," ucap Hana dari dalam telepon.
"Jemput sekarang aja yah, sekalian nyari makan di luar," ujar Hasan.
"Makan di rumah Mamah aja. Ada ayam goreng nih. Aku juga lagi makan," ujar Hana.
"Ntar aja deh, aku mau tidur bentar. Mamah lagi ngapain?"
"Mamah ke kantor. Tadi aku turun di tengah jalan,"
"Hah! Terus kamu ke rumah naik apa?" tanya Hasan bangkit kembali dari rebahannya.
"Em, naik taxi. Aku mau nerusin makan dulu, kamu kalo mau tidur, tidur aja yah! Ntar aku tungguin di rumah,"
"Aku langsung otw aja deh sekarang,"
Hasan memutus teleponnya, dan langsung bergegas keluar menyalakan motor. Tanpa menggunakan helm dan juga jaket, Hasan pergi ke rumah Bu Darma.
"Katanya ma-u ti-dur ... Udah dimatiin aja nih," ujar Hana kemudian meletakan hapenya di atas meja.
Hana melanjutkan aktifitas makannya.
***
"Yah, dengan bisnis ini, semoga perusahaan bapak bisa makin maju yah," ujar Bagaskara kepada Darmawan.
"Iya, terimakasih, Pak! Saya gak menyangka loh, bisa berbisnis dengan perusahaan bapak. Saya memang ada rencana ingin meluncurkan produk baru. Dan kebetulan sekali, bahan dasar yang saya butuhkan sangat susah untuk didapatkan. Berkat Pak Bagas, kesulitan saya teratasi. Terimakasih, Pak! Sudah mau bekerja sama dengan perusahaan saya," ucap Pak Darmawan dengan ramah.
"Sama-sama, Pak! Yah, Pak Darmawan kan tau sendiri, tanaman herbal saya, terbesar di asia. Jadi, semua yang bapak butuhkan, ada pada saya," tutur Bagaskara merasa bangga.
"Ya ya, saya akui itu. Makanya, saya tidak menyangka kalo saya bisa berbisnis dengan anda, Pak Bagas,"
Darma dan Bagas, berbincang sambil berjalan menuju kantin kantor yang berada di bawah.
__ADS_1
Bu Darma memarkir mobilnya di depan, setelah itu ia langsung menuju kantin untuk menemui rekan bisnis baru suaminya.
Bu Bagas yang sedari tadi diam dan tersenyum meminta izin ke toilet lebih dahulu.
Makanan terbaik telah dihidangkan di atas meja.
"Silahkan dinikmati, Pak! Yah, tidak semewah di tempat anda," ucap Pak Darma mempersilahkan.
"Ah, tidak juga. Saya juga tidak terlalu suka kemewahan. Lebih enak hidup sederhana sebenarnya. Tapi terkadang, kita juga perlu menyombongkan sedikit apa yang kita punya. Betul begitu, Pak Darmawan?" Tanya Pak Bagas.
"Yah benar, Pak!" jawab Darmawan sambil tertawa.
"Ngomong-ngomong, dimana istrimu? Kenapa belum sampai juga. Istri saya perlu teman untuk mengobrol. Dia tidak biasa mengobrol dengan laki-laki. Sedikit kaku, jadi perlu teman wanita,"
"Em, mungkin sebentar lagi, Pak! Nah, itu dia!"
Darmawan melambaikan tangan ke arah Bu Darma yang tengah berjalan ke arahnya. Bagaskara yang membelakangi, memutar tubuh untuk dapat melihat istri Darmawan yang tengah berjalan itu.
Bagaskara seketika merubah mimik wajahnya. Jantungnya berdebar ketika melihat Bu Darma datang dengan senyuman yang mempesona.
"Lita!" gumam Bagas dalam hatinya.
Bu Darma menyalami suaminya sambil tersenyum. Bu Darma kemudian hendak menjabat tangan Bagas. Namun, ekspresi wajahnya juga berubah ketika melihat laki-laki yang kini tengah duduk di depan suaminya.
Bagas tersenyum sambil mengangguk dan mengulurkan tangan. Bu Darma menjabatnya perlahan.
"Oh, iya!" jawab Bu Darma sedikit gugup kemudian duduk di samping suaminya.
Bu Bagas kemudian muncul dan segera menghambur, menjabat Bu Darma.
"Wah, cantik yah istri, Pak Darmawan!" puji Bu Bagas.
"Ah, bisa saja Bu Bagas! Mari dinikmati hidangannya," ucap Pak Darmawan.
Mereka kemudian menikmati hidangan tersebut sambil sesekali mengobrol ringan.
Bagaskara mencuri pandang kepada Bu Darmawan.
"Semakin tua, pesonamu semakin terlihat, Lita!" ucap Bagas dalam hatinya.
"Kenapa, setelah bertahun-tahun aku melupakannya, dia malah muncul kembali!" ucap Lita dalam hatinya.
"Bu Darma, anak ibu sekarang usia berapa?" tanya Bu Bagas.
__ADS_1
"Oh, sudah 17 tahun, kelas dua SMK sekarang," jawab Bu Darma sambil tersenyum.
"Oh, sudah besar yah! Ngomong-ngomong, anak kalian, wanita atau laki-laki?" tanya Bu Bagas lagi kepada Bu Darma dan Pak Darma.
"Anak kami perempuan, Bu!" jawab Pak Darma diiringi senyuman.
"Wah, kebetulan sekali. Ngomong-ngomong, anak saya laki-laki. Kalo saya jodohkan dengan anak kalian, bagaimana?" tanya Bu Bagas sambil tersenyum.
Bu Darma dan Pak Darma saling berpandangan, mereka bingung harus menjawab apa. Anak mereka kini sudah menjadi istri orang dan mereka sangat menyayangi menantunya itu. Tidak mungkin mereka berdua menerima tawaran dari Bu Bagas.
"Yah, supaya bisnis kita bisa berjalan lebih lancar, sepertinya saya setuju kalo anak kita dijodohkan, bukan begitu, Bu Darma?" tanya Bu Bagas sambil memandang Bu Darma.
"Aku tau, kamu pasti masih mencintaiku kan, Lita?" Bagas berkata dalam hatinya.
"Apa maksud Bagas, mengatakan hal itu," ucap Lita dalam hatinya.
"Ah, biarlah anak kami fokus sekolah dulu. Kami belum tidak berfikiran ke arah sana," ujar Pak Darma sambil tersenyum.
"Kita bisa mentunangkan mereka terlebih dahulu, Pak Darma," sambung Bagas.
"Mereka masih terlalu dini untuk kita jodohkan. Biarlah masalah jodoh itu, Alloh yang atur ya, Pak Bagas, Bu Bagas," jawab Bu Darma diiringi senyuman.
"Dasar munafik! Kamu sendiri sejak usia dini diam-diam sudah menikah. Kamu mencampakkan aku begitu saja!" ujar Bagas dalam hatinya.
Ekspresi Bagas menyeringai ketika menatap Bu Darma yang kini tengah melihatnya. Bu Darma merasakan ada aura kebencian dari wajah Bagas.
"Semoga dengan masuknya Bagas, dalam bisnis suamiku, tidak ada hal buruk yang terjadi ya Robb," gumam Bu Darma dalam hatinya.
"Kapan-kapan, boleh lah kita kenalkan anak kita masing-masing, Bu!" ucap Bu Bagas sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
Pak Darmawan dan Bu Darmawan saling memandang dan tersenyum. Mereka tidak menjawab lagi pertanyaan dari Bu Bagas.
"Maaf saya ijin ke toilet dulu yah," Bu Darma berdiri dan menuju toilet.
Tak berapa lama dari kepergian Bu Darma, Bagaskara juga meminta ijin untuk ke toilet.
Bukan tanpa tujuan, Bagas ingin menemui Bu Darma yang tak lain adalah mantan pacarnya dulu. Mati-matian, Bagas mencoba untuk melupakan Lita, yang sekarang sudah menjadi nyonya Darmawan. Setelah bertahun-tahun lamanya, akhirnya Bagas bisa berjumpa lagi dengan Lita.
Bagas menunggu kemunculan Lita, di bawah papan simbol WC.
Bu Darma yang sudah selesai dengan urusannya segera keluar. Ia terkejut ketika ada seseorang yang menarik tangannya. Lita lebih kaget lagi ketika mengetahui seseorang yang menariknya itu adalah Bagaskara.
Dengan mata membulat, Lita mencoba untuk melepaskan diri yang sekarang sudah dalam dekapan Bagaskara.
__ADS_1
"Bagas! Apa-apaan kamu! Lepasin aku!" ucap Lita penuh penekanan.
Bagas tersenyum menyeringai sambil menatap lekat wajah Lita.