Menjadi Pembantu Tuan Muda Arogan

Menjadi Pembantu Tuan Muda Arogan
89. Menjadi pembantu tuan muda arogan


__ADS_3

"Apa kau bisa ulangi lagi ucapan mu Jastin?" tanya Alex dengan tatapan membunuhnya dan kondisi wajah merah padam penuh emosi sambil melihat ke arah dimana sang sekretaris Jastin tampak tak berkutik lagi.


Jastin yang mendengar ucapan dari Alex pun langsung menelan ludahnya dengan susah payah karena tak berani mengeluarkan suara untuk mengulangi ucapannya lagi.


Jastin yang masih memiliki sedikit keberanian pun langsung mengeluarkan suara dengan terbata-bata untuk menyampaikan apa yang terjadi sebenarnya di ruangan berias beberapa menit yang lalu ketika dirinya meninggalkan Aldari dengan para anggota MUA tadi.


Dengan menarik nafas dalam-dalam, Jastin pun menceritakan semuanya yang terjadi di ruangan itu.


"T-tuan, beberapa menit yang lalu, setelah saya meninggalkan nona di ruangan tempat dimana nona akan berias, nona Aldari sendiri lah yang telah menolak dirinya untuk dirias oleh para MUA. ujar Jastin dengan gugup menceritakan tentang Aldari pada CEO nya.


"Dan nona juga mengatakan jika dirinya salah orang untuk mereka rias, karena nona Aldari bilang jika dirinya hanyalah seorang pelayan di mansion tuan!" ujar Jastin menceritakan tentang semua nya yang terjadi di ruangan yang telah di siapkan untuk membantu Aldari berias.


"Maka dari itu ketua MUA mengizinkan nona keluar untuk mencari keberadaan tuan, untuk memastikan pada anggota MUA bahwa tuan salah orang untuk mereka rias!" ujar Jastin menceritakan tentang Aldari pada CEO nya.


"Nona juga meminta izin dengan para anggota MUA untuk menemui tuan!" ujar Jastin ketika dirinya mendapatkan laporan dari ketua MUA.


Kini kondisi wajah Alex tampak merah padam penuh emosi, setelah dirinya mendengarkan cerita dari sang sekretaris nya Jastin.


Alex langsung meraih gelas kaca yang ada di atas meja ruangan di mana dirinya untuk bersiap-siap mengadakan acara untuk Aldari, seketika terdengar suara bunyi yang begitu nyaring setelah gelas yang ada di genggaman tangan Alex di lempar ke arah dimana terpasang cermin yang begitu besar ukurannya.


Pyarrrtrrr...Pyarrrtrrr...pyarrrtrrr


Hancur sudah kaca yang seharga jutaan harganya karena lemparan gelas oleh Alex.


"Dasar perempuan pembangkang, sialan!" maki Alex terhadap Aldari yang telah berhasil melarikan diri dari gedung megah yang dirinya pesan untuk merayakan hari ulang tahun Aldari.


Alex yang sedang memaki-maki Aldari yang telah berani melarikan diri dari nya pun langsung menyumpahi Aldari yang telah berhasil melarikan diri.

__ADS_1


Sementara itu di tempat lain, tampak wajah Aldari sudah memerah karena dirinya mengalami batuk secara tiba-tiba.


"Uhuk, uhuk, uhuk,"


Tampak mata Aldari mengeluarkan air mata karena batuk yang Aldari rasanya begitu berbeda dengan batu-batu biasanya.


"Huh pasti dia yang sedang mengatai diriku!" batin Aldari sambil mengelap air mata nya yang keluar.


"Mudah-mudahan diriku bisa pindah dari kota ini!" batin Aldari memikirkan cara untuk pindah dari kota ini untuk menghindari Alex yang tak mau merelakan hutang-hutang Aldari terhadap dirinya.


"Pasti dirinya sudah mengetahui tentang diriku!" batin Aldari sambil mengelap keringat yang keluar dari kening mulus nan putih milik nya.


"Mudah-mudahan dirinya tidak mencari keberadaan diriku lagi!" gumam Aldari sambil berdoa berharap Alex akan lupa tentang dirinya.


Seperti doa yang tengah Aldari panjatkan sekarang ini, bisa terkabul bahkan bisa saja doa Aldari tidak di kabulkan oleh sang pencipta.


Tapi belum tentu jika Alex merelakan begitu saja apa yang telah Aldari lakukan terhadap dirinya, banyak uang yang di keluarkan untuk membayar acara ulang tahun Aldari yang ke dua puluh satu tahun ini.


Alex sampai merogoh kocek begitu banyak demi untuk merayakan hari jadinya Aldari yang sama sekali tak pernah dirayakan oleh Aldari. Maka dari itu lah Alex mengadakan acara yang begitu mewah hanya untuk Aldari.


"Tapi apa yang dilakukan Aldari saat ini?" jelas-jelas Aldari membuat seorang pebisnis no satu di kota X itu emosi yang luar biasa.


Entah apa yang akan dilakukan Alex ketika nantinya Aldari kembali ke mansion Alex.


Aldari yang sedang duduk di parkiran restoran pun langsung celingukan melihat ke arah kiri dan kanan untuk mewanti-wanti jika seseorang menghampiri dirinya yang sedang duduk menunggu kedatangan sang sahabat nya Rere pulang dari kerja.


"Semoga saja aku bisa meminta Rere mengantarkan diriku pulang!" batin Aldari sambil melihat ke arah pintu utama restoran tempat dirinya pernah bekerja.

__ADS_1


"Rupanya kau ingin bermain-main petak umpet dengan diriku!" batin Alex dengan menahan emosinya.


"Kau tunggu saja pembalasan dari diriku!" batin Alex yang sedang memaki-maki Aldari yang berani melarikan diri dari dirinya.


"Jastin kau lacak kebenaran perempuan pembangkang itu, aku mau laporan nya hari ini juga!" perintah Alex kepada sang sekretaris Jastin yang sedang berdiri di hadapan dirinya saat ini.


Jastin yang mendengar perintah dari CEO nya pun langsung melacak keberadaan Aldari dengan alat yang telah di beli beberapa hari yang lalu.


Jastin langsung meletakkan alat yang digunakan untuk melacak keberadaan Aldari di atas meja yang tak jauh dari tempat dirinya berdiri.


Tampak wajah Jastin begitu serius menatap layar yang ada di hadapannya saat ini.


Satu detik Jastin masih saja mengotak-atik layar yang ada di hadapannya saat ini. Masuk satu menit masih saja Jastin belum bisa melacak keberadaan Aldari dengan alat yang digunakan saat ini.


Masuk ke lima menit barulah Jastin bisa mengetahui titik keberadaan Aldari saat ini, kening Jastin tampak berkerut ketika dirinya melihat letak keberadaan Aldari saat ini.


Jastin dengan teliti melihat garis yang sedang mengarah ke arah dimana alat pelacak itu sedang mengarah ke mansion milik Alex saat ini.


"Apa mungkin nona Aldari pulang ke mansion tuan Alex!" batin Jastin sambil menggeser layar yang begitu besar ukurannya untuk memastikan bahwa letak keberadaan garis yang di tunjukkan saat ini tidak salah.


Alex yang melihat sang sekretaris Jastin tampak kebingungan melihat layar yang ada di hadapannya saat ini pun langsung melangkah kan kakinya menuju di mana sang sekretaris Jastin berdiri.


"T-tuan, tunjuk sang sekretaris Jastin pada CEO nya yang sedang menatap layar yang ada di hadapannya saat ini.


Alex dan Jastin pun langsung berada tatap melihat layar di hadapan mereka saat ini.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2