
Tok...tok...tok
Alex yang ingin melanjutkan kegiatan beberapa menit yang lalu bersama Aldari tadi, langsung berdecak kesal lantaran seseorang mengetuk pintu kamar yang ditempati dirinya dan juga Aldari saat ini.
"CK, mengganggu saja!" umpat Alex langsung melihat ke arah sumber suara yang di ketuk oleh seseorang saat ini dan Alex langsung mendekati ke arah pintu itu.
Sebelum membuka pintu, Alex melirik ke arah dimana Aldari yang masih gemetaran karena ulah dirinya yang memaksa Aldari untuk berciuman dengan dirinya.
"Cih, baru saja sedikit diriku sentuh sudah seperti mayat hidup saja!" sindir Alex melirik ke arah Aldari yang tampak sekali sedang ketakutan.
"Untung saja ada ada orang yang mengetuk pintu kamar ini!" batin Aldari melirik sekilas ke arah dimana Alex sedang menuju ke arah pintu kamar.
Setelah melontarkan kata-kata sindiran buat Aldari, Alex pun langsung membuka pintu kamar utama itu.
Ceklek
Terdengar handle pintu kamar utama di buka dari dalam, setelah pintu di buka lebar-lebar oleh Alex. Tampak sang sekretaris Jastin telah berdiri di depan pintu kamar utama saat ini.
"Menganggu saja!" gumam Alex yang masih bisa di dengar jelas oleh sang sekretaris Jastin yang sedang menatap CEO-nya saat ini.
"Ada apa kau kemari?" omel Alex yang menatap sinis ke arah di mana sang sekretaris Jastin berdiri saat ini, karena telah menggangu dirinya bersama dengan Aldari.
Jastin yang mendengar omelan dari CEO-nya saat ini pun dibuat bingung, pasalnya CEO-nya sendiri lah menyuruh dirinya untuk membeli obat untuk Aldari.
Tanpa berkata-kata, Jastin langsung menyodorkan baper bag yang ada di genggaman tangan saat ini di depan CEO-nya.
Alex yang melihat sang sekretaris Jastin memberi paber bag pada dirinya saat ini pun baru mengingat bahwa dirinya menyuruh sang sekretaris Jastin untuk membeli obat.
"Huh, kenapa diriku bisa melupakannya!" batin Alex sambil mengambil baper bag yang diserahkan oleh sang sekretaris Jastin.
__ADS_1
"Gara-gara gadis nakal itu diriku menjadi pelupa seperti ini!" batin Alex sambil memijit pelipisnya yang sedang berdiri di hadapan sang sekretaris Jastin.
Brrrrraaaaakkkkk
Tanpa mengucap satu kata pun pada sang sekretaris Jastin, Alex langsung menutup pintu kamar utama itu dengan sedikit membanting pintu kamar utama mansion milik nya itu.
Jastin yang masih berdiri di depan pintu kamar utama saat ini pun langsung mengelus-elus dadanya karena dirinya di buat terkejut setengah mati karena pintu kamar utama itu di banting begitu keras oleh CEO-nya lantaran kesal terhadap dirinya.
"Memangnya dirinya sedang apa dengan gadis malang itu!" gumam sang sekretaris Jastin yang telah melihat pintu kamar utama CEO-nya telah tertutup rapat saat ini.
Jastin yang sedang menatap sambil mengelus-elus dadanya saat ini pun langsung merasakan getaran handphone miliknya di dalam saku celana nya.
Jastin langsung membuka pesan yang dikirimkan oleh CEO nya saat ini.
Pesan dari tuan muda Alex
"Jastin, kau tunggu lah di bawah beberapa jam lagi, diriku akan memberikan obat ini kepada gadis itu terlebih dahulu sebelum kita pulang!" tulis pesan Alex untuk sang sekretaris Jastin yang masih belum beranjak dari tempat berdirinya saat ini.
"Nasib-nasib!" batin Jastin langsung melangkah kan kakinya menuju ke lantai bawah.
Pelayan mansion yang melihat sang sekretaris menuruni anak tangga saat ini pun langsung menuju ke arah anak tangga untuk menunggu sang sekretaris Jastin sampai ke bawah.
Sesampainya sang sekretaris Jastin di lantai bawah langsung di sambut oleh pelayan mansion.
"Tuan!" sapa pelayan mansion yang berdiri di samping anak tangga mansion milik Alex saat ini.
"lya!" jawab singkat Jastin kepada pelayan mansion milik CEO-nya yang menyapa dirinya saat ini.
Jastin terus melangkah kan kakinya menuju ke arah ruang tamu yang diikuti oleh pelayan mansion saat ini.
__ADS_1
"Apa tuan membutuhkan sesuatu?" tanya pelayan mansion mengikuti sang sekretaris dari belakang.
Jastin yang mendengar ucapan dari pelayan yang sedang mengikuti dirinya saat ini pun langsung menoleh ke arah dimana pelayan itu berdiri.
"Buatkan dirinya minuman yang segar!" kata Jastin pada pelayan yang sedang menatap dirinya saat ini.
"Baik tuan!" jawab pelayan mansion langsung berlalu dari hadapan sang sekretaris Jastin setelah dirinya di perintahkan oleh Jastin untuk membuat minuman yang segar-segar.
Setelah kepergian pelayan mansion, Jastin pun langsung melangkah kan kakinya menuju ke ruangan tamu untuk menunggu CEO-nya di sana sambil menikmati minuman dingin yang telah dirinya pesan melalui pelayan mansion.
Sementara itu di ruangan lain, Aldari yang melihat Alex yang telah kembali lagi masuk ke dalam kamar utama saat ini membuat jantung Aldari kembali seperti berolahraga karena melihat Alex sedang menuju ke arah dirinya saat ini.
"Kau segera lah minum obatnya!" kata Alex meletakkan paber beg yang berisi obat itu di atas ranjang yang tak jauh dari Aldari duduki saat ini.
Aldari yang melihat paber beg yang diletakkan oleh Alex di atas ranjang saat ini pun langsung menoleh ke arah Alex karena dirinya tak menginginkan obat itu lantaran dirinya tak bisa memakan obat yang berbentuk seperti tablet.
Alex yang melihat tak ada respon dari Aldari ketika dirinya meletakkan paber beg yang berisi obat itu pun dibuat kesal setengah mati karena sikap yang di tunjukkan Aldari saat ini.
"Apa kau tuli?" tanya Alex dengan suara yang mulai meninggi karena sangat kesal akan sikap Aldari saat ini.
Aldari yang mendengar suara Alex yang meninggi di dalam kamar yang kedap suara saat ini pun langsung mendongak menatap wajah Alex yang sedang menahan kesal terhadap dirinya.
"S-saya tidak bisa minum obat yang berbentuk seperti tablet t-tuan!" kata Aldari dengan suara gugup nya dan Aldari langsung menundukkan kepalanya setelah dirinya mengatakan itu pada Alex yang sedang menatap dirinya dengan intens.
Alex yang mendengar ucapan dari Aldari saat ini pun langsung terkekeh kecil sehingga membuat Aldari langsung melirik ke arah dimana Alex sedang menatap dirinya.
"Tidak apa-apa jika kau tak bisa meminum obat yang berbentuk seperti tablet itu!" kata Alex sambil mengambil kembali baper bag yang dirinya letakkan tadi di atas ranjang Aldari tadi.
Setelah Alex mengambil paber beg itu, Alex menatap sejenak melihat Aldari ke arah Aldari sambil memikirkan cara agar Aldari bisa minum obat itu.
__ADS_1
"Tak ada cara lain selain cara itu!" batin Alex sambil melirik ke arah Aldari yang masih saja menundukkan kepalanya.
Bersambung