
"Aku kira tadi, kamu sama Hasan sengaja berangkat bareng. Aku bener-bener kaget pas liat kalian berdua di perempatan," terang Damar sambil melirik Hana.
"Mana mungkin aku bisa barengan sama dia, arah rumah kita aja beda,"
"Iya, Han, Hasan kalo berangkat kan dari arah barat, sedangkan kamu dari timur ... dugaan aku berarti salah ... Tapi ngomong-ngomong, kamu sama Hasan gak ada hubungan spesial kan?" tanya Damar menyelidik.
"Koq kamu bisa ngomong gitu sih! Ya gak lah, hubungan spesial apa! Ada-ada aja kamu," tutur Hana menyunggingkan senyum.
"Aku cuman nanya aja, oh iya waktu hari jum'at itu, Hasan bener-bener khawatir banget sama kamu loh, Han! Panik banget!"
"Oh iya?" tanya Hana dengan raut penasaran.
"Iya, dia langsung gak konsen, biarpun udah wudu saat itu. Dia langsung ambil hapekunbuat nglacak keberadaan kamu. Nah, dari situ aku berasumsi kalo, Hasan ...."
"Woy, kenapa sama aku!" celetuk Hasan yang tiba-tiba muncul mengagetkan Damar dan Hana.
"Hasan! bikin kaget aja kamu," terang Hana.
"Masih pagi gak boleh nggosip! Pamali!" kata Hasan sambil berjalan menuju bangkunya.
"Katanya mau nongkrong dulu, sambil nunggu siang, koq udah nyusul ke sini!" tanya Damar dengan tatapan menyelidik.
"Boring, gak ada temennya. Mendingan aku di sini, sambil ngawasin kalian," jawab Hasan menyenderkan tubuhnya di bangku.
"Ngawasin kita! Maksud kamu ... Ohh, aku tau, kamu sebenernya cemburu kan liat aku sama Hana!" seru Damar sambil melipat tangannya.
"Hishhh apaan sih kamu! Aku di sini sebagai orang ketiga bukan berarti, syetan yang mau menghasut kalian berdua buat macem-macem yah, tapi, aku di sini hadir sebagai malaikat pelindung, supaya kalian gak bisa macem-macem!"
"Ngeles mulu, kalo ditanya!" jawab Damar kemudian melanjutkan aktifitasnya.
Hana yang mendengarkan percakapan antara Hasan dan Damar hanya tersenyum tanpa berkomentar. Diam-diam, Hasan melihat Hana tersenyum, Hasan pun ikut tersenyum.
Klunting,
Sebuah pesan, masuk ke dalam hape Hasan. Hasan kemudian mengecek dan membukanya, pesan tersebut ternyata dari Papahnya.
"Leo, presentasi kamu kemaren bagus banget. Klien Papa puas ... Oh iya minggu depan ada lomba untuk desain miniatur untuk proyek perumahan baru. Papa sudah daftarin kamu, Papa berharap, kamu bisa memenangkan lomba ini, karena hadiahnya ... Kamu mau tau nggak?" isi pesan Pak Praja menggantung, membuat Hasan penasaran.
"Iya, Pah, terimakasih sudah daftarin Hasan, ngomong-ngomong, hadiahnya apa, Pah?" balas Hasan.
"Mobil, lumayan lah buat kamu jalan-jalan sama Ceri biar gak keujanan atau kepanasan," balas Pak Praja.
Hasan tampak tersenyum senang membaca pesan dari Papahnya. Ada semangat yang membara dalam lubuk hatinya. Hana dan Damar yang kebetulan telah selesai bersih-bersih merasa heran dan saling berpandangan saat melihat Hasan tengah tersenyum sendiri memandangi layar hapenya.
__ADS_1
"Kenapa tuh, Hasan," bisik Hana pada Damar.
"Dapet pesan dari pacarnya kali, noh senyum-senyum sendiri," Damar menjawab dengan asal, yang membuat Hana sedikit kesal dan merubah ekspresinya menjadi di tekuk.
Hana kemudian duduk di bangkunya sambil sesekali memperhatikan Hasan yang masih asyik dengan gadgetnya. Damar kemudian berjalan menghampiri Hana yang tampak manyun.
"Kenapa mukamu di tekuk gitu!" tanya Damar sambil mencolek hiduung Hana.
"Gak papa," jawab Hana sekenanya.
Hana mengeluarkan buku dari dalam tasnya dan membukanya. Niatnya ingin belajar, tetapi, Hana tidak fokus. Ia memilih untuk memandang Hasan yang masih asyik dengan hapenya. Damar memperhatikan hal itu. Damar kemudian ikut-ikutan memandang Hasan sambil bertopang dagu.
"Leo bakal berusaha, Pah! Terimakasih sudah memberitahu Leo," balas Hasan kembali.
"Sama-sama, Leo, Papa bangga sama kamu, Papa percaya, kamu pasti menang. Salam buat Ceri, selamat belajar!"
"Oke, Pah!" balas Hasan mengakhiri percakapan dengan Papanya.
Hasan memasukan hapenya ke saku. Dia masih tersenyum mengingat hadiah yang ditawarkan dalam lomba besok. Setelah puas tersenyum, Hasan melihat ke arah Hana dan Damar yang kebetulan sedang memandanginya.
"Why?" tanya Hasan sambil mengangkat bah dan lengannya tanda tak mengerti.
Damar dan Hana tidak menjawab. Hasan akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan buku dan belajar.
"Ya ampun, koq aku bisa lupa sih, kalo ada praktek kejuruan! Terus gimana sama ...." Ucap Hasan sambil berdiri karena kaget, ia menggantung kalimatnya ketika Damar dan Hana menatapnya dengan heran.
Hasan kemudian tersenyum menggaruk kepalanya, lalu duduk kembali di bangkunya.
"Duh, koq aku bisa lupa. Aku mana bisa fokus sama lomba miniatur itu," ucap Hasan dalam hatinya.
Ekspresinya mendadak berubah menjadi sedikit khawatir. Sesekali, Hasan menggigit bibirnya sendiri karena risau. Hana yang terus memperhatikan Hasan, merasa curiga.
"Pasti ada sesuatu yang, Hasan sembunyi-in. Aku harus tanya nanti," kata Hana dalam hati.
"San, gimana menurut Kamu? Kapan waktu yang pas untuk kita latihan?" tanya Damar.
"Mmmm ... Tanya, Hana tuh," jawab Hasan.
"Orang Damar nanya ke kamu, kenapa jadi, aku!" jawab Hana sedikit jutek.
"Aku ngikut aja deh mau kapan-kapan nya. Lagian itu kayaknya gampang banget deh, satu hari aja kita bisa koq bikinnya," terang Hasan sambil menggaruk dahinya.
"Serius langsung bisa? Tapi, kita kan harus ngrekam juga, terus burningnya gimana? Aku belum tahu caranya burning," jawab Damar.
__ADS_1
"Gampang kalo itu mah, gak usah khawatir," jawab Hasan lagi. Baginya, masalah itu emang sangat gampang.
"Serius? Kamu koq yakin banget udah bisa, San! Waktu praktek burning aja aku mumet loh, San! Kamu juga belom masuk waktu itu, kamu yakin dengan apa yang barusan kamu bilang?" tanya Damar menyelidik tak percaya.
"Yakin! lagi pula pelajaran itu kan hari kamis ya ... Emmm ...." Hasan menggantung kalimatnya dan meneruskannya di dalam hatinya. "Lebih baik aku tanya Papa dulu deh, minggu depan itu tepatnya hari apa. Semoga gak tabrakan sama presentasi di sekolah,"
"Woy, San! Kenapa kamu malah diem!" Seru Damar dari arah bangku Hana.
"Mikirin pacarnya kali! Ada janji pasti dia, di hari yang sama, makanya takut tuh kalo latihannya barengan sama bikin presentasi," ujar Hana dengan ketus.
"Apa-an sih kamu, Han! Aku mana ada pacar, kan kamu tau sendiri," jawab Hasan tak kalah kesal.
"Mana aku tau!" jawab Hana lebih ketus lagi.
Hasan menghela nafas, ia kemudian duduk kembali di bangkunya sendiri, sambil sesekali melirik Hana.
Damar memperhatikan raut wajah antara Hana dan Hasan. Damar merasa, ada sesuatu yang mereka sembunyikan darinya.
Lalu kelas pun mulai ramai, Cantika datang dan langsung menghampiri Hasan dan memberinya coklat.
"San, aku ada coklat, nih buat kamu, terima yah," ujar Cantika duduk di samping Hasan dan menyodorkan cokelatnya.
"Oh ... Makasih yah, kamu tau aja aku suka coklat," ucap Hasan diiringi senyuman, sambil melirik Hana sekilas.
"Serius kamu suka?" tanya Cantika kegirangan.
Hasan mengangguk dan tersenyum.
"Besok aku beli-in lagi yah buat kamu," ucap Cantika bertopang dagu di depan Hasan.
"Gak usah, Cantika, aku emang suka coklat, tapi juga gak sering-sering makan-nya. Aku makan cokelat kalo mood aku lagi bad aja. Dan hari ini mood aku emang lagi jelek. Tengkyu yah," ucap Hasan tersenyum sambil mengerlingkan matanya.
Cantika terpana, matanya berbinar, hatinya berbunga-bunga mendapat respon dari Hasan. Apalagi dengan gaya kerlingan mata genit Hasan. Cantika terus memandangi Hasan sambil mengembangkan senyumnya.
Hasan terpaksa melakukan hal tersebut karena ia kesal dengan sikap Hana. Hasan kemudian membuka cokelatnya dan memakannya di depan Cantika langsung.
Cantika merasa puas, ia sesekali melirik Hana dan tersenyum judes. Hana merasa sangat kesal. Dalam hatinya, ia merasa dongkol dan tidak terima.
"Ya ampun, kamu ganteng banget sih, San! Aku boleh cubit pipi kamu gak? Imut banget kalo lagi makan, San!" ucap Cantika dengan nada manja.
"Jangan donk! Ntar sakit," jawab Hasan sambil menarik kepalanya ke belakang.
"Iya udah deh, aku liatin kamu makan aja," ucap Cantika tersenyum.
__ADS_1
Damar memperhatikan sikap Hasan yang terlihat sengaja melakukan hal itu. Apalagi, Hana, yang langsung keluar kelas tanpa alasan. Damar menebak, memang ada sesuatu diantara keduanya.