Menjadi Pembantu Tuan Muda Arogan

Menjadi Pembantu Tuan Muda Arogan
106. Menjadi pembantu tuan muda arogan


__ADS_3

Di mansion utama


Tampak Alex sudah bersiap-siap dengan pakaian kasual yang begini terlihat sangat memukau perhatian banyak orang yang sedang menatap dirinya yang saat ini melewati para pelayan mansion milik nya.


Tanpa memperdulikan tatapan mata para pelayan mansion yang sedang memperhatikan dirinya, Alex langsung melangkahkan kakinya menuju ke pintu utama mansion menuju ke parkiran mobil yang baru datang beberapa jam yang lalu.


Sambil melangkahkan kakinya menuju parkiran, Alex merogoh saku celananya untuk mengambil handphone miliknya menghubungi sang sekretaris Jastin.


Drrtt...drrtt


Tak membutuhkan waktu lama, panggilan telefon pun langsung di angkat oleh sang sekretaris Jastin.


"Halo tuan!" jawab Jastin mengangkat panggilan telepon dari CEO nya dengan suara khas bagun tidur.


Tanpa basa-basi Alex langsung menyuruh sang sekretaris Jastin untuk mengantarkan kunci rumah kontrakan Aldari di persimpangan jalan yang tak jauh dari tempat tinggal Aldari.


Alex tak peduli terhadap sang sekretaris Jastin yang sedang baru buka matanya dari alam mimpi nya saat ini.


"Kau segera lah bersiap-siap dan antar kunci rumah kontrakan gadis pembangkang itu di persimpangan jalan.


Tut...tut...tut


Tanpa menunggu jawaban dari sang sekretaris, Alex langsung memutuskan sambungan telepon terhadap sang sekretaris Jastin.


"Huh, memang manusia tak berperasaan!" gerutu Jastin ketika melihat layar handphone miliknya sudah.


Jastin pun langsung bangkit dari atas ranjang miliknya untuk menuju ke arah kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


~~

__ADS_1


Setelah Alex menghubungi sang sekretaris Jastin, Alex langsung membuka pintu mobil miliknya dan langsung meninggalkan pekarangan mansion miliknya menuju kediaman Aldari.


Beberapa menit menempuh perjalanan, tampak dari kejauhan oleh Alex saat ini sang sekretaris Jastin sedang menunggu dirinya di persimpangan jalan yang tak jauh dari tempat Aldari tinggal.


Sampai Alex di persimpangan jalan, Alex langsung turun dari mobil untuk menghampiri sekretaris nya yang sedang menunggu kedatangan dirinya.


Jastin langsung menyerahkan apa yang di minta oleh CEO nya beberapa menit yang lalu melalui sambungan telepon tadi.


"lni kunci nya tuan!" ujar Jastin sambil menyerahkan satu buah kunci rumah kontrakan Aldari yang telah Jastin duplikat beberapa hari yang lalu untuk CEO nya.


"Hem!"


Alex hanya berdehem sambil mengambil kunci rumah kontrakan dari tangan sekretaris Jastin.


"Jastin, kau pastikan tidak ada satu pun manusia yang melewati pekarangan rumah kontrakan ini, apalagi hanya sekedar untuk menanyakan tentang alamat!" perintah Alex kepada sang sekretaris Jastin yang sedang menatap dirinya dengan tatapan serius.


"Baik tuan!" ujar sang sekretaris Jastin dengan suara tegasnya ketika mendapat perintah dari CEO nya untuk mengawasi pekarangan rumah kontrakan Aldari yang saat ini sedang di tinggalkan oleh para penghuni nya untuk pergi ke hotel berbintang lima.


Alex langsung memasuki mobilnya dan dengan kecepatan sedang Alex langsung menuju ke rumah kontrakan Aldari yang saat ini sepi seperti kuburan saja. Bagi siapa saja yang melintas di depan pekarangan rumah kontrakan ibu kontrakan Aldari saat ini mereka akan merasakan hawa-hawa tak sedap.


Sampai di depan pintu rumah kontrakan Aldari, Alex langsung turun dari dalam mobil miliknya. Dan Alex langsung meronggo kunci rumah kontrakan di dalam saku celana milik nya saat ini.


Klik


Terdengar suara pintu yang di putar memakai kunci dari luar.


Sebelum masuk ke dalam rumah kontrakan Aldari, Alex langsung menoleh ke arah kiri dan kanan untuk memastikan bahwa di tempat ini tidak ada orang selain dirinya saja.


Alex yang telah memastikan tidak ada orang selain dirinya, Alex langsung menutup pintu rumah kontrakan dengan suara sangat hati-hati bahkan nyaris tak terdengar suara pintu tertutup.

__ADS_1


~~


Aldari yang samar-samar mendengar suara pintu, seketika dirinya langsung bangkit dari atas ranjang miliknya dan langsung menuju ke arah jendela kamar miliknya untuk melihat keadaan di luar rumah kontrakannya.


Aldari tak mengira bahwa yang dirinya dengar adalah suatu pintu rumah kontrakannya miliknya saat ini, sehingga Aldari mengabaikan bunyi suara yang beberapa detik tadi dirinya dengar.


"Huh, rupanya diriku ketiduran!" gumam Aldari sambil melihat ke arah luar jendela kamar pribadi miliknya.


"Tumben-tumben sekali hari ini sepi dipekarangan ini, habis kemana penghuni rumah kontrakan ini!" batin Aldari sambil berjinjit melihat ke arah kiri dan kanan yang tampak sekali sepi.


Aldari pun kembali samar-samar seperti mendengar suara kursi yang sedang di seret.


"S-siapa di luar!" batin Aldari mulai takut jika rumah kontrakannya di masuki oleh maling.


Dengan memberanikan dirinya, Aldari pun melangkahkan kakinya menuju ke pintu kamarnya untuk melihat dari celah pintu apakah rumah kontrakan saat ini sedang kemalingan.


"Maling?" emangnya rumah kontrakan Aldari ada barang berharga!" hanya Aldari saja yang tahu jawabannya. 😀


Dengan hati yang berkecamuk tak menentu Aldari melihat melalui celah pintu kamar yang ada sedikit celah untuk bisa melihat ke luar sana.


Samar-samar Aldari seperti melihat seseorang yang sedang duduk di kursi yang tak layak di pakai lagi saat ini di ruangan depan.


"S-siapa yang masuk ke dalam rumah ini!" batin Aldari sambil menatap ke arah rungan depan saat ini.


"l-itukan"


Aldari tak sanggup lagi menahan tubuhnya karena dirinya melihat seseorang yang begitu dirinya kenali.


Aldari langsung terduduk di lantai yang dingin itu karena dirinya tak menyangka akan kedatangan sosok yang dirinya hindari.

__ADS_1


"Yah Tuhan, tolong hamba mu ini!" doa Aldari sambil menitikkan air matanya.


Bersambung


__ADS_2