Menjadi Pembantu Tuan Muda Arogan

Menjadi Pembantu Tuan Muda Arogan
123. Menjadi pembantu tuan muda arogan


__ADS_3

Aldari yang melihat wanita paruh baya yang telah dianggap seperti ibunya sendiri yang sedang menatap dirinya saat ini pun langsung melangkah kakinya mendekati wanita paruh baya itu, dan Aldari langsung memeluk wanita paruh bayah itu dengan sangat erat sekali dan langsung menangis di pelukan wanita paruh bayah yang telah dirinya anggap seperti ibu kandungnya sendiri.


Hiks,


Hiks,


Hiks,


"Bibi..., gumam Aldari sambil menagis di pelukan wanita paruh bayah itu dengan suara yang lumayan kecil yang masih bisa di dengar dengan jelas suara tangisan Aldari oleh wanita paruh baya itu.


"Nona..., anda baik-baik saja kan?" tanya wanita paruh bayah itu sambil mengelus-elus punggung Aldari yang sedang menagis di pelukan dirinya.


Aldari yang mendengar ucapan dari wanita paruh baya itu pun langsung meleraikan pelukannya dan langsung menatap wajah yang sedang menatap dirinya saat ini.


Bukanya menjawab apa yang ditanyakan oleh wanita paruh baya itu yang sedang menatap dirinya, Aldari malah meminta bantuan dari wanita paruh bayah itu.


"Bibi..., a-apa Al bisa meminjam uang bibi?" tanya Aldari dengan suara gugupnya lantaran dirinya merasa sangat lancang sudah meminjam uang pada wanita paruh bayah itu.

__ADS_1


Wanita paruh bayah itu yang mendengar ucapan dari gadis yang masih saja menagis itu pun mengernyitkan keningnya lantaran dirinya tak mengerti maksud dari gadis yang sedang menatap dirinya saat ini.


"Uang!" gumam wanita paruh bayah itu sambil melihat ke arah dimana Aldari sedang menatap dirinya dengan mata yang sudah memerah karena menangis.


Aldari yang mendengar ucapan dari wanita paruh bayah itu pun langsung menganggukkan kepalanya.


"lya..., Bi. Apa Al bisa pinjam uang Bibi?" tanya Aldari dengan penuh harap agar dirinya bisa mendapatkan pinjaman pada wanita paruh bayah itu.


Ehem,


Ehem,


Ehem,


Kepala pelayan yang tadinya ingin menjawab ucapan dari Aldari, langsung menoleh ke arah sumber suara yang berdehem lumayan keras sehingga membuat kepala pelayan itu langsung menghentikan ucapannya.


"Tuan!" sapa kepala pelayan yang melihat sang sekretaris Jastin sedang berdiri menatap dirinya dengan tatapan tajam.

__ADS_1


Kepala pelayan yang mengerti akan maksud tatapan yang di berikan oleh sang sekretaris Jastin pada dirinya saat ini langsung menoleh ke arah dimana Aldari yang menantikan akan Jawaban dari dirinya.


"Nona..., mari bibi antar ke kamar!" kata wanita paruh bayah itu sambil melirik sekilas ke arah dimana sang sekretaris Jastin menatap dirinya.


Aldari yang tak mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang dirinya lontarkan terhadap wanita paruh bayah itu tampak sekali kecewa pada dirinya saat ini karena tiba-tiba saja wanita paruh bayah itu langsung membawa dirinya ke lantai atas.


Aldari yang ingin menginjakkan kakinya di tangga menuju ke lantai atas membalikkan tubuhnya mungil milik nya melihat ke arah dimana sang sekretaris Jastin yang masih menatap mereka dengan tatapan tajam.


"Huh, dasar sang sekretaris menyebalkan!" gumam Aldari sambil menatap tak kalah tajam ke arah dimana sang sekretaris Jastin berdiri saat ini.


"Nona..., ayo saya antar ke kamar Nona!" kata wanita paruh bayah itu sambil melihat ekspresi wajah Aldari ketika melihat ke arah sang sekretaris Jastin.


"lya..., bibi!" jawab Aldari sambil memutar bola matanya menatap wajah sang sekretaris Jastin.


"Tumben-tumben gadis itu menatap diriku seperti itu!" gumam Jastin sambil melihat dua manusia yang sedang menuju ke lantai atas itu.


"Apa yang kau lihat hah...."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2