
"Saat kamu cemberut, kamu terlihat imut banget, Han! Gemassss aku!" kata Hasan dalam hatinya.
"Aku kasih tau sama kamu, Han. Yang masih muda, mapan dan tampan, bukan hanya aku aja. Kebanyakan orang yang mengikuti tradisi perjodohan di usia muda, minoritas mereka sudah mapan. Kamu gak tau aja," terang Hasan.
"Tapi tetep aja kamu yang paling perfect, San!"
"Kamu ngomong begitu kan karena kamu nikahnya sama aku. Coba kalo bukan sama aku. Aku yakin, kamu pasti juga akan ngomong hal yang sama seperti yang kamu ucapkan barusan!"
Hana terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan Hasan. Pertanyaan Hasan ada benarnya juga.
"Ngomong-ngomong, kamu muji-muji aku terus ada apa, Han? Kamu mau minta sesuatu sama aku?" tanya Hasan menyelidik.
"Minta apa! Tanpa aku minta, kamu juga udah ngasih koq ... Jujur San, aku seneng bisa kenal sama kamu," ucap Hana sambil terus menatap Hasan.
Hasan merasa sangat senang mendengar pengakuan dari Hana, "makasih Han. Aku juga seneng bisa kenal sama kamu,"
"Dan juga menjadi suamimu," lanjut Hasan dalam hatinya.
Ada perasaan yang lebih dari sekedar kagum diantara mereka. Namun, mereka sendiri masih bingung. Entah perasaan apa itu. Mereka tak dapat mengucapkannya.
Hasan dan Hana terhanyut oleh perasaan masing-masing. Hana untuk pertama kalinya, merasa nyaman, dan aman berada di sisi Hasan. Sedangkan Hasan, ia pribadi yang jika menyukai seseorang, ia akan terus memperjuangkannya. Tapi, ia lebih menuruti nasehat dari orangtuanya ketimbang perasaannya sendiri karena berkat orangtuanya, ia bisa menjadi anak yang mapan dan berhasil di usia muda.
Saat di luar negeri, Hasan pernah menyukai seseorang, mereka bahkan baru saja berpacaran selama satu bulan. Namun, orangtuanya yang mempunyai niat ingin menjodohkan ia di usia muda akhirnya membuat hubungannya terpaksa kandas di saat sedang berbunga.
Bunga yang mulai mekar itu terpaksa berubah menjadi kuncup kembali.
Hasan dan Hana sudah sampe di rumah. Hana yang merasa gerah dan tadi sore mandi hanya menggunakan air saja, memutuskan untuk mandi lagi dengan sabun yang baru saja ia beli.
Hasan berinisiatif untuk membantu Hana dengan cara menata semua sayur mayur di dalam kulkas. Serta, ia juga hendak memasak makanan yang sudah biasa ia masak saat masih tinggal sendirian.
Hasan mengambil tempe dan bahan untuk membuat sayur SOP. Hasan mulai memotong satu papan tempe dengan ukuran yang sama. Ia menyalakan kompor dan memanaskan minyak di atas wajan. Sambil menunggu minyak panas, ia mencicil memotong sayur dan sedikit daging untuk SOP.
Hasan terlihat sangat lihai memasak. Hal itu terlihat dari caranya bekerja. Mungkin karena sudah terbiasa ia lakukan dulu saat masih di luar negeri, dan di rumahnya sendiri saat belum ada Hana.
__ADS_1
Hana yang sudah selesai mandi, keluar sambil menghirup aroma masakan, ia mengembangkan senyum sambil berkata, "hemmm, aroma brambang gorengnya bikin aku laperrrr! Siapa yang masak? Masa Hasan?"
Hana bertanya dalam dirinya sendiri. Dengan langkah cepat, ia bergegas ke arah dapur. Baru sampai di atas anak tangga dekat meja makan, ia terpana melihat Hasan yang mengenakan celemek membelakangi dirinya tengah fokus menuntaskan masakannya.
Hana merasa terharu, ini pertama kalinya ia melihat seorang laki-laki bisa memasak. Dan itu terjadi pada suaminya sendiri. Ada air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Hana buru-buru mengelapnya dengan kasar agar gak ketahuan oleh Hasan.
Hana melangkahkan kakinya mendekati Hasan. Menuruni dua buah anak tangga dengan menenteng handuk di lengannya.
"Ya ampun, ada master chef lagi masak rupanya," ucap Hana sambil menjajari Hasan.
"Hana!" seru Hasan yang kaget melihat Hana tiba-tiba sudah berada disampingnya.
Hasan terjingkat melihat Hana. Ia mengelus dadanya, " kaget tau, Han!"
"Hehehe, sory! Aku cicipin boleh gak?" tanya Hana.
"Boleh dong,"
Hana kemudian mengambil sendok dan mengambil sedikit kuah SOP yang dimasak oleh Hasan.
Mata Hana membulat merasakan kuah SOP di lidahnya.
"Enak sih! Kamu pinter masak juga ya rupanya. Masya Alloh, banyak banget sih keahlian yang kamu bisa, San! Pasti ada banyak rahasia dalam diri kamu, yang belum aku tau nih," ucap Hana penuh kekaguman.
"Aku tau, kamu muji aku kayak gitu karena kamu gak mau masak, iya kan?"
"Ah, suudzon aja kamu, aku bantuin nata deh," ucap Hana sambil berlalu ke belakang untuk menjereng handuknya yang basah, lalu kembali lagi ke dapur membantu Hasan.
Hana menata piring di meja, dan mengambil tempe dari penyaringan minyak, menaruhnya di atas piring.
Hasan memindahkan sayur SOP tersebut ke dalam mangkok saji, dan meletakkannya di atas meja makan.
Mereka berdua kemudian duduk berhadapan dan mulai menikmati hidangan makan malam mereka sambil sesekali tersenyum dan saling memandang satu sama lain.
__ADS_1
Malam yang indah untuk pasangan pengantin baru yang menikah karena perjodohan. Rupa-rupanya, istilah nikmatnya pacaran setelah menikah, mungkin akan dirasakan oleh mereka berdua.
***
Raja tau siapa yang harus ia temui terlebih dahulu untuk mengorek informasi lebih lanjut tentang masalah Samuel yang sebenarnya, sebelum ia datang ke basecamp.
Raja menunggu Dimas di taman kota. Ia memilih Dimas karena ia tahu, Dimas tidak bisa lama-lama untuk berbohong kepadanya.
Setelah cukup lama menunggu, akhirnya Dimas datang juga dengan berjalan kaki dari arah kanan.
Dari jauh, Dimas sudah bisa merasakan ada hawa yang tidak biasa dari aura Raja. Dimas mengatur nafasnya agar tidak terlihat gugup.
"Sory Ja, aku telat. Soalnya tadi aku udah tidur," ucap Dimas kemudian duduk di samping Raja.
Raja tidak menjawab kalimat Dimas. Matanya masih menatap tajam ke depan dengan kedua lengannya ia tumpukan di atas lututnya.
Dimas menelan ludah melihat raut wajah Raja yang terlihat serius dan menahan emosi.
"A-a-ada apa Ja? Kamu ngajak aku ketemuan malem-malem begini! Gak biasanya kamu," tanya Dimas sambil menggaruk tengkuknya dan diiringi senyuman.
Raja kali ini mengalihkan pandangannya ke arah Dimas dengan tajam. Dimas mendadak gugup karena ditatap tajam oleh Raja.
"Dim, aku mau to the point aja sama kamu. Kamu tau kan, aku gak suka kalo dibohongin! Apalagi kamu tau, aku selalu membela yang benar. Terutama buat temen-temen aku sendiri. Termasuk kamu kalo ada masalah, pasti aku selalu bantu," ucap Raja serius.
Dimas hanya menyimak, ia belum berani untuk bertanya karena Raja belum selesai bicara.
"Dim, bukannya aku mau ngancem kamu. Tapi, kalo kamu gak mau jujur sama aku tentang masalah Samuel yang sebenarnya, aku bakal cabut beasiswa kamu dari sekolah," ucap Raja dengan mantap.
Dimas kaget dan langsung memohon kepada Raja, agar beasiswanya tidak di cabut.
"Ja-jangan, Ja! Aku mohon, nanti gimana dengan sekolah aku!" ucap Dimas memelas.
"Kamu tinggal pilih aja Dim, mau jujur? Atau, beasiswa kamu aku cabut," ancam Raja dengan nada santai.
__ADS_1
Dimas terdiam sejenak. Ia menimang-nimang pikiran dan hatinya. Dari raut wajah Dimas, terlihat jelas kalo dia sedang bimbang.