
"Han, ada apa sih sebenernya?" tanya Damar cemas.
"Iya, Han. Kita pengin tau! Dan kita akan bantu kamu nyelesain masalah ini," ucap Yusi merangkul pundak Hana.
"Gak apa-apa, kita ke kelas aja yuk!" Hana berjalan lebih dahulu dengan perasaan kesal, sedih, bercampur jadi satu.
Damar dan Yusi saling memandang, kemudian berjalan menyusul Hana.
Hasan yang memperhatikan dari jauh, dari lantai atas, mencoba untuk berasumsi sendiri.
"Apakah yang dibilang Cantika, itu bener?" ucap Hasan dalam hatinya.
Setibanya di kelas, Yusi dan Damar kembali menanyakan masalah yang terjadi di kantin kepada, Hana.
"Sekarang kamu jelasin ke kita Han, ada apa sebenernya! Kenapa Cantika bisa bicara seperti itu? Dan membuat Kak Samuel marah," kata Yusi masih penasaran.
"Ini masalah sepele sebenernya, cuman gara-gara Cantika, masalah ini jadi rumit, dan Kak Samuel marah sama aku, Dam, Yus!" Hana berkata dengan mata yang berkaca-kaca.
"Gimana nih, dari dulu, aku sekolah, aku gak pernah cari masalah. Aku pengin seperti murid yang lain, biasa aja gitu, bisa sekolah dengan tenang, tanpa punya musuh. Tapi kenapa! Masalah selalu mencari aku! Dan setiap masalah yang aku hadapi, pasti ada kaitanya dengan Cantika. Kamu tau persis gimana aku dulu kan, Dam!" Hana menitikan air matanya.
Air mata yang ia tahan, akhirnya runtuh juga. Ia merasa takut jika punya musuh. Ia tak ingin hidupnya dipenuhi oleh masalah yang tidak penting. Apalagi, dia baru saja mendengar berita tentang tradisi perjodohan dalam keluarganya. Eh malah ditambah lagi dengan kemarahan Samuel pada dirinya. Apalagi kata-kata Samuel mampu meruntuhkan hatinya. Hana tidak punya kesempatan untuk menjelaskan. Yusi memeluk Hana sebentar. Kemudian ia mengelus pundak Hana.
"Iya, Han. Aku tau kamu dari dulu gak punya masalah sama siapapun. Tapi, Cantika selalu mengadu domba kamu. Cantika sejak dulu emang selalu iri sama kamu. Sehingga dia selalu memfitnah kamu. Kamu yang sabar yah. Gak usah dipikirin omongan Cantika. Aku heran kenapa Cantika bisa satu sekolah sama kita, bahkan sekarang kita satu kelas sama dia," ucap Damar ikut merasakan sedih melihat Hana yang menangis.
"Jadi, Cantika dari SMP emang musuh kamu, Han?" tanya Yusi sambil memandang Hana.
"Yus, aku gak pernah nganggep siapapun musuh! Bahkan Cantika sekalipun, aku selalu anggep dia temen," tutur Hana sambil mengusap air matanya.
"Aku selalu anggep dia temen, tapi aku gak tau kenapa dia itu suka banget mitnah aku. Padahal dari dulu aku selalu baikin dia, dan aku selalu menghindari dia jika dia cari masalah sama aku," ucap Hana sedih.
__ADS_1
"Hana, ini bukan salah kamu koq, ini hanya salah paham aja. Dan Cantika membumbuinya dengan sangat berlebihan. Liat aja, ntar aku bales dia!" ucap Yusi emosi.
"Kamu jangan ikut-ikutan, Yus. Ini masalah aku, biarin aja, aku juga males banget ngladenin Cantika,"
"Tapi ini gak adil, Han! Cantika harus dibales!" ucap Yusi ngotot.
"Bukan kita yang nentuin adil nggaknya, Yus! Aku cuman gak mau ribut aja, aku pengin damai,"
"Tapi, Han ...."
Damar memegang tangan Yusi, dengan maksud untuk tidak mendesak keinginananya membalas Cantika.
"Hana dari dulu emang begitu, Yus. Karena dia gak mau punya musuh dan ribut, makanya dia gak pernah ngebales. Dia percaya suatu saat nanti akan ada balesan buat orang-orang yang menjahatinya," terang Damar sambil menatap kedua mata Yusi yang tampak kesal.
Begitu mendengarkan penjelasan Damar, Yusi berhenti mendesak Hana.
"Ya udahlah gak usah dibahas. Lagipula sekarang aku jauh lebih tenang. Berarti aku kehilangan satu pengikut," ucap Hana sambil menghela nafas berat.
Ternyata, Cantika mendengar semua obrolan Hana dan teman-temannya. Cantika juga merekam kalimat terakhir yang diucapkan oleh Hana.
Cantika datang dari luar dengan penuh kemenangan. Ia menunjukan record di hapenya, dan memutar kembali ucapan Hana.
"Ya udahlah gak usah dibahas. Lagipula sekarang aku jauh lebih tenang. Berarti aku kehilangan satu pengikut," suara dari hape Cantika.
Hana kaget dengan kehadiran Cantika yang tiba-tiba datang dengan memutar rekaman suaranya.
"Maksud kamu apaan sih, Cantika! Kamu sengaja mau mrovokasi Kak Samuel? Biar dia benci sama aku, iya!" Hana bertanya dengan nada tinggi menahan emosi.
"Bukan urusan kamu," ucap Cantika dengan enteng, kemudian berlalu, dan duduk di bangkunya.
__ADS_1
Damar mencoba merebut hape Cantika tapi tidak berhasil.
"Sini hape kamu ...." kata Damar sambil menarik tangan Cantika.
"Eittt, kamu tuh gak usah ikut campur, Damar!Kamu kan cuman kacungnya Hana, mau aja dimanfaatin. Kamu dari dulu suka sama dia, tapi gak pernah dianggep. Duh, gimana rasanya yah, diabaikan, hahaha!" ucap Cantika dengan tatapan mengejek.
Damar merasa sangat marah dengan ucapan Cantika, ingin rasanya, Damar menjambak rambut Cantika. Tapi, ia tak kuasa.
Yusi kaget ketika tahu bahwa Damar sebenarnya menyukai Hana.
Diam-diam, sejak dari tadi, Hasan telah mendengarkan percakapan mereka berempat dari balik pintu.
"Cantika! Kalo kamu bukan perempuan, kamu pasti abis sama aku! Pasti!" ucap Damar dengan menggebu-gebu.
Damar mengepalkan kedua tangannya. Rahangnya terdengar menggeretak keras. Tatapannya sudah seperti singa yang kelaparan. Sementara, Cantika tidak peduli dengan sikap Damar yang sudah berapi-api. Ia malah tersenyum penuh kemenangan tanpa merasa salah sedikit pun. Damar kemudian pergi meninggalkan kelas.
"Yus, kamu kejar Damar gih, dia pasti ada di taman. Hatinya pasti hancur," ucap Hana sambil memegang tangan Yusi.
"Tapi, kamu ...."
"Aku gak papa! Sekarang ini, yang lebih hancur itu dia, bukan aku," ucap Hana lembut.
Yusi akhirnya pergi meninggalkan Hana.
Hana memandang ke arah Cantika lalu berkata.
"Silahkan kamu tertawa sepuasnya, Cantika! Silahkan kalo kamu merasa puas, kamu mendapatkan apa yang kamu mau. Tapi itu semua bukan karena kamu menang, Cantika! Tapi sebenernya kamu itu kalah. Kamu rela nglakuin apa pun buat mitnah aku, dariiii duluuu sejak kita SMP ... Dan sekarang, kamu ...."
Hana tidak melanjutkan kalimatnya karena melihat kedatangan Hasan, yang menatap dirinya dan juga Cantika, bergantian.
__ADS_1
Hasan tidak berkata satu kata pun. Meskipun ia mendengar semua percakapan antara Hana dan juga Cantika. Tetapi, sebagai anak baru, ia tak etis jika langsung ikut campur.