Menjadi Pembantu Tuan Muda Arogan

Menjadi Pembantu Tuan Muda Arogan
92. Menjadi pembantu tuan muda arogan


__ADS_3

Para karyawan Lestoran mekar mawar yang sudah habis jam kerja pun langsung berkemas-kemas untuk pulang ke rumah masing-masing untuk istirahat dan esok harinya mereka akan mulai bekerja kembali seperti biasanya termasuk Rere sang sahabat nya Aldari tentunya.


Rere yang sudah selesai berkemas-kemas untuk pulang pun langsung melangkah kan kakinya menuju ke tempat parkiran motor yang dirinya parkir.


Dari ke kejauhan Rere samar-samar seperti melihat sosok yang begitu dirinya rindukan yang sudah beberapa bulan tidak bertemu. Dengan langkah panjang Rere dengan cepat menuju ke tempat parkiran motor miliknya yang sedang terparkir saat ini.


Rere yang beberapa langkah lagi akan menghampiri Aldari langsung menganga lebar saat ini. Dirinya terasa bermimpi bisa bertemu lagi dengan sahabat yang begitu baik terhadap dirinya.


"Al...beneran i-ini loh!" ujar Rere dengan suara gugupnya setelah dirinya menghampiri sosok yang begitu dirinya rindukan.


Aldari yang memang posisi saat ini menyamping sahabatnya Rere, sehingga dirinya tak mengetahui kedatangan sang sahabat nya saat ini.


Aldari yang mendengar seseorang memanggil namanya pun langsung menoleh ke arah sumber suara yang begitu dirinya kenali dengan suara lembut dari sang sahabat nya Rere.


"A-al...R-rere" ujar Aldari dan juga Rere berbarengan setelah Aldari berbalik badan untuk melihat sumber suara yang tadi memanggil namanya.


Aldari maupun Rere langsung berhamburan berpelukan satu sama lainnya untuk melepas rindu karena sudah beberapa bulan kebelakang ini mereka tidak pernah bertemu, semenjak Aldari di bawah paksa oleh sang berbisnis no satu di kota X ini.


"Al...!" gue ngerasa mimpi bertemu loh di sini, tahu nggak loh!". Ujar Rere yang masih belum mengurai pelukannya pada sang sahabatnya Aldari.


"Sama Re...gue juga nggak nyangka bakalan bertemu loh lagi disini!" jawab Aldari sambil mengelap air mata saking bahagianya dirinya bisa bertemu lagi dengan sang sahabat nya lagi.


Beberapa saat barulah Aldari dan maupun Rere barulah mereka mengurai pelukannya mereka satu sama lainnya.


Aldari dan Rere saat ini mereka sedang beradu tatap muka.


Rere begitu intens menatap wajah sang sahabatnya yang sudah lama tidak bertemu sambil menghapus air mata sang sahabat nya yang masih saja menetes.


Aldari yang di tatap begitu intens sang sahabatnya itu pun langsung menundukkan kepalanya saja.


"Kenapa loh nggak pernah ngabarin gue lagi Al... jahat loh sama gue!" tanya Rere dengan serius menatap wajah Aldari yang masih saja menundukkan kepalanya saja.


Aldari yang mendengar ucapan dari sang sahabat nya Rere pun langsung menoleh ke arah dimana sang sahabat nya Rere masih saja menatap dirinya dengan intens dan itu membuat Aldari sedikit risih akan tatapan yang diberikan oleh Rere tersebut.

__ADS_1


"Loh nggak usah tatap gue seperti itu juga kali!" protes Aldari setelah dirinya mengangkat wajahnya melihat sang sahabat nya Rere.


"Loh nggak usah galih pertanyaan dari gue!" sugut Rere terhadap sahabat nya Aldari.


"Jawab!" paksa Rere dengan suara ketus miliknya.


"Panjang ceritanya Rere!" jawab Aldari dengan suara lirih nya sambil tersenyum kaku miliknya tersebut.


"Terus sekarang Loh mau kemana?" tanya Rere yang belum mendapatkan jawaban atas pertanyaan dari sahabatnya saat ini.


Rere begitu beruntun memberi pertanyaan terhadap sang sahabat nya Aldari.


Tapi... tidak di jawab satu pun pertanyaan dari dirinya tersebut.


Aldari yang melihat ekspresi wajah sahabatnya yang masam pun tak peduli akan kekesalan dari sang sahabat nya saat ini.


Aldari malah meminta bantuan kepada Rere yang sedang kesal menatap dirinya saat ini.


"Re...gue bisa minta tolong sama loh!" tanya Aldari penuh arap pada sahabatnya yang sedang menatap dirinya tanpa berkedip karena kesal.


Rere yang memang orang nya belum mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang dirinya tanya pun langsung mengangguk kan kepalanya bahwa dirinya setuju untuk mengantar sahabatnya pulang.


Aldari dan Rere pun langsung bangkit dari duduknya untuk pulang ke rumah kontrakan Aldari.


Sementara itu di tempat lain, Alex yang sedang menunggu kedatangan pemilik kontrakan Aldari Pun langsung merasa lega ketika dirinya melihat wanita paruh baya itu sedang menghampiri dirinya yang sedang berdiri di depan pintu rumah kontrakan Aldari.


"Maaf tuan... membuat tuan jadi menunggu lama!" ujar wanita paruh baya itu terhadap Alex yang mendengar menatap wajah wanita paruh baya itu.


Alex hanya memberikan senyuman tipis miliknya untuk menangkapi ucapan dari wanita paruh baya itu.


"Tidak apa-apa bibi!" jawaban Alex sambil menerima kunci rumah kontrakan Aldari dari tangan wanita paruh baya itu yang sudah mulai keriput itu.


"Terima kasih, kunci nya bibi!" ujar Alex ketika menerima kunci rumah kontrakan Aldari saat ini.

__ADS_1


"Ini ada sedikit untuk bibi!" ujar Alex memberikan beberapa lembar uang berwarna merah pada wanita paruh baya itu.


Wanita paruh baya itu yang melihat apa yang di berikan oleh Alex pun langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Tidak perlu tuan!" tolak wanita paruh baya itu untuk tidak menerima uang pemberian orang yang baru saja dirinya kenali.


"Tidak apa-apa bibi, anggaplah uang ini untuk membayar rumah kontrakan Aldari untuk bulan berikutnya!" tolak Alex secara halus yang memang sengaja dirinya memberikan uang tersebut untuk wanita paruh baya itu.


Wanita paruh baya itu pun tak bisa menolak akan pemberian dari orang yang baru saja dirinya kenal.


"Terima kasih tuan!" ujar wanita paruh baya itu yang sedang menatap wajah Alex tersebut.


"lya bibi!"


"Kalau begitu saya permisi dulu untuk masuk ke dalam yah bibi!" pamit Alex kepada wanita paruh baya itu.


"Iya tuan!" jawab wanita paruh baya itu sedang tersenyum tipis.


Setelah kepergian wanita paruh baya itu, Alex pun langsung melangkah kan kakinya menuju pintu masuk rumah kontrakan Aldari.


Ceklek


Terdengar suara handle pintu yang di buka dari luar.


Setelah pintu di buka lebar-lebar oleh Alex, Alex pun langsung melangkah masuk ke dalam rumah kontrakan Aldari.


"Isssttthhh, ini rumah atau gubuk!" batin Alex ketika dirinya sudah berada dalam rumah kontrakan Aldari saat ini.


Alex mengedarkan pandangannya ke arah dimana pintu kamar Aldari yang tampak jelas pintu itu sudah tidak layak lagi untuk di pakai.


Alex melangkah mendekati kamar Aldari, sesampainya Alex di depan pintu kamar Aldari. Alex langsung membuka pintu kamar Aldari yang ternyata tidak di kunci oleh sang memiliknya.


Begitu Alex membuka pintu kamar Aldari, Alex di bikin hampir serangan jantung melihat kamar pribadi milik Aldari tersebut.

__ADS_1


"Miris!" batin Alex.


Bersambung


__ADS_2