Menikah Karena Tradisi

Menikah Karena Tradisi
34. Macam Detektif Saja


__ADS_3

"Ngomong-ngomong, kapan kita mulai garap PR dari Pak Mardi!" tanya Damar.


"Nunggu, Hana sembuh dulu aja, Dam, ntar kita bicarain lagi," sambung Yusi.


"Setuju sama usul, Yusi," sahut Hasan dengan cepat.


"Han, sekarang apa yang kamu rasain?" tanya Damar.


"Pusing aja sih, Dam! Tapi, besok aku udah enakan koq," jawab Hana diiringi senyuman.


"Oh, iya udah, kita bahas besok aja sekarang kita pulang. Hana, kamu dianterin ...."


"Hana pulang sama aku, Dam, mendingan kamu anterin, Yusi deh," ucap Hasan memotong kalimat Damar.


"Semangat banget kamu mau nganterin, Hana," tutur Dimas sambil melipat tangan.


"Biasa aja! Kan aku tau, kamu lagi pdkt sama, Yusi. Jadi, aku saranin kamu buat anterin dia," ucap Hasan mencari alasan.


"Aku bisa pulang sendiri koq," timpal Yusi.


"Jangan, Yus! Ntar kalo di jalan ada apa-apa gimana?" Hana melarang Yusi untuk pulang sendiri.


"Damar mau nganterin kamu koq, Yus. Iya gak, Dam?" tanya Hasan sambil merangkul pundak Damar penuh kemenangan.


Dengan senyuman yang dipaksakan, Damar menganggukan kepalanya tanda setuju. Damar merasa tidak enak jika harus menolak. Dengan sedikit kesal, Damar mencoba berkata,


"Iya, Yus, pokoknya, aku anterin pulangnya, biar selamat sampe tujuan," jawab Damar diiringi senyuman.


"Gak ngrepotin nih, aku dianterin kamu?" tanya Yusi.


"Gak papa lah, Yus. Kan sekalian PDKT," jawab Hasan sambil terkekeh.


Damar melotot ke arah Hasan. "Sialan si, Hasan," ucap Damar dalam hatinya.


"Ya udah kalo gitu, aku tunggu di depan aja ya, Dam," kata Yusi tersenyum malu.


"Oke," jawab Damar.


Yusi kemudian meninggalkan UKS terlebih dulu, dan menunggu Damar di depan sekolah.


"Han, aku pulang dulu yah, kamu langsung istirahat kalo udah sampe rumah ... eh, Hasan! awas kalo kamu macem-macem sama, Hana, aku bakal bikin perhitungan sama kamu," ujar Damar dengan tatapan mengawasi.


"Siaappp, Boz!" Hasan memberi hormat.


Damar berjalan mendekat ke arah Hana. Ia meremas tangan Hana dengan tatapan penuh kasih sayang. Hal itu sengaja ia lakukan karena ingin tau reaksi Hasan.

__ADS_1


"Hana, cepat sembuh yah," ucap Damar sambil mengelus puncak kepala Hana.


"Eghm! Eghm!" Hasan berdehem.


Hana dan Damar melirik ke arah Hasan yang terlihat membuang muka.


Damar tersenyum menyeringai.


"Kalo ada apa-apa, kabarin aku ya, Han!" ujar Damar lagi sambil membelai rambut Hana.


"Iya makasih ya, Damar? Dam, aku harap, kamu serius sama, Yusi, jangan main-main dengan perasaannya," kata Hana sambil menatap lekat mata Damar.


Damar menghela nafas. Sebenarnya, dia hanya ingin main-main saja, tetapi, orang yang ia suka, justru menyuruhnya untuk mencintai wanita lain. Sakit rasanya.


"Kamu tenang aja, asal kamu bahagia, apapun akan aku lakuin Han," ucap Damar dalam hatinya diiringi senyuman.


Hasan kesal melihat adegan Damar dan Hana yang manis. Hasan beberapa kali menggeram.


Damar melirik Hasan dan berkata dalam hatinya. "Kalo kamu cemburu, udah pasti kamu suka sama Hana, San! Aku bakalan panas-panasin kamu terus,"


"Iya udah aku pulang dulu," ucap Damar.


"Hati-hati, Dam," kata Hana.


Damar lalu pergi dari UKS menuju parkiran untuk mengambil motornya. Hasan tiba-tiba teringat suatu hal, lalu ia segera menyusul Damar di parkiran.


"Damar! Woy! Tunggu!" Hasan berteriak Damar pun berhenti.


"Ada apa? Kamu mau ngajak aku debat, gara-gara aku mesra sama Hana? Hayo jujur, kamu suka sama, Hana, kan?" tanya Damar menyelidik.


"Ehhh, jangan ngawur kalo ngomong!" ucap Hasan sambil menarik rambut Damar.


"Aw, sakit tau!" rintih Damar sambil memegangi kepalanya.


"Makanya jadi orang jangan sok tau! Emangnya kamu tau isi pikiran aku apa! Nebak-nebak gitu," kata Hasan sambil melipat tangannya.


"Terus kamu ke sini mau apa!" tanya Damar masih mengusap rambut yang ditarik Hasan.


"Aku mau nanya, tadi pas kamu di alun-alun nanya orang yang nendang bola, jawabanya apa, Dam?"


"Oh, katanya gak sengaja, Dam. Dia mau nendang ke gawang tapi meleset, terus kena Hana, deh,"


"Gitu yah, tapi koq, aku ngrasa aneh ya, Dam!" ucap Hasan sambil mengelus dagunya.


"Aneh kenapa, San?"

__ADS_1


"Kamu inget-inget deh, posisi gawang sama jarak tempat kita lari lumayan jauh loh, Dam! Iya kan?" terang Hasan.


Damar mencoba untuk mengingat denah lokasi di lapangan tadi sambil memejamkan matanya. Hasan memperhatikan Damar yang terkesan lebay, sambil menyunggingkan senyuman.


"Iya iya bener, San! Gawangnya ada di sebelah kiri, jaraknya lumayan jauh sama kita. Sedangkan posisi kita ada di sebelah kanan, tapi bola bisa melesat jauh gitu, bisa belok ya?" tutur Damar sambil menatap Hasan.


"Sayangnya aku gak liat dari arah mana bola itu di tendang. Aku pikir ada unsur kesengajaan di sini, Dam!"


"Tapi kenapa bisa sengaja, San? Dan targetnya, Hana. Hana gak ada yang kenal sama anak-anak BK 1,"


"Hana mungkin gak kenal sama mereka, Dam! Tapi, mereka yang kenal sama Hana. Orang seperti Hana, pasti banyak penggemarnya, atau sebaliknya," tutur Hasan menyimpulkan.


"Aduh, kamu itu kenapa sih, apa-apa yang berbau, Hana, pikiran kamu tajem banget, langsung kemana-mana. Aku aja gak nyampe situ mikirnya. Kamu khawatir banget sama dia? Udah kayak detektif aja kamu, jujur deh sama aku, kamu suka kan sama, Hana!" Damar mencerca Hasan dengan serius.


"Aku tuh lagi ngajakin kamu diskusi masalah ini, masalah tendangan bola! Bukan buat nyimpulin isi pikiran kamu ke aku, gimana sih!"


"Abisnya kamu tuh aneh, aku aja gak mikir sampe situ, pikiranmu traveling ke mana-mana," jawab Damar kezel.


"Hah sudah lah, kamu lebih baik cabut sono, kasian, Yusi udah nungguin di depan. Lama-lama males, aku ngomong sama kamu," tutur Hasan tak kalah kesal.


"Lagian kamu aneh! Kalo ada yang mau kamu tanyain lagi, chat aku aja," ucap Damar kemudian menaiki sepeda motornya dan siap untuk pergi.


Hasan tidak menjawab kalimat Damar. Ia kemudian masuk kembali ke UKS menemui Hana.


Melihat Hana yang sudah selesai beres-beres dan menggendong tasnya, Hasan segera berlari dan mendekati Hana.


"Aduh, kamu tuh masih sakit, kenapa beres-beres! Sini tasnya, aku yang bawa aja! Seragamnya, ntar aku yang cuci," ucap Hasan sambil merebut tas yang di gendong Hana.


"Aku udah gak papa koq, San! Kamu jangan berlebihan gitu deh," ucap Hana merasa tidak enak.


"Gak papa gimana, wajahmu pucet tau," ucap Hasan menunjuk wajah Hana.


Hana meraba wajahnya sendiri.


"Aku pucet karna laper, belom makan," jawab Hana.


"Astahgfirulloh! Iya aku lupa, tadi istirahat kan kamu masih pingsan ... Tapi, aku juga belom makan koq, kalo gitu ntar kita mampir dulu beli makanan yah, kamu mau makan apa?" tanya Hasan diiringi senyuman.


"Emm, aku sebenernya pengin cepet-cepet pulang, San, pengin rebahan di kamar, sambil lihat ikan. Kayaknya bisa relax gitu. Gimana kalo delivery aja," Hana memberikan usul.


"Oke deh, let's go ... Pelan-pelan yah," ucap Hasan.


"Makasih ya, San!" ucap Hana diiringi senyuman.


"Sama-sama, kan sekarang kamu udah jadi tanggung jawab aku. Gak usah ngrasa sungkan gitu lah,"

__ADS_1


Hana tersenyum membalas kalimat Hasan. Mereka kemudian meninggalkan sekolah langsung menuju rumah.


__ADS_2