Menjadi Pembantu Tuan Muda Arogan

Menjadi Pembantu Tuan Muda Arogan
73. Menjadi pembantu tuan muda arogan


__ADS_3

Aldari dibuat senam jantung oleh Alex, bagaimana tidak senam jantung...Alex yang tiba-tiba saja sampai di hadapan dirinya langsung menyibakkan rambut panjang hitam milik dirinya ke samping telinga nya tersebut. Dan tampak jelas oleh Alex leher putih milik Aldari tersebut.


"Huh gadis ini benar-benar!" batin Alex ketika melihat leher putih milik Aldari tersebut.


"Bisakah kau tidak mengangga lebar seperti itu!" ujar Alex ketika melihat Aldari tak bisa mengendalikan diri nya ketika melihat perhiasan di tangan yang sedang dirinya pegang saat ini!"


"Jangan kau perlihatkan dirimu itu kampungan dan norak seperti itu dihadapan mereka semua!" ujar Alex sambil memasang kalung berlian ke leher putih milik Aldari tersebut.


"Apa kau tidak malu," mereka semua menatap dirimu!" seru Alex sambil melirik sekilas ke arah dimana penjaga toko perhiasan sedang menatap mereka berdua.


Aldari yang mendengar ucapan dari Alex, seketika dirinya menoleh ke arah dimana penjaga perhiasan yang sedang menatap dirinya dengan serius. Aldari hanya tersenyum kecut melihat penjaga perhiasan tersebut.


"Huh, malu sekali diriku!" batin Aldari ketika melihat semua orang yang ada di dalam toko perhiasan tersebut.


"Huh, apa aku norak dan kampungan!" batin Aldari melirik ke arah dimana Alex sedang menatap dirinya tersebut.


"Kau tidak perlu berekspresi seperti itu!"


"Kenyataan nya kau memang seperti itu!" seru Alex dengan suara ketus bicara dengan Aldari tersebut.


"Hanya melihat benda ini saja mata mu itu hampiri melompat dari tempat nya!" ujar Alex sambil merapikan rambut panjang milik Aldari tersebut.


"Pas dan cantik, gumam Alex ketika dirinya selesai memasang kalung di leher putih milik Aldari tersebut.


Setelah selesai acara drama pasang gelang dan kalung untuk Aldari, Alex pun menyuruh sang sekretaris Jastin untuk membayar barang yang dirinya beli.


"Jastin!" ujar Alex memanggil sang sekretaris Jastin yang setia berada di belakang CEO nya tersebut.


Jastin yang mendengar suara sang CEO nya pun langsung melangkah kan kakinya menuju di mana Alex sedang menatap dirinya tersebut.


"Iya tuan!" jawab Jastin pada sang CEO nya tersebut.


"Segeralah kau bayar barang yang di pakai oleh gadis itu!" ujar Alex sambil melirik ke arah dimana Aldari sedang berdiri sambil melihat dirinya di pantulan cermin.


"Memang benar-benar norak!" ujar Alex yang melihat Aldari yang begitu fokus menatap barang yang dirinya beli.


"Apa dirinya tidak capek!" dari tadi yang ku dengar iya asyik mengoceh, kalau tak ikhlas memberi barang ini nggak usah di kasih. batin Aldari yang sambil melirik ke arah dimana Alex sedang duduk.

__ADS_1


Aldari pun langsung menoleh ke arah dimana sang sekretaris Jastin sedang melakukan pembayaran barang yang dirinya pakai. Setelah Aldari mendengar ucapan Alex terhadap sang sekretaris nya Jastin tersebut.


Aldari yang mendengar ucapan Alex yang menyuruh sang sekretaris nya Jastin untuk membayar barang yang dirinya pakai pun langsung menoleh di mana sang sekretaris Jastin berdiri.


Aldari yang memang penasaran berapa harga gelang tangan dan kalung berlian yang iya pakai saat ini pun langsung menggeser tubuhnya sedikit ke arah dimana sang sekretaris Jastin berdiri.


"Kira-kira sebanyak apa yah...uang yang tuan Alex keluarkan untuk membayar barang yang diriku pakai ini!" batin Aldari yang tidak sabar ingin melihat uang yang di keluarkan oleh sang sekretaris Jastin tersebut.


Alex yang melihat Aldari yang tidak mengedipkan mata melihat ke arah dimana Jastin berdiri pun langsung berdecak kesal.


"Selain norak dan kampungan kau ternyata juga mata duitan!" seru Alex yang sedang menatap Aldari tersebut.


Aldari yang mendengar ocehan Alex terhadap dirinya yang tak ada henti-hentinya hanya diam saja. Toh...jika iya membelah dirinya tak akan pernah bisa menang melawan pria arogan di hadapan dirinya sekarang.


Aldari yang melihat sang sekretaris Jastin mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya pun di buat heran, kenapa Jastin hanya mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam. Kenapa tidak uang yang di keluarkan oleh sang sekretaris Alex tersebut.


"Kok...tuan itu hanya mengeluarkan sebuah kartu hitam saja, gumam Aldari dalam hati nya tersebut.


"Katanya mau membayar barang-barang ini!"


"Hehehehe, rupanya gadis nakal itu mau melihat jumlah uang yang aku keluarkan untuk membayar barang-barang yang aku beli untuk dirinya, ujar Alex sambil melirik ke arah dimana Aldari sedang fokus menatap sang sekretaris Jastin tersebut.


Alex yang melihat wajah Aldari yang tampak kecewa lantaran tidak bisa melihat uang untuk membayar perhiasan tersebut pun tersenyum tipis melihat ekspresi wajah Aldari tersebut.


"Mungkin tuan Alex membeli perhiasan yang aku pakai ini di bayarnya nyicil kali!" seru Aldari dengan suara kecewa lantaran gagal melihat uang membayar perhiasan tersebut.


Beberapa detik melakukan transaksi, Jastin langsung menghampiri Alex yang sedang menunggu kedatangan dirinya tersebut.


"Tuan... pembayaran seduh selesai saya lakukan!" ujar Jastin setelah sampai di hadapan CEO nya tersebut.


Alex yang mendengar ucapan sang sekretaris nya Jastin pun langsung bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke arah pintu toko perhiasan tersebut.


Manajer toko perhiasan yang melihat Alex bangkit dari duduknya pun langsung menghampiri pebisnis no satu di kota X tersebut.


"Tuan, terima kasih atas kunjungan anda di toko perhiasan kami!" ujar manajer toko perhiasan tersebut kepada Alex yang tampak memasang wajah datar nya tersebut.


Jastin yang melihat CEO nya hanya memasang wajah datar pada manajer toko perhiasan tersebut, mau tak mau dirinya lah yang menjawab ucapan dari mengejar toko perhiasan tersebut.

__ADS_1


"Iya tuan, jawab Jastin pada sang manajer toko perhiasan tersebut.


Dan kami juga berterima kasih, atas pesanan kami yang sesuai, dan juga pesanan sesuai dengan keinginan tuan Alex, seru Jastin pada manajer toko perhiasan tersebut.


"Iya" terima kasih tuan, ujar manajer toko perhiasan sambil berjabat tangan dengan sang sekretaris Jastin tersebut.


Alex, Aldari dan Jastin pun langsung melangkah kan kakinya mereka keluar dari toko perhiasan tersebut.


"Jastin, sebelum pulang ke Mansion, kita cari Lestoran di dekat MALL ini!' ujar Alex sambil melirik ke arah kiri sampai dirinya tampak jelas oleh Alex, Aldari yang sedang senyum-senyum tak jelas sambil memegang kalung berlian yang dirinya berikan pada Aldari tersebut.


"Selain kampungan dan norak, rupanya gadis itu memiliki otak yang kurang baik!" batin Alex yang sedang fokus menatap Aldari tersebut.


"Ish... memalukan sekali!" ketus Alex sambil melirik ke arah Aldari tersebut.


"Lihat...hanya mendapatkan kalung berlian saja dirinya sampai senyum-senyum sendiri!" ujar Alex yang masih memperhatikan Aldari tersebut.


Jastin yang mendengar ocehan sang CEO nya hanya tersenyum tipis bahkan nyaris tak terlihat.


Beberapa detik mencari Lestoran, kini mereka pun sampai di depan pintu masuk Lestoran.


Jastin langsung melangkah kan kakinya untuk mencari meja untuk mereka duduki.


Setelah mendapat meja Jastin pun langsung mempersilahkan CEO untuk duduk di kursi yang dirinya siap kan.


"Silahkan tuan!" seru Jastin pada CEO nya tersebut.


Dan tak lupa Jastin menyuruh Aldari untuk duduk di hadapan CEO nya tersebut.


"Nona, silahkan!" ujar Jastin sambil tersenyum tipis melihat ke arah dimana Aldari sedang berdiri.


Aldari yang fokus memegang kalung berlian itupun mengingat sesuatu.


"Apa tuan Alex tahu"


"Tapi tidak mungkin!" Batin Aldari sambil melihat ke arah dimana Alex sedang duduk.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2