
Alex yang mendengar Aldari menyebut nama seseorang walaupun dengan suara lirih nya, tapi masih bisa di dengar oleh Alex dengan jelas. Alex pun langsung melihat arah pandangan Aldari yang sedang fokus menatap seseorang yang sedang memilih sesuatu di salah satu pusat perbelanjaan tersebut.
Alex menyungging senyum tak kalah dirinya mengetahui seseorang yang sedang Aldari lihat saat ini. Hehe, rupanya gadis nakal itu sedang menatap pelayan restoran yang pernah bekerja bersama dirinya, gumam Alex dalam hati nya sambil melangkah kan kakinya menuju ke tempat tujuan mereka.
Jastin yang sedang memperhatikan dua pasang manusia yang berjalan di depannya pun langsung melihat arah pandangan CEO nya tersebut.
"Itukan gadis yang di lestoran waktu itu!"
Jastin bergumam setelah dirinya mengetahui seseorang yang sedang di perhatikan oleh dua pasang manusia yang berada di depan nya tersebut.
Aldari yang memang fokus menatap seseorang yang begitu dekat dengan dirinya pun tak sengaja menyandung kakinya sendiri dan akhirnya terdengar suara seseorang yang sedang merintih kesakitan lantaran terjatuh.
"Gedebuk"
"Auh,"
Aldari langsung mengelus kakinya sambil merintih dengan suara lirih nya tersebut.
Jastin yang melihat Aldari terduduk di lantai dengan mengelus kakinya yang tampak memerah karena benturan keras nya lantai marmer pusat perbelanjaan tersebut. Dengan cepat Jastin berjongkok sambil melihat kaki Aldari yang lumayan memerah tersebut.
"Nona!" seru Jastin
"Anda tidak kenapa-kenapa kan!" tanya Jastin dengan suara kuatir karena melihat Aldari sedang menahan sakit pada kakinya tersebut.
Alex yang melihat Jastin yang begitu peduli terhadap Aldari pun mendengus kesal.
"Kau memang sengaja ingin menggoda sekretaris Jastin rupanya, sinis Alex bicara dengan Aldari yang sedang mengelus-elus kakinya sambil merintih kesakitan.
Aldari maupun Jastin yang mendengar ucapan dari Alex pun langsung menoleh di mana Alex sedang menatap mereka berdua dengan kesal.
"Kau menyingkir lah dari gadis nakal itu Jastin!". Seru Alex menyuruh sang sekretaris Jastin menyingkir dari Aldari tersebut.
"Kau memang sengaja bukan, melakukan ini!" ujar Alex sambil mengangkat tubuh mungil Aldari menuju ke arah tempat duduk yang tak jauh dari mereka bertiga.
"Huh!" mulutnya itu kalau bicara memang sesuka hatinya saja, gerutu Jastin sambil berjalan mengikuti CEO nya tersebut.
"Kau tidak usah mengumpat diriku Jastin, seru Alex sambil menatap tajam ke arah sang sekretaris nya tersebut.
Jastin yang mendengar ucapan dari sang CEO nya pun terkejut lantaran Alex mengetahui jika dirinya sedang mengumpat.
"Huh, apa dirinya punya Indra keenam. Batin Jastin dalam hati nya tersebut.
__ADS_1
"Apa yang kau tunggu Jastin"
"Carikan obat untuk dirinya!" Alex hanya melirik sekilas ke arah dimana Aldari sedang duduk.
"Baik tuan!" seru Jastin menerima perintah dari CEO nya tersebut.
Jastin pun langsung melangkah kan kakinya menuju Apotek yang tidak jauh dari tempat mereka duduk.
Setelah kepergian Jastin, Alex pun langsung menoleh ke arah dimana Aldari sedang duduk.
"Kau memang suka sekali mencari perhatian yang berlawanan jenis, ujar Alex dengan sinis menatap Aldari tersebut.
Aldari yang mendengar ucapan dari Alex pun tak terima jika dirinya di bilang suka mencari perhatian pada lawan jenis.
Aldari yang memiliki sedikit keberanian pun membelah dirinya, iya tak terima jika Alex menuduhnya suka mencari perhatian.
"T...tu...an s...sa...ya tadi memang benar-benar terjatuh, bukan saya ingin mencari perhatian orang lain, ujar Aldari dengan suara terbata-bata.
Alex yang mendengar ucapan Aldari dari Aldari hanya menyungging senyum mengejek ke arah dimana Aldari sedang duduk menatap dirinya dengan tatapan kesal.
Aldari yang melihat Alex sedang tersenyum mengejek dirinya pun hanya bisa diam saja, toh kalau dirinya membelah diri pun percuma tak akan menang melawan pria arogan yang sedang menatap dirinya tersebut.
Aldari yang sedang duduk menatap kiri dan kanan untuk memastikan seseorang yang dirinya kenal pun menjadi sedih tak kalah dirinya kehilangan jejak seseorang yang begitu iya rindukan.
"Rere!" gumam Aldari dalam hati nya tersebut.
Aldari yang memang fokus menatap ke arah kiri dan kanan tak kalah dirinya terhenti karena melihat pemandangan yang begitu menyejukkan hati nya tersebut.
Mata nan bulat dan jernih milik Aldari berubah menjadi sendu tak kalah dirinya melihat keluarga yang begitu bahagia sedang menikmati makanannya tersebut.
"Ibu... ayah, kenapa kalian begitu cepat meninggalkan Aldari sendirian di dunia ini!" batin Aldari ketika mata bulat menatap keluarga yang begitu harmonis di depan matanya sendiri.
"lbu...ayah, Aldari juga ingin merasakan bagaimana rasanya berkumpul satu keluarga, seperti yang Aldari lihat sekarang ini!" ujar Aldari dengan suara lirih nya tersebut.
Alex yang memang sedang melirik sekilas ke arah Aldari sedang duduk pun di buat terkejut melihat mata Aldari sedang menahan tangisnya tersebut.
Alex yang memang fokus menatap Aldari sehingga dirinya tak menyadari jika Aldari sedang menatap sebuah keluarga yang begitu bahagia di depan mata Aldari tersebut.
"Apa sesakit itu kakinya, sampai-sampai dirinya menahan tangis!" batin Alex yang sedang menatap Aldari dengan tatapan tajam milik nya tersebut.
Aldari yang merasa dirinya sedang di perhatikan oleh Alex, seketika dirinya langsung menghapus air mata nya yang sempat membasahi pipi chubby milik nya tersebut.
__ADS_1
Aldari yang tak mau Alex curiga terhadap dirinya pun langsung menoleh ke arah lain agar dirinya tak ketahuan sedang bersedih hati nya tersebut.
Alex yang melihat Aldari mengalihkan pandangan dari dirinya pun langsung bangkit dari duduknya yang tak jauh dari tempat duduk Aldari tersebut.
Alex melangkah ke arah dimana Aldari sedang duduk. Sampai di depan Aldari, Alex pun langsung meraih dagu runcing milik Aldari tersebut.
Alex yang memang memiliki sifat iba terhadap sesama manusia. dirinya pun langsung menanyakan kepada Aldari tersebut.
"Apa sesakit itu!" seru Alex pada Aldari yang sedang duduk menatap dirinya tersebut.
Aldari yang mendengar ucapan dari Alex, seketika dirinya langsung menggeleng kepala nya tersebut.
"Jika tidak sakit...kenapa kau menangis?" tanya Alex pada Aldari yang sedang menundukkan kepalanya saja.
"S-saya tidak apa-apa t-tuan, jawab Aldari dengan suara lirih nya tersebut.
"Jelas-jelas kau itu sedang menangis!"
"Kau bilang tidak ada apa-apa, dasar kau,"
Menyebalkan ketus Alex bicara dengan Aldari yang sedang menundukkan kepalanya karena tak mau menatap wajah Alex tersebut.
Alex yang tadinya ingin melanjutkan ocehan nya terhadap Aldari pun langsung berhenti, tatkala dirinya mendengar suara sang sekretaris Jastin tersebut.
"Permisi tuan, ujar Jastin ketika dirinya sampai di depan Alex.
"Ini obat untuk kaki nona tuan, ujar Jastin sambil menyerahkan obat tersebut kepada Alex yang sedang menatap dirinya.
Alex langsung meraih obat yang diberikan oleh sang sekretaris nya tersebut.
Alex pun langsung bangkit dari duduknya untuk mengobati kaki Aldari yang memerah tersebut.
Sambil mengoleskan obat ke kaki Aldari, Alex pun menanyakan barang yang dirinya pesan melalui sang sekretaris nya Jastin tersebut.
"Jastin apa kau telah memesan barang yang diriku inginkan itu!" ujar Alex sambil mengoleskan krim untuk mengobati kaki Aldari tersebut.
"Sudah tuan, jawab Jastin dengan suara tegas nya tersebut.
"Bagus" Seru Alex pada sang sekretaris nya tersebut.
Bersambung
__ADS_1