
Hana kemudian meminumnya sedikit.
"Pelan-pelan dong kalo makan," ucap mamahnya.
"Iya, Hana kaget karena Hasan yang mau ngajak aku muncak, mah! Hana kan belum pernah muncak," jawab Hana.
"Raja kan ngajakin aku muncak juga. Koq bisa samaan gini sih," ujar Hana dalam hatinya.
"Oh ... Ya, Leo. Ceri itu belum pernah sama sekali muncak. Dia bukan anak pecinta alam. Apa kamu serius mau ngajakin dia?" tanya Bu Darma.
"Kalo Hana mau, dan Mamah ngijinin, kenapa nggak?" jawab Hasan mantap.
"Kamu udah gak perlu minta ijin mamah lagi, Leo. Ceri itu kan udah jadi istri kamu. Kemanapun Ceri pergi, asal sama kamu, Mamah setuju aja!" jawab Bu Darma.
Hasan tersenyum senang mendengar penuturan Bu Darma. Ia melirik Hana sekilas dengan mulut penuh makanannya. Hana tersenyum penuh tanda tanya melihat ekspresi Hasan.
"Gak akan aku biarin kamu pergi berduaan sama Raja, Han! Untung, Cantika kasih info ini sama aku. Kalo gak, udah kecolongan aku!" ujar Hasan dalam hatinya.
Flashback sebelum Hasan keluar dari kamar.
Hapenya terus berdering, akhirnya membuat Hasan terbangun. Ia melihat ada nomor baru di layar hapenya. Tanpa ragu, Hasan segera menjawab panggilan tersebut yang ternyata dari Cantika. Hasan yang masih mengantuk tiba-tiba bangkit dari kasur ketika mendengar penuturan Cantika.
"Iya, San! Aku itu diajak Raja, buat muncak Minggu depan. Oh iya, Raja ini sepupu aku. Kamu mungkin belum tau orangnya. Tapi, Hana sama Raja udah kenal. Bahkan dulu pas selesai ulangan, aku pernah lihat Raja balik bareng sama Hana. Alasan Raja ngajakin aku, katanya buat nemenin Hana, plus mau deketin aku sama Hana, biar aku jadi temen baiknya gitu. Menurut kamu gimana, San?" tutur Cantika dalam telepon.
Hasan yang merasa kesal dan dongkol mencoba untuk mengatur nafasnya. Diam-diam, Hana itu bandel di belakangnya.
"Oke, kamu setuju aja. Ntar aku ikut deh. Kayaknya seru juga muncak. Daripada liburan boring di rumah aja," jawab Hasan menyetujui.
"Jadi kamu setuju? Kamu mau aku temenan sama, Hana?"
"Kenapa nggak? Kalian sama-sama cantik, dan udah kenal dari SMP. Ngapain mesti musuhan. Oh iya, aku bakal ajakin Miki juga, gimana?"
"Hah? Serius? Tapi, nanti kalo ada Hana, Miki pasti deketin dia, San!" jawab Cantika dengan nada malas.
"Kamu tenang aja. Miki gak bakal deketin Hana. Percaya deh sama aku. Justru ini kesempatan bagus buat kamu pedekate lagi sama, Miki, Can," ujar Hasan memberi semangat.
"Kamu yakin? Gimana kalo Miki, tetep deketin Hana,"
"Kamu jangan pesimis dong. Ada aku di sini yang bakal bantuin kamu. Mulai sekarang kamu gak usah dendam sama Hana, yah! Temenan baik-baik aja sama dia. Justru kalo kamu berubah jadi baik, Miki akan semakin luluh sama kamu. Kamu jangan jahatin Hana, lagi. Oke!" tutur Hasan.
__ADS_1
"Emangnya aku sejahat itu ya sama, Hana? Aku coba deh biarin berat. Soalnya udah terlanjur kesel aku sama, Hana," jawab Cantika malas.
"Kalo kamu marah sama Hana, mending kamu makan cokelat aja. Kayak aku dulu pas lagi gak mood, kamu kasih aku cokelat. Serius, makan cokelat bisa lega-in pikiran yang lagi badmood loh,"
"Em, oke deh. Makasih ya, San! Kamu udah support aku,"
"Iya sama-sama, Can! Kan kita sekarang temenan. Eh, tapi kamu jangan bilang sama siapa-siapa soal masalah ini yah, soal rencana kita. Cukup kita berdua aja yang tau, oke!"
"Siap, San!"
Flashback end.
Hasan kemudian melirik Hana kembali yang menunduk sambil mengaduk makanan.
"Tapi mah, Hana sekarang bandel tau. Dia kadang nakal sama aku," ujar Hasan.
Mendengar kalimat Hasan, Hana reflek langsung memandang Hasan dengan mata membulat dan mulut menganga.
"Hah! Maksud kamu apa?"
Bu Darma melirik Hana sekilas.
"Dia sekarang suka pergi sendiri, tanpa minta ijin dari aku, Mah!" jawab Hasan.
"Benar itu, Ceri?" tanya Bu Darma.
"Iiih, apaan sih kamu, San! Kamu sengaja pengin aku dimarahin sama, Mamah?" ucap Hana kesal dengan wajah cemberutnya.
Hasan hanya mengangkat kedua lengannya acuh.
"Benar, Ceri? Kamu pergi kemana? Kenapa sampai gak ijin sama suami kamu? Kan mamah udah bilang, kalo mau pergi harus sama, Leo!"
"Tapi kemarin itu, Leo masih tidur, Mah! Ceri gak mungkin bangunin dia, dia kan abis lembur!" jawab Hana manyun.
"Tapi, harusnya kamu bangunin aku juga gak papa, jangan main pergi gitu aja!" sambung Hasan.
"Aku kan udah ninggalin notice, San! Kamu gak baca?" tanya Hana.
"Baca si baca, tapi sesudah aku keliling nyariin kamu! Eh, gak taunya kamu pergi sama cowok lain," ucap Hasan kesal.
__ADS_1
Hasan sengaja membahas masalah ini di depan Bu Darma karena Hana, takut dengan Mamahnya. Hasan ingin membuat Hana jera dengan sikapnya yang pergi diam-diam.
"Ceri, lain kali kamu gak boleh begitu lagi. Kasian, Leo. Dia harus pergi nyariin kamu. Inget, dia itu suami kamu loh. Kamu gak boleh pergi kemana-mana tanpa suami kamu. Paling tidak, kamu harus dapat ijin dulu sama suami kamu," ucap Bu Darma dengan nada tinggi dan mata melotot.
Hasan yang melihat reaksi mertuanya, menjadi merasa bersalah kepada Hana. Rupanya, Bu Darma kalo sedang marah, lebih menakutkan ketimbang Hana.
"Iya, Mah! Ceri gak gitu lagi," jawab Hana menunduk.
"Gak gitu lagi, gak gitu lagi. Kemaren-kemaren kamu juga bilang gitu sama, Mamah. Kamu pergi sama siapa? Sama cowok itu lagi ya, siapa namanya, Raja? Iya?" bentak Bu Darma.
Mendengar kalimat yang diucapkan Bu Darma, Hasan kembali menoleh Hana dengan ekspresi kaget.
Hana menggigit bibir atasnya. "Mati, kenapa, Mamah harus nyebut Raja, di depan Hasan, lagi!" batin Hana.
"Raja? Jadi, Hana emang sering pergi bareng sama Raja, Mah? Mamah tau hal ini?" tanya Hasan kepada Bu Darma.
"Yah, keceplosan," batin Bu Darma.
"Em, anu, iya, Leo. Tapi, gak sering koq. Itu aja, mamah langsung marah-marah sama, Ceri," jawab Bu Darma dengan suara lunak.
Hasan menghembuskan nafas. Ia benar-benar tak menyangka. Ingin sekali, Hasan menonjok sesorang hari ini. Ia mengepalkan tangannya di bawah. Hana melihat tangan Hasan yang dikepalkan dengan erat, hingga bekas-bekas lukanya terlihat menonjol. Dan itu cukup membuatnya takut.
"Kamu ada hubungan apa sih, sama dia, Han?" tanya Hasan memandang Hana yang masih menunduk.
Hana kini memandang Hasan.
"Aku gak ada hubungan apa-apa, San! Cuman temen aja. Seperti yang aku bilang kemaren sama kamu," jawab Hana.
"Yakin cuman temen aja?" tanya Hasan menahan amarah.
"Beneran, aku gak bohong," jawab Hana sambil mengelus lengan Hasan.
Hana kemudian meremas tangan Hasan agar melunak dan tidak mengepal lagi. Hana mengelus tangan Hasan di bawah meja. Matanya terus memandang Hasan yang kini menatapnya dengan tajam. Seperti singa yang hendak menerkam mangsa.
"Please jangan marah sama aku, aku takut kalo kamu marah, San!" batin Hana, masih memandang Hasan.
"Kalo sampe kamu ada hubungan sama, Raja! Aku gak bakal kasih kamu ampunan, Han! Cukup hubunganmu dengan Abang aja! Jangan dengan yang lain. Fokus sama aku aja," batin Hasan.
"Aduh, malah jadi kacau gini. Mulutku juga tidak bisa dikontrol," batin Bu Darma.
__ADS_1