
"Nah, sebelah kanan depan kantor itu, toilet yang berada di lantai satu. Toilet cewek dan cowok bersebelahan, tapi luas koq dalemnya. Ada ruangan ganti baju juga, kalo olahraga," tutur Hana sambil menunjuk toilet.
Hasan menganggukan kepalanya tanda mengerti. Mereka berdua kemudian kembali berjalan.
"Nah, itu lapangan buat upacara, buat main basket juga, dan itu, tempat parkir, kamu pasti tau, dan di sebelah-sebelahnya itu adalah kantin. Tempat jualan pedagang kaki lima juga. Terus di depan kantin itu, ada ruangan praktek bahasa inggris," Hana berkata sambil menunjuk tempat-tempat yang ia maksud.
Hasan menyimak dengan baik, semua penjelasan dari Hana. Setelah selesai menjelaskan denah lantai satu, mereka lanjut ke lantai dua.
"Nah, ini nih kelas kita, San!" kata Hana sambil berdiri sedekap diiringi senyuman, Hasan memonyongkan bibir bawahnya sambil manggut-manggut.
"Dibelakang sebelah kanan itu, masih ada tempat duduk kosong, kayaknya ntar yang nempatin kamu, sih. Dan aku, duduk di sini," kata Hana menepuk meja paling depan sebelah kiri.
"Wah, jauh banget yah tempat duduk kita!" tanya Hasan diiringi senyuman.
"Kita lanjut lagi yah, soalnya di lantai dua ini ada tempat praktek jurusan kita, Lab Komputer, UKS, ada toilet juga, terus, ada Mushola, dan ada Lab buat jurusan-jurusan yang lain, and ... Di atas pojok depan sana ...." Hana kemudian keluar dari dalam kelas, dan Hasan mengikutinya.
"Tuh, San! Itu ada taman, taman atas depan sekolah. Kamu boleh jalan ke sana kalo pengin liat. Tapi, mendingan sekarang, kamu turun dan kembali ke ruangan BK deh. Soalnya, murid-murid yang lain udah pada berangkat. Nanti kamu bakal di bawa sama wali kelas TKJ, namanya, Pak Mardi. Selain sebagai wali kelas, Pak Mardi juga guru praktek jurusan kita, San. Orangnya ramah dan pinter, juga pendiam ... Kalo gak ada hal lain yang mau kamu tanyakan, lebih baik kamu segera turun saja yah," ucap Hana datar.
"Oke! Thank's ya, Hana. Kayaknya gak sulit buat ngapalin denah sekolah di sini, aku kembali ke bawah dulu yah! Sampai ketemu nanti," kata Hasan sambil mengerlingkan satu matanya dan tersenyum sangat manis.
Hana sedikit terpesona dengan Hasan, apalagi saat Hasan mengerlingkan matanya, Hana merasa ada yang lucu, namun ingin melihat lagi.
***
Setelah beberapa menit, banyak siswa dan siswi memenuhi sekolah Angkasa. Bel sekolah pun berbunyi dengan brisiknya, semua siswa memasuki kelas masing-masing.
"Han, denger-denger, ada siswa baru loh!" kata Yusi sedikit berbisik.
"Kata siapa, Yus?" tanya Hana pura-pura tidak tau.
"Aku denger anak-anak di bawah, pada ngomongin, katanya ganteng banget loh. Mirip artis Korea juga. Samuel kalah kayaknya. Setiap yang liat dia, hatinya langsung meleleh katanya," ucap Yusi berapi-api.
"Ah, masa sih? Seganteng apa sampai pada meleleh? Emangnya ice cream kena panas, bisa meleleh! Ckckckc! Terus, kamu sendiri, udah liat belum, Yus?" tanya Hana sambil menahan senyum.
__ADS_1
"Iya belom lah, aku juga penasaran, kira-kira, anak baru itu bakal masuk ke kelas apa yah?" tanya Yusi kembali sambil berangan-angan.
"Kita tunggu aja," jawab Hana sambil membolak balikan buku tulis.
"Tunggu apa, Han!" ucap Yusi sumringah
"Iya tunggu aja, siapa tau anak baru itu, masuk kelas kita, jadi kamu boleh, tiap hari nglirikin!" kata Hana sambil tersenyum.
"Wah, jangan-jangan kamu udah tau ya, Han!" kata Yusi sambil menepuk lengan Hana.
Belum sempat menjawab, Pak Mardi datang ke kelas TKJ. Tetapi hanya sendiri.
"Ahh, Pak Mardi datang sendirian, Han, berarti anak baru itu gak masuk kelas kita," ucap Yusi berbisik.
"Terus ngapain, Pak Mardi ke sini? Ini kan bukan jam nya!" jawab Hana.
"Oh iya, yah!" kata Yusi menggaruk kepalanya.
Mendengar suara deheman Pak Mardi, Hasan muncul dari balik pintu. Dan semua anak seolah tersihir akan ketampanannya. Terutama kaum hawa, mulut mereka ternganga, mata mereka tak bisa berkedip. Tatapan takjub dan termehek-mehek menyelimuti pikiran kaum hawa.
Hana yang sudah tau kedatangan Hasan, hanya bisa tersenyum. Apalagi melihat seluruh teman-temannya yang tampak kagum dengan pesona ciptaan Tuhan di depan mereka, membuat Hana menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Gilaaaa! Tampan banget!" kata Gerhana memuji
"Ya ampunn, itu sih artis yang dari cina itu ... Aduhhh, aku lupa namanya deh!" sahut Dara kegirangan.
"Sudah, sudah jangan berasumsi sendiri-sendiri, lebih baik saya kenalkan ke kalian langsung ... Anak-anak yang Bapak sayangi, dia namanya, Hasan," terang Pak Mardi sambil tersenyum melihat ekspresi anak didiknya.
Hasan membungkuk dan tersenyum simpul ketika Pak Mardi mengenalkannya kepada siswa TKJ.
"Dia siswa pindahan dari luar negeri," ucap Pak Mardi kembali membuat siswanya pada heboh.
"Uwoww .... " jawab seluruh siswa termasuk, Hana.
__ADS_1
"Pantesan mirip-mirip artis itu loh," sahut Dara lagi.
"Jangan norak, Dara!" Cantika menyeletuk.
Cantika juga kagum dan terpesona dengan Hasan, hatinya ikutan meleleh, bayangan-bayangan India menari-nari ditengah taman Bunga, dengan lakon dirinya dan Hasan.
"Bapak minta kepada kalian untuk bekerja sama dengan, Hasan. Tapi jangan ganggu dia yah, terutama yang cewek-cewek nih! Yang pada kesemsem ... Hasan, silahkan kamu duduk di bangku yang kosong, belakang Narandra, alias Damar. Panggil dia, Damar. Karna dia sukanya dipanggil, Damar!" terang Pak Mardi sambil menunjuk bangku di belakang Damar.
"Terimakasih, Pak!" Hasan membungkuk kepada Pak Mardi, lalu berjalan menuju bangkunya.
Semua mata mengiringi langkah kaki Hasan.
"Oke, kalian tunggu pelajaran dari Bu Salma, sebentar lagi orangya ngajar, jangan berisik yah! Bapak tinggal dulu, selamat pagi!" ucap Pak Mardi kemudian pergi.
"Pagiii, Pakkk!" jawab murid serempak.
Sepeninggalnya Pak Mardi, semua kaum hawa, kecuali Hana dan Yusi, menghampiri Hasan. Mereka sangat heboh melihat cogan seperti malaikat menghuni kelas mereka.
"Yus, kamu gak ikut gabung mereka?" tanya Hana menyenggol lengan Yusi.
"Aku akuin, Han, aku juga suka sama Hasan, tapi, aku gak senorak itu juga," jawab Yusi sembari melihat tingkah lebay teman-temannya.
"Serius? Gak mau ikut nyamperin?" tanya Hana memancing Yusi.
"Ntar aja kalo ada waktu untuk berdua, aku langsung minta nomer hapenya," ucap Yusi terkekeh.
"Emangnya berani, kamu! Gimana kalo kamu pingsan duluan, karena gak kuat dengan pesonanya?" ledek Hana sambil menahan senyum.
"Sialan, kamu!" ucap Yusi dengan wajah kesal.
Hana tertawa melihat ekspresi Yusi. Ia kemudian melirik Hasan yang tampak risih dengan keberadaan cewek-cewek di sekelilingnya. Hana tersenyum sendiri, melihat wajah Hasan.
Jam istirahat pun berbunyi, biasanya semua anak berhamburan keluar buat jajan. Tetapi, hari ini lain, mereka malah pada antri ngrubutin Hasan.
__ADS_1