
Setengah jam kemudian, mereka berdua sampai di rumah. Hasan membantu Hana untuk membawa koper ke dalam kamarnya. Hasan menaruh koper tersebut di samping bed Hana.
Sebelum benar-benar keluar, Hasan memperingatkan Hana sesuatu, rutinitas Hasan sebelum tidur.
"Hana, sebelum tidur, kamu jangan lupa buat cuci tangan, sama kaki. Eh wajah kamu juga jangan lupa, pake serum kalo perlu, biar tambah bersih,"
"Ya ampun, kamu itu mirip sama, Mama yah, ternyata! Bawel banget!" ucap Hana manyun.
"Bawel buat kebaikan, kenapa nggak?" jawab Hasan diiringi senyuman.
"Lagian kamu kan cewek, harus bersih lah! Aku aja bersihan, masa kamu kalah sama aku,"
"Iyaaa, tuan Hasan!" ucap Hana dengan senyum yang dipaksakan.
"Oke, aku tidur dulu yah! Good night, Hana!" Hasan tersenyum lalu masuk ke dalam kamarnya yang berada di sisi kanan kamar Hana.
"Good night too, Hasan," balas Hana tersenyum, lalu masuk ke kamar untuk merapihkan pakaianya, dan berganti pakaian juga.
***
Pagi hari terasa begitu cepat, padahal Hana masih sangat ngantuk. Setelah memakai seragamnya, Hana keluar dari kamar untuk bergabung dengan Hasan yang tengah sarapan.
"Udah mandi koq masih kucel aja muka kamu! Cumuk lagi sana," kata Hasan sambil menggigit potongan roti di tangannya.
"Semalem aku gak bisa tidur tau, baru bisa tidur pagi tadi jam tiga-an," ucap Hana sambil menarik bangku dan duduk.
"Kenapa emangnya? Mikirin aku?" ucap Hasan dengan pedenya sambil menyiapkan sarapan untuk Hana.
"Hem, kamu ternyata cukup pede yah ... Maklum lah, San! Aku gak bisa adaptasi cepet, belom biasa sama tempat baru,"
"Oh, ya udah makan dulu roti bakarnya, sama susunya di minum," ucap Hasan menyodorkan sepiring roti bakar.
Hana tersenyum senang mendapatkan roti yang disiapkan oleh Hasan.
"Makasih yah, kamu udah nyiapin sarapan," ucap Hana kemudian menggigit potongan roti tersebut.
"Iya. Pokoknya pekerjaan rumah, kita kerjain sama-sama aja. Eh, maksudnya kalo aku lagi ada waktu aja, hehehe," terang Hasan yang kemudian dibalas dengan ekspresi manyun oleh Hana.
"Oh iya, nanti kita berangkat bareng. Terus ntar kamu turun-nya di perempatan deket warnet yah, biar gak terlalu jauh kamu jalan kakinya,"
"Aku naek angkot aja gak papa koq,"
"Angkot yang kamu naikin kan sekarang beda warnanya bukan pink lagi. Pokoknya kita selalu berangkat pagi aja biar gak ketauan kalo kita berangkat bareng,"
__ADS_1
"Oke deh kalo gitu, kebetulan aku juga sudah selesai. Ayok berangkat!" tutur Hana beranjak dari tempat duduknya.
"Beresin dulu nih piringnya, aku gak mau berantakan soalnya," perintah Hasan kemudian menyruput sisa susu dalam gelasnya.
"Iya, iya. Kamu nyebelin juga yah ternyata," terang Hana sambil merapihkan piring dan gelas.
Hasan tersenyum mendengar kalimat Hana. Ia sengaja membuat Hana kesal karena suka melihat wajah imutnya. Hana mengelap meja dan membawa piring dan gelasnya ke dalam wastafel dan mencucinya.
Setelah selesai, mereka berdua kemudian berangkat sekolah bareng.
Mereka berpapasan dengan para tetangganya dan saling mengklakson. Hana tersenyum saat para tetangganya melihat ke arahnya, Hana pun menunduk dan membalas senyuman mereka.
"Kayaknya orang di sini asyik-ya, San!"
"Iya gitu deh, kalo libur, kamu boleh berkunjung ke rumah mereka. Kamu ketuk aja pintunya satu-satu," ucap Hasan diiringi senyuman.
"Malu lah,"
"Gak papa kalo kamu mau, biar gak bosen harus di rumah terus,"
"Kapan-kapan aja, kalo udah bosen. Kan sekolah juga. Kayaknya untuk saat ini, aku masih nyaman aja,"
Sepanjang perjalanan, mereka terus mengobrol hingga tak terasa mereka sudah sampai di perempatan warnet. Hasan memberhentikan motornya di sana. Hana turun dari jok motor Hasan.
"Gak papa, aku udah biasa jalan kaki koq,"
"Iya percaya, udah sono jalan duluan,"
"Kamu aja dulu,"
"Aku mah cepet pake motor, lah kamu! Ntar kalo ada yang liat kamu jalannya dari arah pangkalan angkot kan pada curiga, secara kalo berangkat sekolah, biasanya kamu kan turun langsung di depan sekolah,"
"Iya juga, terus kenapa kamu turunin aku di sini! Harusnya kamu muter dulu," ujar Hana dengan sedikit kesal.
"Iya sory, aku tadi gak kepikiran soal itu," jawab Hasan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Tiba-tiba, dari arah yang sama, suara motor berhenti di samping mereka. Hana dan Hasan saling berpandangan melihat motor tersebut.
Hana dan Hasan sama-sama kaget ketika pengendara tersebut membuka helmnya.
"Hana, Hasan! Kalian ngapain di sini?" tanya Damar.
"Damar!" ucap Hana dan Hasan barengan.
__ADS_1
"Koq kamu berangkatnya pagi banget, Dam?" tanya Hasan.
"Harusnya aku yang nanya kalian, ngapain kalian berdua pagi buta gini udah di perempatan! Hayo ada apa!" tanya Damar penuh selidik.
"Oh, kalo aku emang sengaja berangkat pagi Dam, terus nongkrong dulu, nungguin agak siangan. Kalo Hana, tadi dia naek angkot, terus angkotnya bablas gitu sampai pangkalan, karena di tungguin ibu-ibu sayur," jawab Hasan berbohong.
"Oh gitu, beneran, Han?" tanya Damar melirik Hana.
Hana mencoba untuk menutupi rasa gugupnya dengan memainkan jari-jari tangannya.
"Iya bener yang di bilang sama, Hasan, Dam! Aku tadi bilang stop, tapi dibablasin sama sopirnya. Aku jalan sendirian masih pagi banget, eh gak taunya si Hasan udah di sini, ya udah kita ngobrol dulu, eh ketemu sama kamu juga. Koq kamu berangkat pagi banget, Dam? Ada apa?"
"Aku piket hari ini, kalo gitu kalian bantuin aku bersih-bersih yah, biar gak mubazir keberangkatan pagi kalian," tutur Damar diiringi senyuman.
Hana dan Hasan saling berpandangan, mereka merasa lega karena Damar percaya dengan alasan mereka berdua.
"Kalo aku sih ogah bantuin kamu. Mending aku di sini dulu," Hasan menolak untuk membantu Damar.
"Aku sih percaya kalo kamu gak bantuin aku. Tapi kalo, Hana ...." Damar melirik Hana dan tersenyum.
"Ayo, Han naek, daripada jalan kaki, aku boncengin aja. Cape kan kamu pagi-pagi udah olahraga aja, hari ini kan juga ada pelajaran olahraga, sayang ntar kalo kamu udah cape duluan," ujar Damar.
"Emm ...." Hana bergumam.
"Tenang aja, aku gak minta kamu untuk bantuin aku piket koq, ayo buruan naik," ucap Damar.
"Oke deh," Hana lalu membonceng Damar.
Hana dan Damar meninggalkan Hasan begitu saja. Hasan terus memandang kepergian mereka berdua dengan tatapan yang sedikit kesal. Apalagi melihat Hana yang duduk menyamping dan memegang pinggang Damar.
"Cih, kenapa Hana gak minta ijin dulu sama aku, main bonceng-bonceng aja, nyebelin banget ... Daripada aku duduk di sini sendirian, mending aku susul mereka, siapa tau mereka mau ngapa-ngapain," ucap Hasan kemudian menyalakan motornya menyusul Hana dan Damar.
Damar mengambil sapu, dan mulai membersihkan sampah di lantai. Hana meletakan tasnya. Ia tersenyum dan menghela nafas.
"Aku bantuin lap-lap jendela ya, Dam," usul Hana kemudian mengambil lap di lemari.
"Gak usah, Hana, kamu duduk aja," ucap Damar sambil menyapu.
"Gak papa, lagian aku juga bingung mau ngapain, yang ada ntar aku tidur lagi,"
"Iya udah deh, makasih ya sebelumnya,"
Mereka berdua membersihkan kelas bersama-sama diiringi obrolan ringan.
__ADS_1