Menikah Karena Tradisi

Menikah Karena Tradisi
26. Tanggung Jawab Hasan


__ADS_3

Jujur saja, Hana masih gak percaya sama yang di katakan Hasan, bahwa di jaman yang modern seperti ini, masih banyak orang yang menganut Tradisi Perjodohan.


Hana mengeringkan rambutnya dengan pakaian kotornya di belakang, sekedar mengurangi tetesan air dari rambutnya.


Disisi lain, Samuel tengah mendapat amarah besar dari kedua orangtuanya. Apalagi, Samuel sudah kelas tiga dan sebentar lagi mau ujian, dia malah membuat ulah.


Samuel dari kemaren sudah bolak balik mendapat omelan dari kedua orangtuanya. Bahkan samuel akan dikurung di rumah untuk satu bulan. Termasuk hapenya beserta semua nomor yang terdaftar di kontaknya, galery Poto, di hapus semua oleh Papanya.


Semua penjelasan yang keluar dari mulut Samuel untuk membela diri, tidak dihiraukan oleh kedua orangtuanya.


"Pokoknya, kamu akan tetap berada di kamarmu. Makan dan minum, akan di sediakan sama bibi. Renungkanlah semua kesalahan yang sudah kamu buat. Papa sama Mama, sangat malu dengan perbuatan kamu, Sam! mau di taruh dimana muka kami berdua!"


"Tapi, Pah! Ini semua bukan murni kesalahan Samuel semua!"


"Papa sudah tidak mau mendengar alasan kamu. Papa sudah tau buktinya langsung. Kamu tidak bisa mengelak lagi!"


Papanya kemudian keluar dan mengunci kamar Samuel dari luar.


Samuel sangat frustasi dengan tindakan yang dilakukan Papanya. Bagaimana tidak, ia akan dikurung di kamar selama satu bulan. Hape yang menjadi alat satu-satunya sebagai hiburan, semua data, file, dan seluruh kontak telah di hapus. Bagaimana ia bisa menghubungi teman-temannya?


"Arghhhhhh, sial! Semua ini gara-gara Hana dan pahlawan kesiangan itu. Awas aja, aku bakal cari kamu, orang yang sudah buat aku dikeluarin dari sekolah, dan di hukum berat seperti ini ... Arghhhhhhh!" Samuel tampak berang. Matanya sudah berapi-api, ia mengepalkan kedua tangannya dan meremas sepray kasurnya.


***


Hasan telah selesai mempresentasikan hasil kerjanya secara daring. Hasan membuka jaz yang ia kenakan untuk presentasi, dan menggantinya dengan kaos oblong kembali.


Hana memperhatikan Hasan sedari presentasi sampai selesai. Hana benar-benar kagum dengan suaminya itu.


"San, kamu tampak lebih tua kalo pake jas, tapi juga terlihat tua, hehehe," ucap Hana sambil tertawa.


"Niat muji apa menghina nih!" tanya Hasan memicingkan matanya.


"Muji aja, kalo menghina ngga koq. Eh, sini, aku hanger jaz kamu," terang Hana mengambil Jaz yang ada di tangan Hasan.


"Makasih ya,"

__ADS_1


"Sama-sama. Kamu jadi nganterin aku ke rumah Mama, kan?"


"Iya jadi, gimana kalo sekalian makan malam di sana aja," usul Hasan.


"Boleh, kalo kamu mau,"


"Ya udah, ntar abis sholat maghrib, kita otw yah,"


"Oke," jawab Hana membuat simbol Ok diiringi dengan senyuman.


Adzan magrib sudah berkumandang. Hasan dan Hana sholat berjamaah untuk pertama kalinya. Mereka masing-masing berdo'a untuk hubungan mereka. Setelah selesai, mereka bersiap-siap untuk ke rumah Mama Darma.


"Hana, aku belom punya mobil, jadi kemana-mana kita pake motor dulu ya," terang Hasan dengan lembut.


"Apaan sih kamu, mau pake apa pun, asal ada kamu, aku oke-oke aja," tutur Hana.


Hasan tersipu malu mendengar penuturan Hana.


"Cieeee gombal," ucap Hasan sambil menowel dagu Hana.


"Beneran, San! Kalo ada kamu, aku ngrasa aman. Soalnya, aku masih sesekali keinget kejadian itu," ucap Hana sambil menunduk.


Hana tersipu, dan menyukai hal yang dilakukan Hasan tersebut.


"Makasih, San," ucap Hana.


"Ayo naek," perintah Hasan menoleh ke jok motornya.


Hana tersenyum memandang Hasan. Lelaki ini sangat mirip dengan Jungkok, wajahnya imut dan menggemaskan.


Sepanjang perjalanan, mereka hanya saling terdiam, menikmati indahnya malam dengan alunan lagu romantis yang terdengar di pinggir jalan yang mereka lalui.


Sesampainya di rumah Mama Darma, Hasan dan Hana disambut dengan bahagia.


"Selamat datang, ini untuk pertama kalinya setelah menikah, kalian berkunjung ke rumah Papa dan Mama, ayo masuk masuk," ucap Pak Darmawan tersenyum senang dan merangkul Hasan.

__ADS_1


"Makasih, Pah!" jawab Hasan.


Mereka berempat kemudian masuk ke dalam rumah. Jam sudah menunjukan jam tujuh malam.


"Ceri, Mama udah nyiapin semua barang-barang kamu di koper. Terus peralatan sekolah kamu juga. Tadinya, Mama mau anterin, soalnya kan pasti susah kalo kamu bawa pake motor kan. Eh, udah dateng ke sini duluan," ujar Bu Darma.


"Gak papa, Mah, Leo bisa koq bawanya, insya Alloh gak repot," jawab Hasan diiringi senyuman.


"Kalo misal repot biar, Mama yang anterin,"


"Bisa koq, Mah. Gak usah," jawab Hasan.


"Ya sudah kalo bisa. Ngomong-ngomong, kita makan malam dulu yuk, Mama udah siapin,"


"Kebetulan, Mah! Ceri sama Hasan emang belom makan malem," ucap Hana.


Mereka kemudian menuju ruang makan untuk makan malam bersama.


"Mama nyiapin ini sendiri? Mbak Inem belom balik juga ya, Mah? Koq tumben lama banget pulang kampungnya sih!" tanya Hana sambil mengambil nasi untuk Hasan.


Hasan memperhatikan Hana yang tengah meladeninya. Tanpa berkomentar, Hasan menerima nasi dan lauk yang telah diambilkan oleh Hana.


"Iya, anaknya baru sembuh, dan kebetulan gak mau kalo ditinggal. Jadi, yah mau gak mau Mama nglakuin pekerjaan rumah sendiri. Kan kamu udah sama suami kamu, sekarang," ucap Bu Darma sambil melihat ke arah Hasan dan Hana bergantian.


Hasan dan Hana saling memandang, kemudian tersenyum juga. Mereka mengobrol sambil menikmati hidangan makan malam yang telah disajikan oleh Bu Darma.


"Oh iya, Pah, Mah! Kedatangan kami ke sini selain untuk mengambil koper Hana, Leo pengin nyampein sesuatu sama kalian berdua. Leo harap, kalian setuju dengan apa yang nanti Leo sampaikan," terang Hasan sambil memandang mertuanya bergantian.


"Kayaknya serius, Le! Apa yang akan kamu sampikan?" tanya Pak Darma penasaran.


"Begini, Pah, sekarang kan, Hana udah jadi istri aku, Papa dan Mama kan tau sendiri, aku sudah mandiri, aku punya perusahan sendiri yang di handle Papah Praja. Penghasilanku juga luamyan. Jadi mulai sekarang, Hana sepenuhnya jadi tanggung jawab aku, Mah, Pah. Semua kebutuhan, Hana, dan biaya sekolah Hana, aku yang tanggung," terang Hasan dengan wajah serius dan mantap.


Orangtua Hana saling berpandangan karena tidak percaya dengan apa yang Hasan katakan barusan. Mereka tidak habis pikir, Hasan punya pikiran sedewasa itu. Orang lain, yang ikut tradisi tersebut, belum tentu punya pikiran seperti yang Hasan ucapkan. Mereka biasanya masih meminta uang dari orangtua mereka sendiri untuk keperluan pribadi mereka. Terlebih, jika orang yang dijodohkan belum kerja, apalagi usaha. Tapi, tidak dengan Hasan. Hasan, muda, pintar, berbakat, mandiri, tampan, tinggi, hidung mancung, imut syekali. Jungkok oh jungkok.


"Begini, Le, Papa sama Mama, sih sebenernya setuju aja. Tapi, rasanya koq kayak belom pantes aja. Lagipula biaya sekolah kan mahal. Bukan maksud Papa ngrendahin kamu. Papa percaya kamu mampu, tapi ...."

__ADS_1


"Pah, Leo mohon,! Pantes gak pantes ini sudah jadi kewajiban Leo sekarang dan seterusnya. Insya Alloh, Leo sanggup," ujar Hasan dengan mantap, sambil melirik kedua mertuanya bergantian.


Papah dan Mamanya Hana kembali berpandangan mendengar penuturan Hasan. Mereka sebenarnya kasihan jika Hasan menanggung beban Hana sendirian. Tapi, mereka juga sangat bahagia karena menantunya orang yang bertanggung jawab.


__ADS_2