
Hasan dan Hana pun sampai di rumahnya. Hana memutuskan untuk mandi terlebih dahulu karena sudah sangat risih dengan tubuhnya. Akan tetapi, sabun dan samponya sudah habis. Terpaksa Hana membalikan botol sabun dan samponya. Tanpa keramas, akhirnya Hana selesai mandi, dan langsung masuk ke dalam kamarnya.
Sampai di kamarnya pun ia kembali bingung, handbody miliknya juga sudah habis. Hana membalikan tube handbodynya.
Hana bingung dan merasa tidak enak jika harus minta kepada Hasan. Hana terlihat mondar-mandir di kamarnya.
Hasan yang kebetulan juga sudah selesai mandi berinisiatif masuk ke dalam kamar Hana yang pintunya tidak di tutup.
"Ada apa, Han? Koq kayak orang bingung gitu!" tanya Hasan sambil menggebeg rambutnya yang basah.
"Gak papa," jawah Hana singkat, kemudian duduk di kasurnya.
Hasan memperhatikan raut wajah Hana yang tampak cemberut.
"Kamu kenapa?" tanya Hasan menghampiri Hana, dan duduk di sebelahnya.
"Duh, aku mesti ngomong jujur gak yah! masa
Hasan gak tau sabun aku dah pada abis sih," Hana berkata dalam hatinya.
Hana kemudian beranjak dari tepi kasurnya, dan menuju meja rias.
"Koq dia malah pergi sih," ucap Hasan dalam hatinya, dan terlihat bingung.
"Sini deh, San! Duduk," ucap Hana sambil menepuk kursi di depan meja riasnya dengan kaca berukuran cukup besar.
Hasan menuruti perintah Hana, ia kemudian duduk di kursi. Sementara Hana berdiri di belakang Hasan.
"Ada apa, Han? Koq aku harus duduk di sini!" tanya Hasan yang tidak mengerti.
Hana kemudian mencolokan kabel hairdryer ke dalam stop kontak dan menyalakan alat tersebut.
"Daripada kamu capek-capek ngeringin rambut pake handuk yang gak bakal kering-kering, mending pake ini aja, cepet!" ucap Hana sambil memainkan alat tersebut di atas kepala Hasan.
Dengan telaten Hana mengacak rambut Hasan dengan lembut supaya keringnya rata.
Hasan tampak menikmatinya, apalagi dia dapat dengan jelas melihat wajah cantik Hana yang terpampang di kaca, beserta wajahnya. Hasan sesekali tersenyum memandang wajahnya dan Hana.
"Serasa di salon nih aku. Apalagi kalo sambil di pijitin," kata Hasan memejamkan mata dan tersenyum.
"Ye enak di kamu, susah di aku dong ... bentar lagi kering nih," ucap Hana.
Hasan lalu melihat alat kosmetik Hana yang tertata rapih di atas meja. Hasan tampak heran dengan botol handbody Hana yang terbalik. Dengan polosnya, Hasan bertanya kepada Hana.
"Han! kenapa sih, sampo, sabun, dan ini handbody kamu, pada kebalik semua tutupnya di bawah. Karya baru, atau gimana?" tanya Hasan diiringi tawa.
__ADS_1
Hana mendengus kesal karena Hasan tidak peka. Ia kemudian menyuruh Hasan untuk mengeceknya.
"Coba deh kamu angkat," ucap Hana.
Hasan kemudian mengangkat botol tersebut. "Koq ringan banget, Han!"
Hana tidak menjawabnya. Hasan kemudian mencoba membuka tutup handbody tersebut dan mencoba untuk mengeluarkan isinya.
Hasan tetiba merasa sangat malu dengan perbuatannya. Ia kemudian berdiri dan menggaruk rambutnya yang sudah selesai di keringkan oleh Hana.
"Aduh, sory banget, Han! Aku gak tau! Kenapa kamu gak bilang sama aku, kalo kebutuhan kamu udah pada abis? Aku juga lupa lagi, tunggu sebentar yah," Hasan terlihat panik dan segera berlari ke kamarnya untuk mengambil kartu ATM.
Hasan dengan cepat sudah kembali lagi ke kamar Hana. Ia memegang tangan Hana dan berkata.
"Han, aku bener-bener minta maaf banget. Aku lupa akan tanggung jawab ku sama kamu. Aku harusnya nyukupin kamu,"
Hana tidak menjawab kalimat Hasan. Ia lebih asyik untuk memperhatikan raut wajah Hasan yang merasa bersalah dan bingung kepada dirinya.
"Ini ATM buat kamu. Aku bener-bener lupa sama kebutuhan pribadi kamu. Kamu boleh pake ATM ini buat belanja apapun yang kamu butuhkan," ucap Hasan menatap lekat mata Hana.
Hana cukup kaget mendapatkan ATM secara cuma-cuma dari Hasan.
"San, ini apa gak berlebihan? Masa aku dikasih kartu ATM sih!" ucap Hana merasa tidak enak.
"Gak, Han. Aku malu banget sama kamu, maaf yah," ucap Hasan mengatupkan kedua tangannya di depan Hana.
"Iya, San! Tapi ini serius aku dikasih kartu?"
"Iya, ATM itu sengaja buat kamu koq. Aku udah pegang sendiri. ATM itu tiap bulannya aku isi, Han! Sekarang, kita belanja yah, beli semua kebutuhan kamu" ucap Hasan.
Hana kembali tersenyum melihat ekspresi dan tingkah Hasan yang gugup dan cemas.
"Kenapa, Han! Koq malah senyum-senyum gitu! Aku ngomong serius loh sama kamu, gak main-main,"
"Hehehe, kamu itu lucu banget tau kalo lagi panik gitu," ucap Hana sambil mencubit pipi Hasan.
"Awww sakit!" pekik Hasan sambil mengelus pipinya.
"Aku maklumin koq, San. Kamu gak usah heboh gitu. Ini pertama kalinya kamu nanggung kebutuhan aku. Sebenernya, aku mau ngomong sama kamu dari kemaren tentang hal ini, cuman, aku gak enak sama kamu,"
"Aku juga minta maaf sama kamu, Han. Karena gak peka. Aku sebenernya pengin ngasih ATM itu sejak kamu kesini, tapi aku lupa-lupa terus. Pokoknya mulai sekarang, kalo kamu butuh apa-apa, kamu harus bilang sama aku. Jangan pernah ngerasa gak enak, oke!" ucap Hasan menyentuh puncak kepala Hana.
"Iya, San! Makasih ya," Hana tersenyum penuh kebahagiaan.
Hasan mengangguk dan tersenyum menatap wajah Hana.
__ADS_1
"Ayo, aku anter ke supermarketnya," ucap Hasan.
"Aku sendiri aja, San! Naik taxi,"
"Gak, aku anterin aja," jawab Hasan kekeuh.
Hasan tampak memaksa untuk mengantar Hana belanja. Ia masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil jaket. Sebelum keluar kamar, ia mendapat pesan baru. Hasan segera membukanya.
"Congrats, Leo. Miniatur kamu dapet peringkat satu, selamat yah!" pesan dari Praja.
Mata Hasan berbinar, ia melompat-lompat kegirangan.
"Alhamdulillah ya Alloh," ucap Hasan girang.
Hana melihat tingkah Hasan yang kegirangan.
"Kenapa, San? Kayaknya seneng banget! Dapet hadiah?" tanya Hana bingung.
Hasan memegang kedua tangan Hana dengan erat.
"Kamu tau gak, aku ... Aku ...."
"Ada apa sama kamu?" tanya Hana penasaran melihat ekspresi Hasan yang bahagia.
"Aku menang lomba miniatur, Han," ucap Hasan mantap.
"Yang bener, San?" tanya Hana dengan ekspresi kagetnya.
Hasan mengangguk riang.
"Wahhhhh, selamat ya, San! Aku seneng banget dengernya," ucap Hana tak kalah bahagia. Tanpa sadar mereka saling berpelukan saking bahagianya.
Mereka saling mendekap cukup lama menikmati momen tersebut. Hingga akhirnya tersadar.
"Astagfirulloh," pekik Hasan dan Hana kemudian melepaskan pelukan mereka.
"Maa, Han, aku gak sengaja," ucap Hasan.
"Iya aku juga minta maaf, San! Reflek," jawab Hana.
Mereka kemudian terdiam sama-sama menahan malu.
"Lucu ya, padahal kita udah suami istri. Tapi gak boleh ngapa-ngapain," ucap Hasan.
"Emang gak boleh! Kita harus fokus belajar. Lagian kita juga belom saling suka kan," jawab Hana.
__ADS_1
"Ya udah lah, gak usah bahas perasaan di sini. Kamu jadi belanja gak?" tanya Hasan.
"Jadi dong! Kamu jadi nganterin aku?" tanya Hana balik bertanya.