Menjadi Pembantu Tuan Muda Arogan

Menjadi Pembantu Tuan Muda Arogan
99. Menjadi pembantu tuan muda arogan


__ADS_3

Aldari bukan terkejut lagi melihat keadaan rumah kontrakan nya yang tak seberapa ini dibandingkan dengan rumah kontrakan yang lain nya. Karena di antara rumah-rumah kontrakan, rumah kontrakan Aldari lah yang paling tak enak di pandang mata karena rumah kontrakan Aldari tak semahal rumah kontrakan yang lainnya. Dan di tambah lagi ulah si laki-laki arogan yang tak berperasaan mengobrak-abrik isi rumah kontrakan Aldari saat ini dan lengkap sudah penderitaan Aldari saat ini.


Hiks...hiks...hiks


Tangis Aldari dengan cegukan yang memikirkan nasibnya yang malang ini dan di tambah lagi rumah yang sudah hancur dengan isi-isi nya yang sudah entah kemana perginya lagi.


Aldari yang melihat keadaan rumah kontrakan nya saat ini pun langsung meneteskan air mata nya segitu kah dirinya di benci oleh orang kaya terhadap dirinya yang miskin ini dan di tambah lagi punya hutang yang entah bisa dirinya lunasi hutang tersebut entah tidak.


Rere yang mendengar suara tangis pilu dari sang sahabatnya tersebut pun langsung menoleh ke arah dimana Aldari sedang menatap sekeliling rumah kontrakan nya saat ini.


Rere langsung menghampiri Aldari yang sedang terduduk di lantai rumah kontrakan nya saat ini yang sedang menangis melihat sekeliling rumah kontrakan nya yang sudah seperti kapal pecah saja.


Rere langsung memeluk Aldari yang sedang terduduk di lantai sambil menangis melihat keadaan rumah kontrakan nya saat ini.


"Loh yang sabar yah Al!" ujar Rere menenangkan sang sahabatnya tersebut yang sedang bersedih hati lantaran rumah kontrakan nya yang sudah di obrak-abrik oleh si laki-laki tampan nan arogan beberapa menit yang lalu.


Aldari langsung melepaskan pelukannya dari sahabatnya Rere yang sedang memeluk dirinya saat ini.


Aldari langsung melihat wajah dari sang sahabatnya yang sedang menatap dirinya dengan tatapan iba.


"Re, sepertinya mungkin dua hari lagi diriku akan segera pergi dari kota ini!" seru Aldari sambil mengelap air mata nya yang masih saja keluar dari mata nan berbulu lentik hitam itu.


"Al, apa loh yakin secepat itu loh akan pergi!" tanya Rere yang sedang menatap wajah sang sahabatnya yang sudah memerah karena masih saja menangis.


Aldari yang mendengar ucapan dari sang sahabatnya pun langsung menganggukkan kepalanya.


"Lebih cepat lebih baik Re!" ujar Aldari sambil bangkit dari duduknya untuk memunguti barang-barang yang tak lagi di tempatnya saat ini.


Rere pun langsung membatu Aldari memunguti barang-barang yang ada di lantai semen yang dingin itu.

__ADS_1


Beberapa menit selesai memunguti barang-barang yang berceceran di lantai, Aldari dan Rere pun langsung terduduk di atas ranjang milik Aldari karena kelelahan sehabis merapikan rumah kontrakan Aldari saat ini.


"Huh, laki-laki tampan itu memang benar-benar keterlaluan, muka saja yang tampan dan juga pebisnis yang terkenal no satu di kota X ini, tapi kelakuannya benar-benar tidak perikemanusiaan!" omel Rere terhadap Alex yang telah mengobrak-abrik rumah kontrakan sahabatnya Aldari.


Sambil berceloteh dan memaki-maki Alex yang telah menyakiti hati sang sahabatnya Aldari, Rere pun membantu Aldari berkemas-kemas pakaian yang telah di usai oleh Alex.


"Al...atau loh tinggal saja di rumah gue untuk sementara sampai keadaan membaik dan loh enggak usah pergi ke luar kota pindah!" tawar Rere sambil membantu Aldari menyusun pakaian nya di dalam lemari.


Aldari yang mendengar tawaran dari sang sahabatnya Rere pun langsung menghentikan aktivitas yang sedang menyusun pakaian saat ini.


Aldari langsung menoleh ke arah dimana sang sahabat nya Rere saat ini sedang menatap dirinya yang sedang duduk di tepi ranjang.


"Re, bukanya gue nolak niat baik loh yang ingin membantu gue, tapi gue enggak mau nyusahin loh dan keluarga loh!" ujar Aldari dengan suara lirih nya.


"Dan lagian gue juga takut kalau gue tinggal bersama dengan keluarga loh, takutnya nanti tuan Alex bakalan gangguin kehidupan keluarga loh Re!" jelas Aldari terhadap sahabatnya Rere supaya Rere tak merasa tidak enak hati jika dirinya menolak bantuan dari sang sahabatnya Rere saat ini.


"Gue sih enggak bakalan maksain loh Al, kalau loh butuh bantuan dari gue loh jangan sungkan-sungkan untuk bilang sama gue Al!" ujar Rere dengan serius menatap wajah sang sahabatnya saat ini yang sedang duduk di tepi ranjang milik nya tersebut.


"Baiklah Re, makasih yah Rere!" ujar Aldari sambil tersenyum tipis menatap wajah sang sahabatnya saat ini.


Aldari dan Rere pun langsung berpelukan bak teletubbies yang sedang berbahagia.


~~


Sementara di dalam mobil.


"Jastin kau Blacklist nama gadis pembangkang itu, agar dirinya tidak bisa pergi kemana-mana dan kau tempatkan juga orang-orang di rumah kontrakan gadis pembangkang itu untuk mengawasi dirinya!" perintah Alex kepada sang sekretaris Jastin yang sedang fokus menatap jalanan kota X yang mulai sepi di jam yang telah menunjukkan bahwa jam sudah tengah malam.


Jastin yang mendengar perintah dari sang CEO nya tersebut pun langsung mengangguk kan kepalanya menerima perintah dari sang CEO nya tersebut.

__ADS_1


"Baik tuan!" jawab Jastin dengan tegas menerima perintah dari CEO nya tugaskan untuk dirinya.


"Untuk beberapa hari ini biarkan saja gadis pembangkang itu menikmati hari-hari nya yang sudah terbebas dari pengawasan dari diriku!" gumam Alex yang masih bisa di dengar oleh sang sekretaris Jastin yang sedang fokus di kursi mengemudi mobil saat ini.


"Huh, dasar gadis pembangkang sialan!" geram Alex sambil melihat benda yang ada di dalam genggaman tangannya saat ini.


Jastin yang mendengar suara omelan dari CEO nya tersebut pun langsung melirik melalui kaca spion mobil nya saat ini.


"Sebegitu kah dirinya kesal terhadap gadis malang itu!" batin Jastin yang saat ini sedang memperhatikan CEO nya tersebut melalui kaca spion mobil.


Alex yang merasa dirinya di perhatikan oleh sang sekretaris Jastin pun langsung menendang kursi yang sedang diduduki oleh Jastin saat ini.


"BUG...!"


"Kau perhatikan saja jalanan Jastin!" ujar Alex dengan suara datar miliknya tersebut.


Jastin yang mendapatkan tendangan keras dari CEO nya tersebut pun langsung mengalihkan pandangannya ke arah depan.


"Huh, menyebalkan!" batin Jastin ketika dirinya mendapatkan tendangan mendadak dari CEO nya yang saat ini sedang kesal.


"Kau tunggu saja pembalasan dari diriku, gadis pembangkang!" batin Alex yang sedang memikirkan Aldari saat ini.


"Jastin apa dirimu sudah menemukan siapa mata-mata mommy di mansion utama!" tanya Alex pada sang sekretaris Jastin yang sedang fokus menatap jalanan kota X saat ini.


"Belum tuan!" jawab Jastin dengan suara gugup nya saat ini.


"Huh, payah!" sinis Alex menatap sang sekretaris Jastin melalui kaca spion mobil saat ini.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2