
Jastin yang kala itu selesai menekan tombol lift langsung menoleh ke arah samping ketika dirinya mendengar suara benda jatuh, dengan sigapnya Jastin langsung menghampiri Aldari yang seperti menahan sakit akibat terjatuh. Tampak Aldari sedang mengelus-elus lututnya yang terlapis pakaian yang dirinya kenakan itu.
"Nona ... anda tidak kenapa-kenapa! apa ada yang terluka? tanya Jastin beruntun tanpa ada jeda sambil membantu Aldari untuk berdiri, tanpa memperdulikan tatapan maut yang Alex berikan terhadap mereka berdua. Jastin menuntun Aldari agar berjalan mendekati kearah pintu lift di mana Alex sedang berdiri menatap mereka dengan tatapan tajam.
Jastin yang melihat CEO nya yang menatap dirinya dengan tatapan tajam langsung melepaskan tangannya yang kala sedang menuntun Aldari agar bisa berjalan. Oh yah tuhan, tatapan matanya itu sepertinya ingin mencabik-cabik jantung ku saja! batin Jastin bergedik ngeri akan tatapan mata CEO nya tersebut.
"Terima kasih ... tuan!" ujar Aldari kala dirinya mendapatkan bantuan dari sang sekretaris CEO nya itu.
Jastin yang mendapatkan ucapan terima kasih atas bantuan dirinya terhadap Aldari tampak gugup ingin menjawab atas ucapan dari Aldari itu, dengan gugup sambil melirik sang CEO nya. Jastin tetep membalasnya dengan suara yang begitu kecilnya yang masih di dengar oleh Aldari dan juga Alex.
"Sama-sama ... nona!" sahut Jastin dengan suara yang begitu lirih.
Jastin kembali menekan tombol lift untuk menuju ke lantai bawah, beberapa detik menunggu pintu lift akhirnya pun terbuka dengan lebar. Di dalam lift Alex melirik ke arah Aldari yang sedang berdiri sambil memperbaiki letak pakaian yang dirinya kenakan.
"Jalan yang begitu datar ... tidak ada satupun benda yang menghalangi jalan, bisa juga terjatuh ... memang suka sekali mencari perhatian!" cibir Alex sambil melirik Aldari dan Jastin secara bergantian di dalam lift itu.
Aldari yang sedang berdiri di samping CEO baru nya itu langsung melihat dengan ekor matanya dengan tatapan kesal yang dirinya tunjukkan tanpa sepengetahuan Alex tentunya. Huh ... memang manusia menyebalkan sekali, jelas-jelas diriku bisa terjatuh seperti itu jelas karena dirinya ... yang seenak dengkulnya meninggalkan diriku di ruangan itu. gumam Aldari dalam hati dengan melirik sekilas ke arah Alex.
Ting,
Pintu lift terbuka, Alex langsung melangkahkan kakinya keluar tanpa ada niat untuk membantu Aldari yang tampak sedikit kesulitan untuk berjalan karena terjatuh di lantai atas tadi.
__ADS_1
Jastin yang sedang berjalan di belakang Aldari tampak sekali tak berani membantu Aldari untuk berjalan keluar menuju di mana mobil Alex yang sedang terparkir di lobi perusahaan. Jastin memang benar-benar laki-laki sangat pengertian, sampai di depan lobi Jastin tetep setia berada di belakang Aldari hanya untuk memastikan Aldari aman sampai di depan mobil miliknya CEO nya itu.
Sampai di depan lobi, Jastin langsung membuka pintu mobil untuk CEO nya yang seperti terlihat kesal terhadap dirinya lantaran dirinya mengabaikan tugasnya utamanya sebagai sekretaris dirinya tersebut.
"Silahkan ... tuan!" ujar Jastin membungkuk kepalanya untuk mempersilahkan CEO nya agar masuk ke dalam mobil itu. Jastin langsung mengitari mobil itu untuk membukakan pintu mobil untuk Aldari karena Aldari tidak bisa membuka pintu mobil itu di karena kan mobil milik CEO nya itu super canggih. Biasalah mobil orang kaya.
Selesai membukakan pintu mobil untuk Aldari, Jastin kembali mengitari mobil untuk bergegas masuk ke dalam mobil itu sebelum CEO nya itu mengeluarkan unek-unek kekesalannya terhadap dirinya nantinya. Jastin langsung menghidupkan mesin mobil itu dan langsung bergegas meninggalkan pekarangan perusahaan tersebut.
Beberapa menit menempuh perjalanan, mobil yang di tumpangi Alex, Aldari dan juga Jastin yang mengendarai mobil itu sendiri kini sudah sampai di depan mansion yang begitu besar dengan sudah beberapa pelayan yang menyambut kedatangan pemilik mansion tersebut.
"Tuan!" sapa sang kepala pelayan menyambut kepulangan sang majikan nya tersebut.
"Apa mereka sudah datang?" tanya Alex tanpa menjawab sapaan dari sang kepala pelayan mansion miliknya itu.
Saat akan menginjakkan kaki di anak tangga, Alex berbalik badan untuk menyuruh kepala pelayan mansion miliknya itu untuk membantu Aldari membersihkan badannya lantaran sudah satu hari gadis itu bekerja di perusahaan nya.
"Bantu gadis itu untuk membersihkan dirinya, dan setelah itu bawah dirinya ke ruang tamu nanti!" perintah Alex pada wanita paruh baya itu yang merupakan kepala pelayan di mansion nya itu.
"Baik tuan!" sahut wanita paruh baya itu.
Selesai memberikan perintah pada sang kepala pelayan mansion miliknya, Alex bergegas menuju ke lantai atas untuk memberikan dirinya terlebih dahulu sebelum menemui para-para desainer yang telah dirinya perintahkan datang melalui sang sekretaris nya Jastin.
__ADS_1
Tiga puluh menit kemudian, tampak Aldari sudah berganti pakaian yang dirinya kenakan waktu pergi ke perusahaan Alex tadi. Kini Aldari sudah berada di ruangan tamu bersama wanita paruh baya yang membantu dirinya untuk bersiap-siap atas perintah Alex beberapa menit yang lalu.
Beberapa langkah akan mendekati ruang tamu, Aldari menoleh ke samping melihat wanita paruh baya itu yang sedang mengiringi dirinya ke ruang tamu itu. Bibi ... untuk apa mereka kemari? tanya Aldari sambil menyamakan langkah kaki dengan wanita paruh baya itu.
"Tuan yang meminta mereka untuk datang kemari nona!" sahut kepala pelayan mansion sambil tersenyum tipis.
"Ohh, begitu yah Bi!" imbuh Aldari sambil mengedarkan pandangannya melihat tak jauh dari sana sekretaris Jastin yang sedang berdiri.
Aldari yang sudah berada di ruang tamu itu langsung diminta oleh anggota desainer tersebut untuk langsung mengukur badannya, karena akan di buatnya model pakaian yang cocok Aldari kenakan nanti saat acara reunian Alex nantinya.
Anggota desainer yang akan mengukur badan Aldari saat itu langsung menoleh ke arah sumber suara yang sedang memanggil dirinya. lya tuan? sahut anggota desainer tersebut ketika melihat seseorang yang menghubungi mereka untuk datang ke mansion milik pengusaha sukses itu.
"Pakaian model seperti ini yang kalian akan buatkan untuk nona ..." karena ini perintah dari tuan Alex sendiri!" ujar Jastin menyerahkan kertas yang dirinya prin saat di kantor tadi.
Anggota desainer itu pun langsung menerima kertas dari tangan Jastin, setelah menerima kertas itu tampak anggota desainer itu langsung membulatkan matanya karena melihat model baju yang akan mereka buat untuk gadis mungil yang sedang berdiri di hadapan dirinya itu.
"Tuan ... model baju ini apa-" belum sempat meneruskan ucapannya anggota desainer itu langsung terkejut mendengar suara seseorang dari arah tangga yang sedang menatap dirinya dengan dingin.
Anggota desainer itu yang mendapat tatapan dingin bak elang yang siap mencabik-cabik jantung langsung menelan ludahnya dengan susah paya akan tatapan tajam itu.
"Kau tinggal lihat dan ukur saja badan gadis itu! dan jangan banyak bertanya sama gadis itu! soal baju yang dirinya inginkan, karena dirinya tidak akan tahu apa-apa ... sudah cukup kau lihat kertas itu saja!" ujar Alex ketika dirinya sudah sampai di ruang tamu itu.
__ADS_1
Bersambung