
Hasan kemudian berjalan menuju gazebo belakang. Dan ternyata benar, Hana tengah tertidur pulas dengan ekspresi wajahnya yang begitu cantik bak Puteri dongeng. Apalagi dengan semilir angin yang mampu menerbangkan helai-helai rambut Hana.
Bunga-bunga di taman, beberapa kelopaknya mampu terbang dan hinggap di rambut Hana begitu saja. Hasan tersenyum bahagia memandang istrinya yang terlihat seperti malaikat tidur di gazebo sana.
Perlahan, Hasan mendekati Hana. Hasan mencopot sandalnya, lalu naik ke atas gazebo. Hasan memandangi Hana dari ujung kaki hingga kepala.
Siapapun yang melihat Hana pasti akan tergoda. Hasan tak munafik, dia juga tergoda melihat kemolekan tubuh Hana yang sekarang hanya mengenakan kaos dan celana tiga perempat. Kulitnya yang putih dan mulus tanpa cacat menambah keseksian Hana.
Apalagi, Hasan sudah menjadi suaminya. Tapi, mengingat kalimat yang diucapkan Bu Darma sebelum pergi, membuat Hasan malu sendiri. Hasan kemudian memandangi wajah Hana sampai puas. Hasan menyentuh wajah Hana dengan detail, mulai dari keningnya, alis, mata, hidung, pipi, bibir, dan juga dagunya.
"Kalo suatu hari nanti aku tak dapat melihatmu lagi, aku bisa merasakan bentuk dan detail wajahmu, Han. Aku akan selalu ingat bentuk wajahmu," gumam Hasan dalam hatinya.
Hasan merasa tertarik untuk mengecup bibir ranum Hana. Perlahan, ia mendekatkan wajahnya, dan ... Mengecup bibir Hana sekilas.
Hasan merasakan jantungnya berdebar lebih kencang. Hasan meraba jantungnya sendiri. Setelah mengecup bibir Hana, seluruh tubuhnya seperti tersengat listrik. Ia merasa panas di sekujur tubuhnya.
Hasan lalu mengecup bibir Hana untuk kedua kalinya. Rasanya manis, lembut, kenyal, dan membuatnya ketagihan.
Hasan lalu mengecup bibir Hana kembali. Kali ini, Hasan melakukannya lumayan lama. Hasan sedikit menjilat bibir Hana, dengan lembut.
Untuk yang terakhir kalinya, Hasan menyedot bibir Hana, dengan sedikit nafsu. Hana kemudian menggeliat membuat Hasan kaget hingga ia cepat-cepat melepaskan tautannya dan langsung terjun ke bawah gazebo.
Jantung Hasan seperti mau copot. Seperti maling yang habis mencuri, dan hampir kepergok oleh pemiliknya. Hasan tertelungkup di tanah yang sudah beralaskan kerikil hias. Lututnya sedikit sakit karena terbentur cukup keras.
Hana kemudian terbangun dan meregangkan tangannya. Hana tersenyum dan menghirup udara segar tersebut.
Hasan yang menyadari sandalnya bisa terlihat oleh Hana, ia segera menariknya ke dalam untuk bersembunyi bersama dirinya di bawah gazebo. Hasan benar-benar takut jika dirinya ketahuan oleh Hana.
Hana mengusap mulutnya yang sedikit terasa tebal dan berair.
"Apa tadi gerimis ya? Koq bibir aku ada airnya," ucap Hana kemudian melongok ke luar atap gazebo.
Dilihatnya langit masih cerah dengan sinar matahari yang mulai naik.
__ADS_1
"Gak gerimis, apalagi hujan! Tapi koq ... Masa iya sih aku ngiler. Wah, untung aja, Hasan gak tau kalo aku ngiler. Kalo tau, bisa diketawain aku. Eh, mamah masih di sini gak yah? Aduh, aku keenakan tidur nih," ucap Hana kemudian memakai sandalnya dan bergegas keluar dari halaman belakang.
Hasan yang masih bersembunyi di bawah gazebo, bisa bernafas lega karena Hana sudah pergi.
"Huft, syukurlah gak ketahuan. Hampir saja. Mau ditaruh dimana mukaku, kalo Hana tau hal ini. Gila, aku koq bisa berani banget curi-curi kiss gitu sama dia,"
Hasan kemudian keluar dari persembunyiannya. Ia mengusap seluruh badannya yang terkena debu dan berjalan perlahan agar Hana tak melihatnya jika ia juga habis dari gazebo.
"Untung dia gak ada di dapur," Hasan mengusap dadanya, lalu mengambil air minum dari kulkas dan menuangkannya ke dalam gelas.
Hana muncul dari ruang tamu, dan melihat Hasan yang tengah meneguk air minum.
"Hasan! Mamah udah pulang yah? Koq kamu gak ngasih tau aku sih," ucap Hana menghampiri Hasan.
Setelah puas meneguk, Hasan mengembalikan botol itu ke dalam kulkas.
"Mau dong segelas aja, San!" ucap Hana yang sekarang duduk di kursi.
Hasan melirik Hana sekilas, lalu mengambil botol dari kulkas dan menuangkannya ke dalam gelas. Hasan memberikannya kepada Hana.
"Makasih," jawab Hana.
Hana meneguknya. Hasan merasa tersihir saat melihat Hana minum air. Hana terlihat begitu seski. Apalagi, saat beberapa air yang merembes turun menjalar ke leher jenjang Hana.
Hasan menelan ludahnya sendiri. Sadar jika dirinya tengah dikuasai nafsu, Hasan kemudian mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Ia mengucap istighfar dalam hatinya.
"Astaghfirulloh, jauhkan pikiran nafsu nakal ini, ya Alloh. Aku tau, dia istriku. Halal bagi kami untuk melakukan hal apapun. Tapi, kami masih pelajar. Tidak mungkin kami berbuat seperti itu. Lagi pula, Hana pasti akan menolak mentah-mentah," ujar Hasan dalam hatinya.
"Kamu kenapa, San? Ngantuk? Kamu abis darimana sih? Koq tadi aku cari gak ada," tanya Hana sambil meletakan gelas di meja.
"Oh, aku tadi dari luar sebentar. Kamu tuh yang darimana, mamah pulang mau pamitan, aku cariin di kamar juga gak ada. Abis dari mana? Dari rumah, Wawan?" tanya Hasan pura-pura.
"Hehe, aku ketiduran di gazebo. Maaf yah," jawab Hana sambil menggaruk kepalanya.
__ADS_1
Hasan hanya tersenyum menanggapinya.
"Eh ngomong-ngomong, gimana? Udah dapet informasi apa dari, Mamah?" tanya Hana antusias.
"Banyak! Tapi, Mamah bilang gak boleh ngasih tau kamu," jawab Hasan sambil bertopang dagu memandang Hana.
"Koq gitu? Koq mamah lebih percaya sama kamu sih, dibanding aku. Aku kan anak kandungnya," kata Hana cemberut.
"Mana aku tau. Mungkin karena aku baik, gak nakal kayak kamu," jawab Hasan kemudian beranjak dari tempat duduknya dan beralih ke sofa depan tv.
Hana yang tidak terima kemudian mengejar Hasan. "Koq aku lagi sih, jelas-jelas yang nakal kamu. Kamu suka berantem,"
Hana menyingkirkan kaki Hasan, agar ia bisa duduk di sofa juga. Hasan merebahkan tubuhnya disana. Ia terlihat ngantuk.
"Laki-laki berantem itu wajar. Lah kamu, kamu udah jadi istri orang, kenapa masih suka pergi diem-diem sama cowok lain," ucap Hasan.
Hana menghela nafas mendengar kalimat Hasan.
"Iya aku salah, aku minta maaf. Tapi kan itu juga gak disengaja. Oh iya, kamu serius mau ngajakin aku muncak, San?" tanya Hana penasaran.
"Iya, kamu mau?" tanya Hasan dengan matanya yang terpejam.
"Em, sebenernya, Raja juga ngajakin aku muncak, San! Kita gabung aja gimana?"
Hasan kemudian membuka matanya. Ia sebenarnya sudah tau, tapi ia pura-pura tidak tau.
"Jadi, kapan kamu akan muncak sama, Raja? Kalo aku gak ngajakin kamu muncak, kamu masih tetep mau pergi berduaan sama Raja, di puncak gunung? Iya?" tanya Hasan tanpa ekspresi.
Hana menelan ludahnya sendiri. Ia memang salah. Tapi dia juga bingung.
"Iya, nggak lah, San! Aku emang ada rencana mau ngajak kamu juga. Kalo kamu gak ikut, kau juga gak bakal ikut. Aku gak pergi kalo gak berang kamu," jawab Hana sambil tersenyum.
"Yang bener? Ntar diem-diem pergi kan aku gak tau," ucap Hasan kembali memejamkan matanya
__ADS_1
"Bener lah, San! Kamu jangan marah ya sama aku," ucap Hana kembali.
"Heemm," jawab Hasan.