
Jastin yang tadinya mendengarkan CEO-nya menyebut dirinya sedang memuji, Jastin langsung berbalik badan untuk melihat di mana CEO-nya itu sedang menatap dirinya dari langit atas.
Alex yang melihat perubahan ekspresi wajah dari sang sekretarisnya membuat Alex langsung menatap begitu tajam ke arah dimana sang sekretaris nya berdiri.
"Kau enggak perlu seperti itu ekspresi wajah dirimu Jastin!" seru Alex dengan suara lantang membuat Mansion utama itu di menggema dengan suara dirinya.
"Huh, memang benar-benar menyebalkan!" gumam Jastin menatap wajah CEO-nya itu yang sedang berdiri di lantai atas.
"Jastin!!!"
Panggil Alex menyadarkan lamunan dari sekretaris nya itu.
Jastin yang di panggil oleh CEO-nya itu dengan suara yang begitu nyaring langsung menatap wajah CEO-nya itu.
"l-lya tuan!" jawab Jastin dengan gugup.
"Aku mau besok kau sediakan untuk ku satu meja dan lengkap dengan komputer di ruangan kerja ku besok!" perintah Alex kepada sang sekretaris nya yang sedang menatap dirinya tanpa berkedip.
Jastin yang mendengar perintah dari CEO nya itu pun langsung mengiyakan ucapan dari CEO-nya itu tanpa menanyakan untuk siapa meja dan komputer di sediakan di ruangan CEO-nya itu.
__ADS_1
"Kau pergi lah pulang!" usir Alex dengan suara ketus mengusir sekretaris nya itu.
"Kalau begitu saya permisi dulu tuan!" pamit Jastin kepada CEO nya itu yang masih saja berdiri di lantai atas melihat dirinya.
Setelah berpamitan kepada CEO-nya, Jastin langsung berjalan menuju di mana mobil miliknya terparkir.
Alex yang melihat sekretaris nya sudah pulang, Alex langsung melangkahkan kakinya menuju kamar pribadi miliknya.
Sementara itu di ruangan lain, tepatnya kamar yang telah Alex siapkan untuk Aldari. Tampak wajah Aldari tak berkedip melihat nuansa kamar yang begitu indah di lihat.
"Bi-bibi i-ini kamar siapa?" tanya Aldari dengan suara gugupnya sambil celingukan melihat isi kamar pribadi yang akan jadi miliknya itu.
"Ini kamar untuk Nona. Yang tuan muda siapkan?" jawab wanita paruh baya itu dengan suara lembut miliknya sambil mengelus rambut panjang milik Aldari itu.
Aldari yang mendengar jawaban dari wanita paruh baya itu yang telah dirinya anggap seperti ibu kandungnya, langsung terkejut mendengar ucapan apa yang telah dirinya dengar.
"U-untuk Al Bi!" jawab Aldari dengan sedikit kurang yakin bahwa kamar ini benar-benar untuk dirinya.
"Iya!" jawab wanita paruh baya itu sambil berjalan mendekati tempat di mana letaknya remote AC kamar itu.
__ADS_1
Aldari hanya memperhatikan wanita paruh bayah itu yang sedang menghidupkan pendingin ruangan kamar yang ditempati oleh dirinya nanti.
"Sekarang Nona bersihkan diri terlebih, karena sebentar lagi makan akan di antar oleh para pelayan!" seru wanita paruh bayah itu sambil menyiapkan pakaian yang akan Aldari kenakan nanti.
Tanpa bertanya-tanya lagi, Aldari langsung bangkit dari duduknya untuk mengambil pakaian yang telah di sediakan oleh kepala pelayan mansion untuk dirinya pakai sehabis mandi nanti.
"Makasih yah Bi!" ujar Aldari menerima pakaian dari tangan wanita paruh bayah itu.
"Iya!" jawab wanita paruh bayah itu sambil tersenyum melihat Aldari.
Aldari pun langsung menuju di mana letak kamar mandi di dalam kamar itu.
Ceklek,
Seketika ekspresi wajah Aldari benar-benar berubah melihat isi dalam kamar itu.
"Wah benar-benar!" ujar Aldari sambil menatap isi kamar mandi itu.
Bersambung
__ADS_1