
Sesampainya Alex di dapur Aldari, Alex langsung menatap nanar ke arah dapur Aldari yang saat ini seperti k*n*a*g t*r*a*. Alex menatap j*j*k ketika dirinya melihat isi dapur Aldari saat ini yang jauh dari kata standar untuk dirinya sendiri.
"Maklum orang kaya"
Kalau dibandingkan dengan hidup Aldari mah...mana bisa.
"Alex ada-ada aja deh"
"Issshh," miris itukah hidup gadis pembangkang itu!" batin Alex sambil mengedarkan pandangannya melihat ke arah sekitar dapur Aldari saat ini.
Alex yang sedang fokus melihat isi dapur Aldari, tiba-tiba saja dirinya merasa ingin membuang air kecil.
"Ah...perutku memangnya kalian tidak bisa nanti sajakah di keluarkan kenapa harus sekarang sih!" kesal Alex ketika dirinya ingin mengeluarkan sesuatu di dalam badan nya saat ini.
Alex yang tak tahan lagi ingin membuang air kecil pun langsung melangkahkan kakinya menuju kamar mandi Aldari berada saat ini.
Sesampainya Alex di depan pintu kamar mandi Aldari, Alex langsung membuka pintu kamar mandi yang ada di hadapannya saat ini.
Ceklek
Dan terbukalah pintu kamar mandi Aldari oleh Alex saat ini, Alex yang melihat kamar mandi Aldari seketika dirinya merinding melihat isi kamar mandi Aldari saat ini.
"Issshh!" jika bukan ingin membuang air kecil, amit-amit diriku masuk ke dalam sini!" kesal Alex yang tetep melangkahkan kakinya memasuki kamar mandi Aldari saat ini.
Satu menit baru lah Alex keluar dari dalam kamar mandi Aldari setelah dirinya membuang air kecil.
Alex kembali menatap sekeliling rumah kontrakan Aldari saat ini yang sebenarnya tak layak lagi untuk di huni.
"Apa gadis pembangkang itu nyaman tinggal di rumah yang seperti kan-" Alex tak melanjutkan ucapannya karena saking j*j*k melihat rumah kontrakan Aldari saat ini.
__ADS_1
Setelah Alex menyelusuri setiap ruangan yang ada di dalam rumah Aldari, Alex pun kembali ke ruangan depan sambil merogoh saku jasnya tersebut untuk mengambil handphone miliknya untuk menghubungi sang sekretaris Jastin.
Drrtt...drrtt...drrtt
Sambil berputar-putar kecil di ruangan depan rumah kontrakan Aldari, Alex menghubungi sang sekretaris Jastin yang saat ini sedang menyandarkan kepalanya di kursi ruangan dimana sang sekretaris Jastin masih belum beranjak dari tempat ruangan megah saat ini.
Jastin yang mendengar dering handphone miliknya nya pun langsung terkejut mendengar dering handphone miliknya yang berdering lumayan besar di ruangan tertutup saat ini.
"Issshh, ni siapa lagi yang menelfon-nelpon orang yang lagi kesal begini!" gerutu Jastin ketika dirinya mendengar suara handphone miliknya berdering.
Sambil menggerutu siapa yang sedang menelfon dirinya, Jastin langsung mengambil handphone miliknya di dalam saku celana milik nya tersebut.
Jastin yang melihat layar handphone miliknya siapa yang sedang menghubungi dirinya saat ini, dan tanpa berpikir panjang Jastin langsung menggeser layar hijau di layar handphone miliknya sebelum dirinya mendapat amukan dari CEO nya yang saat ini sedang dalam keadaan yang bisa dibilang kurang baik-baik saja.
"Halo tuan!" jawab Jastin ketika dirinya sudah menggeser layar hijau di handphone miliknya saat ini.
Setelah panggilan dari dirinya suara di jawab oleh sang sekretaris Jastin, Alex langsung menyuruh sang sekretaris Jastin untuk menjemput dirinya di kediaman Aldari.
Tut...Tut...Tut
Panggilan telefon pun langsung di putus oleh Alex secara sepihak ketika dirinya selesai menghubungi sang sekretaris Jastin, dan seperti biasa tanpa menunggu jawaban dari sang sekretaris nya Jastin Alex langsung mematikan handphone miliknya.
"Huh, memang benar-benar tidak bisa berubah!" gerutu Jastin sambil bangkit dari duduknya untuk menuju ke tempat parkiran mobil milik CEO nya yang sedang terparkir di depan gedung megah saat ini.
Sambil menggerutu melangkahkan kakinya menuju mobil miliknya CEO nya Jastin pun membayangkan CEO yang memang suka sekali mematikan sambungan telepon sepihak ketika menghubungi dirinya.
"Mmm...diriku sangat penasaran sekali apa ada nantinya orang yang berani mematikan panggilannya sebelum dirinya yang mematikan sambungan telepon dari dirinya nanti!" gumam Jastin sambil melangkahkan kakinya menuju parkiran mobil.
"Jika ada orang yang berani mematikan sambungan telepon tersebut, diriku memang ajukan sepuluh jempol untuk orang itu nantinya!" gumam Jastin ketika dirinya membayangkan wajah CEO ketika ada orang yang berani mematikan sambungan telepon tersebut.
__ADS_1
"Mudah-mudahan saja ada!" batin Jastin yang mendoakan agar ada orang yang berani terhadap CEO nya tersebut.
Sesampainya Jastin di parkiran mobil, Jastin langsung meninggalkan gedung megah itu dan langsung menuju ke kediaman Aldari di mana CEO nya sedang menunggu kedatangan dirinya tersebut.
~~
Beberapa menit menempuh perjalanan, Aldari dan juga Rere pun sampai di alamat kontrakan Aldari. Aldari yang melihat dari kejauhan ada sebuah mobil di depan rumah kontrakan nya pun langsung menyuruh sang sahabatnya Rere untuk berhenti.
"Rere, berhenti di sini sebentar dulu!" ujar Aldari menyuruh Rere untuk berhenti di pinggir jalan yang beberapa meter lagi sampai di halaman rumah kontrakan nya saat ini.
Rere yang mendengar perintah dari sang sahabatnya pun langsung mengerem secara mendadak.
Ciiiiiitttttt
Dan terdengarlah suara rem secara mendadak oleh Rere ketika dirinya mendengar ucapan dari sang sahabat nya Aldari.
"Al, kenapa loh nyuruh gue berhenti disini sih dan mendadak lagi!" omel Rere terhadap sahabat nya yang saat ini fokus menatap kontrakan nya saat ini.
Rere yang tak mendapatkan jawaban dari sang sahabat nya pun langsung menoleh ke arah pandangan sahabatnya saat ini.
"Re, lirih suara Aldari memanggil sahabatnya saat ini.
Rere yang mendengar suara sahabatnya yang seperti ini menangis pun langsung menoleh melihat wajah dari sang sahabat nya yang sedang menatap kontrakan nya saat ini.
"Ada apa?" tanya Rere yang bingung melihat ekspresi wajah dari sang sahabat nya saat ini.
"I-itu mobil nya tuan Alex!" gugup Aldari bicara dengan sang sahabat nya Rere.
"A-apa!"
__ADS_1
"I-iya"
Bersambung