
Sebelum subuh, Hasan sudah bangun terlebih dulu. Ia memandangi wajah Hana dengan jarak hanya satu jengkal. Dia mengamati segala bentuk wajah Hana. Mulai dari alis, mata, hidung, pipi, bibir, dan dagunya. Hasan mencium kening Hana sebelum memutuskan untuk bangun. Lengannya terasa pegal karena menumpu kepala Hana.
"Pegal sekali," gumam Hasan. Hasan kemudian bergegas masuk ke toilet untuk menyegarkan badan. Setelah berganti pakaian, Hasan kemudian sholat subuh. Setelahnya, ia mengganti bajunya dengan seragam sekolah.
"Hana masih pulas, ini kesempatan bagus," ujar Hasan kemudian bergegas masuk ke dalam kamar Hana dan mengutak atik hape Hana. Ia tercengang, sebab banyak chat antara dia dengan Raja. Bahkan, ada beberapa panggilan. Dari nomor baru juga banyak. Dan juga, Miki.
Hasan meremas hape Hana dengan kuat hingga casingnya berbunyi gemeretak. "Sabar, Hasan. Sabar!"
Hasan menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Ia meletakkan kembali hape Hana di atas meja belajar. Setelah itu, ia keluar dan menghubungi seseorang. "Jam segini, apa dia belum bangun juga! Memangnya tidak sholat apa! Ahhh, percuma. Aku chat aja kalo gitu," ungkap Hasan kemudian mengetik sebuah pesan.
"Jam tiga sore, aku tunggu kamu di alun-alun. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan. Hasan." isi pesan Hasan untuk Raja.
"Sepertinya, aku harus berdamai dengan dia," gumam Hasan lagi. Ia kemudian kembali ke kamarnya dan membangunkan Hana.
"Hana, bangun! Hana, bangun. Udah subuh," Hasan mengelus pipi Hana dengan lembut.
Karena tak kunjung bangun, Hasan kemudian mencubit hidung Hana. Hana yang tidak bisa bernafas kemudian membuka matanya dan tersengal. "Hasan ...."
"Akhirnya, bangun juga!" ucap Hasan seraya tersenyum lalu mengelus hidung Hana yang merah akibat perbuatannya.
"Kamu kok udah pake seragam. Jam berapa ini?" tanya Hana sambil mengucek matanya.
"udah jam lima kurang. Kamu buruan mandi, wudhu, terus sholat. Aku yang nyiapin sarapan," tutur Hasan.
Hana dengan cepat bangkit lalu memegangi kepalanya yang sedikit pening. Apa yang ia lihat terlihat berputar-putar. "Kok kamu gak bangunin aku jam empat sih," tutur Hana seraya memegangi kepalanya.
"Kamu kenapa? Kepala kamu sakit?" tanya Hasan mendekatkan tubuhnya kepada Hana, seraya ikut memegang kepala Hana.
"Gak panas kok. Ada apa?" tanya Hasan.
"Gak tau, tiba-tiba aja pusing. Semua barang berputar putar," tutur Hana.
"Coba kamu berbaring lagi," ucap Hasan panik.
Hana mencoba untuk merebahkan tubuhnya kembali di atas kasur. Akan tetapi, semua yang ia lihat tampak lebih cepat berputar jika ia merebahkan tubuh. Akibat hal tersebut, perutnya sekarang mulai mual. Hana kemudian bangkit segera berjalan. Hampir ia menabrak tembok jika Hasan tidak sigap menarik Hana.
__ADS_1
"Hana, hati-hati. Kamu sakit. Kamu istirahat aja," tutur Hasan bertambah panik.
"Kalo aku tiduran, aku tambah pusing, San. Sekarang aku pengin muntah," ujar Hana.
"Biar aku antar, ayo!"
Hasan menitah Hana ke dalam toilet. Hana mengeluarkan semua isi dalam perutnya. Kepalanya benar-benar pusing. "Aku akan buatkan teh hangat. Kamu udah gak mual lagi, kan?" tanya Hasan begitu khawatir. Hana menggelengkan kepalanya. Hasan lalu menitahnya keluar dan mendudukkan Hana di sofa. "Tunggu sebentar yah," Hasan berlari ke dapur dan segera menyeduh teh hangat. Tak lupa, ia membuat roti bakar untuk sarapan Hana.
Hasan berlari, dan duduk di samping Hana, yang tengah memegangi kepalanya.
"Ini, minum dulu," ucap Hasan seraya membantu Hana untuk minum.
"Kepala kamu masih pusing? Aku pijit sini," Hasan memijat pelan kepala Hana.
"Udah gak terlalu. Tapi aku enek. Lemes banget, San," keluh Hana.
"Aduh, kamu kenapa sebenernya? Gak usah masuk deh kalo gitu. Hari ini, kita ijin berdua,"
"Gak boleh. Kamu harus tetap berangkat sekolah. Aku gak papa kok. Udah sembuh juga,"
"Gak usah lah, kepalaku udah gak pusing,"
"Perut kamu gimana?"
"Masih sedikit mual. Mungkin efek tadi, pas liat apa-apa kayak muter cepet banget gitu. Jadi akunya kaya orang mabok," terang Hana.
"Ya udah kalo gitu kamu sarapan dulu, aku suapin," Hasan memotong roti dan menyuapkannya kepada Hana. Terlihat sangat jelas raut wajahnya penuh rasa khawatir.
"Kamu juga ikut sarapan. Kamu kan harus sekolah," tutur Hana.
"Aku akan minta ijin hari ini. Kita gak akan masuk. Aku mau nemenin kamu aja," ujar Hasan.
"Nggak, nggak. Kamu harus berangkat sekolah. Jangan pernah absen kalo gak ada masalah,"
"Kamu masalah aku. Kamu sakit dan gak ada yang jagain. Aku udah putusin, pokoknya kita berdua gak berangkat hari ini. Nanti, biar aku kabarin Mamah tentang hal ini,"
__ADS_1
"Nanti mamah khawatir, San. Jangan kasih tau mereka. Udah, kamu berangkat aja. Aku beneran udah enakan kok," tutur Hana.
"Bener udah enakan?"
"Bener. Aku udah enakan. Kamu lebih baik berangkat sekolah. Maaf yah, aku gak bikinin sarapan. Makasih udah perhatian sama aku," ucap Hana.
"Wajahnya pucat gini. Mana bisa tenang kalo ditinggal sendirian." Batin Hasan.
"Kita pergi ke rumah sakit sekarang. Tunggu, aku ganti baju dulu yah," ujar Hasan kemudian menyandarkan Hana di sofa. Ia bangkit dan segera masuk ke dalam kamarnya.
"Hasan, gak usah. Kamu berangkat sekolah aja!" Seru Hana.
Hasan sama sekali tak mengindahkan keinginan Hana. Ia kemudian menelpon Damar. Hasan berharap, Damar bisa menjaga rahasia dan mau menolongnya.
"Hallo, syukurlah, kamu udah bangun ... Aku mau minta tolong,"
"Minta tolong apa?" tanya Damar dari seberang sana.
"Tolong ijinin aku sama Hana. Hari ini kita gak masuk sebab, kita sakit,"
"Kok bisa barengan. Emangnya sakit apa? Dan kenapa kalian bisa ...."
"Pusing, jalan aja gak ada tenaga. Pokoknya gimana cara kamu, intinya, aku sama Hana, hari ini gak masuk sekolah. Kamu harus ijinin kita berdua. Oke,"
Dari rumahnya sana, Damar menyunggingkan senyum. "Ada apa sebenernya? Aku tau, ada sesuatu diantara kalian. Beritahu aku sebenarnya kalo kamu mau, aku membantumu," ujar Damar mencoba mengancam Hasan.
"Kalo kamu tidak mau membantu ya sudah. Aku minta bantuan orang lain saja,"
"Kamu pikir, orang lain mau bantu kamu. Udah, kasih tau aku sebenernya. Kenapa kalian berdua bisa sakit. Dan kenapa harus kamu yang memberitahu kalo Hana juga sakit. Apa kalian sekarang sedang berdua?"
"Iya, kami memang tengah bersama karena sedang berada di rumah sakit. Aku gak mau tau, pokoknya kamu harus ijinkan kita berdua,"
"Tunggu! Kalian sakit apa?"
"Aku sudah bilang, pusing. Bilang saja, sakit kepala. Sudah jangan banyak nanya lagi. Kalo ada pekerjaan rumah, tolong kabari aku segera," Hasan memutus panggilannya lalu bergegas mengganti pakaian.
__ADS_1
"Cih, ada apa dengan mereka! Mencurigakan. Dari dulu, tingkah Hasan selalu aneh sama Hana. Mereka juga datang ke sekolah selalu pagi buta," Damar berkata sendiri sembari memainkan hapenya.