
Keesokan harinya di rumah kontrakan Aldari.
Aldari pagi-pagi sekali dirinya sudah bersiap-siap untuk berangkat ke terminal bus untuk membeli tiket untuk dirinya berangkat ke luar kota untuk beberapa hari lagi.
Dan Aldari yang ingin pergi ke terminal bus sendirian pun di larang keras oleh sang sahabatnya Rere.
"Loh enggak usah nolak bantuan dari sahabat loh sendiri yah Al!" kesal Rere yang mau mengantar sang sahabatnya untuk pergi ke terminal bus membeli tiket mala di tolak oleh sahabatnya yang sedikit memiliki sifat keras kepala.
"Huh, loh memang benar-benar keras kepala yah Al!" kesal Rere melihat wajah dari sang sahabatnya saat ini.
"Re, gue bisa kok pergi sendirian!" tolak Aldari ketika sahabatnya ingin mengantar dirinya untuk pergi ke terminal bus membeli tiket.
"Nanti kalau loh ngantar gue membeli tiket, loh enggak masuk kerja lagi nanti!" jelas Aldari terhadap sahabatnya yang ingin mengantar dirinya pergi ke terminal bus.
Rere yang mendengar penjelasan dari sang sahabatnya pun langsung mendengus kesal. Karena melihat sifat keras kepala dari sang sahabatnya yang tidak pernah berubah sama sekali.
"Kalau urusan kerja nanti gue bisa minta izin sama manajer restoran!" ujar Rere sambil mengenakan sepatu miliknya saat ini.
"Siap!" ujar Rere ketika selesai mengenakan sepatu miliknya saat ini. Rere pun langsung bangkit dari duduknya untuk menuju ke arah pintu keluar rumah kontrakan Aldari.
"Ayok berangkat, nanti loh kehabisan tiket!" ujar Rere sambil melangkahkan kakinya menuju ke luar rumah untuk menuju ke parkiran motor miliknya saat ini.
Mau tak mau Aldari pun terpaksa menerima bantuan dari sang sahabatnya yang sudah di anggap oleh nya seperti keluarga nya sendiri.
"Makasih yah Re!" ujar Aldari sambil mengikuti langkah kaki sang sahabatnya saat ini.
Rere yang mendengar ucapan terima kasih dari sang sahabatnya tersebut pun langsung menoleh ke samping melihat wajah dari sang sahabat nya saat ini sedang mengikuti langkah kaki nya saat ini.
"Al, loh enggak usah sungkan-sungkan sama gue. Kalau loh butuh bantuan dari gue loh bilang saja!" ujar Rere sambil melangkahkan kakinya menuju motor miliknya yang sedang terparkir di halaman rumah kontrakan Aldari.
"lya...iya!" jawab Aldari sambil melangkahkan kakinya mengikuti Rere menuju ke tempat motor miliknya Rere saat ini.
Rere pun mulai memanasi mesin motor miliknya yang akan mengantarkan mereka ke terminal bus untuk membeli tiket.
~~
Dari jarak sekitar lima meter dari rumah kontrakan Aldari saat ini, tampak satu mobil berwarna hitam yang sedang terparkir di pinggir jalan saat ini.
Di dalam mobil hitam itu saat ini sedang di huni oleh lima laki-laki yang berbadan besar dan juga tegap yang akan mengawasi kemanapun Aldari akan pergi.
Atas perintah dari sang sekretaris Jastin, saat ini ke lima laki-laki berbadan besar dan juga tegap itu saat ini sedang mengawasi Aldari dan juga sang sahabatnya Rere yang masih belum bergerak dari parkiran motor miliknya saat ini.
__ADS_1
Sekitar lima menit, barulah Rere dan Aldari selesai memanasi mesin motor yang akan mengantarkan mereka ke terminal bus untuk membeli tiket.
"Ayok naik Al!" ujar Rere ketika sudah selesai memanasi mesin motor miliknya dan siap untuk mengantar sang sahabatnya untuk pergi ke terminal bus.
Aldari dan Rere pun mulai meninggalkan pekarangan rumah kontrakan Aldari untuk menuju ke terminal bus.
Setelah Aldari dan Rere melewati mobil yang berada di pinggir jalan yang tak jauh dari rumah kontrakan Aldari, dan tanpa di sadari oleh Aldari mau Rere tampak sebuah mobil yang mulai mengikuti Aldari dan Rere dari jarak yang lumayan dekat.
"Jangan terlalu dekat mengikuti nona-nona itu, nanti kita bisa ketahuan!" ujar salah satu laki-laki yang berada di dalam mobil suruhan Jastin saat ini.
"Baiklah!" jawab ke empat laki-laki yang berbadan besar dan tegap itu dengan kompak.
Beberapa menit menempuh perjalanan, kini Aldari dan juga Rere sampai di terminal bus untuk membeli tiket.
Rere pun langsung memarkirkan sepeda motor miliknya di parkiran khusus motor yang tak jauh dari tempat untuk membeli tiket bus untuk Aldari.
Tap...tap...tap
Terdengar langkah kaki Aldari dan juga Rere berbarengan menuju ke tempat loket menjual tiket.
Sesampainya Aldari dan juga Rere di depan loket pembelian tiket, Aldari pun langsung ikut antrian untuk mendapatkan tiket.
Beberapa detik menunggu giliran, kini giliran antrian Aldari untuk membeli tiket.
"Mbak, saya pesan satu tiket untuk ke kota X yah!" ujar Aldari kepada petugas loket yang sedang berjaga saat ini.
Petugas loket yang melihat Aldari saat ini pun langsung melihat identitas yang dikirim oleh mengejar nya tersebut di handphone miliknya saat ini.
Petugas loket pun langsung berdalil meminta identitas milik Aldari saat ini.
"Maaf nona, bisa saya pinjam kartu identitas nya sebentar!" pinta petugas loket untuk melihat identitas Aldari saat ini.
Tanpa merasa curiga Aldari langsung mengeluarkan kartu identitas nya dari dalam dompet miliknya tersebut.
"Ini mbak, ujar Aldari memberikan kartu identitas miliknya tanpa rasa curiga sama sekali.
Petugas loket itu pun langsung mengambil kartu identitas miliknya Aldari.
Satu menit berikutnya, petugas loket itu pun langsung menoleh ke arah dimana Aldari sedang menatap dirinya saat ini.
"Maaf mbak, sepertinya bus jurusan yang mbak inginkan sudah penuh!" kilah petugas loket itu terhadap Aldari yang sedang berdiri di depan antrian untuk mendapatkan tiket.
__ADS_1
Aldari yang mendengar ucapan dari petugas loket itu pun langsung terkejut karena tak mendapatkan tiket.
"Habis mbak!!!" tanya Aldari dengan nada suara yang kecewa karena dirinya tak mendapatkan tiket.
"Iya mbak!" jawab petugas loket yang sedang melayani pembelian tiket saat ini.
Petugas loket itu pun langsung mengembalikan identitas Aldari yang sempat dirinya pinjam tadi.
"Ini kartu identitas mbak nya!" ujar petugas loket tersebut.
Aldari pun langsung mengambil kartu identitas miliknya yang di pinjam oleh petugas loket tadi.
"Maaf yah mbak!" ujar petugas loket itu dengan merasa tidak enak hati karena telah berbohong kepada gadis yang sedang berdiri di hadapan dirinya saat ini.
"Iya enggak apa-apa mbak!" ujar Aldari dengan tersenyum tipis.
Aldari pun langsung melangkahkan kakinya menuju di sang sahabatnya sedang menunggu kedatangan dirinya saat ini.
Rere yang melihat wajah dari sang sahabatnya tampak tak bersemangat pun langsung melangkahkan kakinya untuk menyusul Aldari yang saat ini sedang menuju sang sahabatnya saat ini juga.
"Ada apa Al?" tanya Rere ketika sudah sampai di hadapan Aldari saat ini.
"Tiket nya udah habis...Re!" ujar Aldari dengan suara lirih nya tersebut.
"Masak sih udah habis!" jawab Rere yang kurang percaya bahwa tiket yang dijual di loket terbesar tersebut sudah habis.
"Iya!" jawab Aldari dengan suara kecewa lantaran tidak mendapatkan tiket untuk pergi ke luar kota.
"Kalau begitu kita ke loket yang satu nya lagi!" seru Rere terhadap Aldari yang saat ini sedang duduk di kursi tunggu.
"Emangnya ada!" tanya Aldari yang menatap sang sahabatnya saat ini.
"Ada" jawab Rere yang juga menatap wajah sang sahabatnya tersebut.
Lain halnya yang terjadi di kediaman Alex saat ini.
"Itu belum seberapa yang diriku lakukan terhadap dirimu saat ini!" gumam Alex yang sedang melihat layar handphone miliknya saat ini.
"Kau rasakan akibatnya"
Bersambung
__ADS_1