
Aldari yang melihat Alex yang masih saja tak bisa menghentikan tawanya yang melihat dirinya memakai pakaian yang telah di belikan oleh sang sekretaris Jastin atas perintah dirinya. Dan itu membuat Aldari begitu heran melihat Alex yang tak henti-hentinya melihat dirinya sambil terus saja menertawakan dirinya.
"Dasar laki-laki Aneh...! omel Aldari yang bisa dirinya luapkan dalam dirinya saja karena tak punya keberanian untuk memaki-maki laki-laki tampan yang sedang menatap dirinya saat ini.
"Memangnya ada yang salah dengan penampilan diriku ini...! dan kenapa laki-laki ini terus-terusan tak berhenti tertawa!" batin Aldari melihat Alex begitu tajam.
Beberapa detik kemudian barulah Alex bisa berhenti dengan tawanya, karena mendapatkan tatapan tajam dari Aldari dan itu sangat tidak di sukai oleh dirinya ketika Aldari melihat dirinya dengan tatapan tersebut.
"Kau berhentilah menatap diriku seperti itu...! sebelum mata itu yang aku keluarkan dari tempatnya!" seru Alex dengan tatapan tajam melihat di mana Aldari berdiri.
Aldari yang mendengarkan ucapan dari Alex, refleks Aldari langsung menyentuh kedua matanya dengan telapak tangan mungil milik nya.
"Wajah saja yang tampan, tapi jiwa Psikopat!" batin Aldari sambil merapikan letak rok panjang yang dikenakan yang sedikit kebesaran itu.
Dan Alex bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah dimana Aldari berdiri, dan Alex mengitari tubuh mungil Aldari sambil memperhatikan penampilan Aldari begitu serius dari kepala hingga kaki tak luput dari perhatian Alex. Benar-benar sangat pas dan juga cantik. Sungguh pandai sekali sekretaris mata jelalatan itu memilih pakaian yang pas untuk gadis ini..! gumam Alex. Hehehehe.
Aldari yang melihat Alex yang sedang mengitari tubuh mungil nya saat ini pun di buat sangat tidak nyaman atas apa yang di lakukan oleh Alex terhadap dirinya.
"Memang laki-laki sangat menyebalkan sekali!" maki Aldari melihat gerak gerik Alex yang sedang menatap dirinya.
Selesai memperhatikan penampilan Aldari yang sudah pas dan juga bisa mengikuti dirinya yang akan mengadakan meeting, Alex pun menyuruh Aldari untuk keluar dari ruangan pribadi miliknya karena Aldari sudah selesai menganti pakaiannya dan siapa untuk mengikuti dirinya yang akan meeting beberapa menit lagi.
"Keluarlah dari ruangan ini!" kata Alex sambil melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu keluar dari ruangan itu.
Aldari langsung mengikuti langkah kaki Alex dengan cepat untuk ke luar dari ruangan pribadi milik Alex.
Tap... tap... tap.
Jastin yang mendengar suara sepatu yang menyentuh lantai marmer itu mendekati ruangan kerja CEO nya pun langsung mengalihkan pandangannya dari berkas-berkas yang sedang dirinya lihat. Jastin yang melihat penampilan Aldari langsung membulatkan matanya melihat pakaian yang di kenakan oleh Aldari saat ini benar-benar serba kebesaran mulai dari baju hingga rok yang seperti sedikit panjang.
__ADS_1
"Ahh..." rupanya pakaian itu kebesaran oleh dirinya!" gumam Jastin sambil memperhatikan penampilan Aldari yang sedang berdiri tak jauh dari ruangan itu.
Ehem... ehem... ehem.
Alex berdehem tiga kali karena melihat sang sekretaris nya Jastin begitu intens melihat calon sekretaris baru nya itu dan itu membuat dirinya sama sekali tidak suka.
"Kau tidak perlu segitunya menatap gadis itu Jastin!" kata Alex dengan begitu dingin memperingati sekretaris nya itu.
"Dasar sekretaris mata jelalatan!" omel Alex dengan suara yang begitu nyaring sehingga membuat Jastin langsung mengalihkan perhatian dari Aldari.
"Jam berapa meeting nya akan di mulai?" tanya Alex Tampa mengalihkan pandangan dari depan layar komputer milik itu.
"Jam 13:45..." tuan!" sahut Jastin dengan suara sopan terhadap CEO-nya itu.
"Dan untuk kali ini, kau tidak perlu ikut bersama diriku meeting dan berkas-berkas untuk meeting kau serahkan kepada gadis itu!" perintah Alex kepada sang sekretaris nya Jastin untuk menyerahkan semua berkas-berkas yang di perlukan untuk meeting nanti kepala Aldari.
"Baik tuan..." sahut Jastin.
Selesai menyusun berkas-berkas yang akan di perlukan untuk meeting oleh CEO-nya, Jastin langsung menyerahkan berkas-berkas itu kepada sekretaris Baru CEO nya.
"Nona..." ini berkas-berkas yang akan tuan Alex butuhkan untuk meeting nanti!" kata Jastin menyerahkan berkas-berkas itu kepada Aldari.
Aldari langsung menerima berkas-berkas itu dari tangan Jastin, dan setelah itu Aldari pun langsung menoleh ke arah dimana Alex sedang duduk di kursi kerjanya tanpa mau sedikit pun niat nya untuk melihat ke arah dimana Aldari berdiri.
Aldari yang bingung saat ini mau di letakkan di mana berkas-berkas yang lumayan berat itu pun pun langsung menoleh ke arah sang sekretaris Jastin berdiri, Aldari berharap agar sang sekretaris Jastin mau membantu dirinya yang tak tahu apa-apa saat ini.
Jastin yang ditatap seperti itu oleh sekretaris baru CEO-nya itu pun langsung menoleh ke arah dimana sang CEO-nya duduk di depan layar komputer nya. Baru saja Jastin yang ingin bersuara, terdengar suara dingin dari sang CEO nya untuk menyuruh dirinya untuk keluar dari ruangan kerja CEO nya tersebut.
"Jika kau sudah selesai..." tinggalkan ruangan ini Jastin!" seru Alex menyuruh sekretaris nya Jastin agar meninggalkan ruangan kerja nya.
__ADS_1
"Baik..." tuan!" sahut Jastin ketika dirinya di usir oleh Alex secara halus.
"Saya permisi..." tuan!" pamit Jastin kepada CEO-nya itu yang masih fokus menatap layar komputer di hadapannya itu.
Sebelum keluar dari ruangan kerja CEO nya, Jastin sempat melirik ke arah dimana Aldari berdiri, tampak sekali wajah Aldari sedang kebingungan karena tidak tahu mau di letakkan di mana berkas-berkas yang masih di tangan mungil milik nya itu.
Setelah Jastin meninggalkan ruangan itu, Alex langsung menoleh ke arah dimana sang sekretaris barunya itu berdiri sambil memegang berkas-berkas di tangan mungil nya.
"Apa kau tidak pegal memegang berkas-berkas itu terusan?" tanya Alex sambil memainkan pulpen di atas meja kerjanya itu dan sambil melihat Aldari yang tampak sekali kesal terhadap dirinya.
Untuk yang satu ini Aldari harus memberanikan dirinya karena dirinya tak sanggup berlama-lama memegang berkas-berkas yang ada di dalam genggaman tangan mungil milik nya saat ini.
"T-tuan..." berkas-berkas ini mau saya letakkan di mana?" tanya Aldari dengan suara terbata-bata karena dirinya takut menerima omelan dari Alex. Sungguh.
Tanpa menjawab pertanyaan dari Aldari, Alex langsung bangkit dari kursi kerjanya dan langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu keluar.
Bukannya jawaban yang Aldari dapatkan, akan tetapi Aldari langsung mengikuti langkah panjang dari Alex yang keluar dari ruangan kerja nya itu yang tiba-tiba dan itu membuat Aldari sangat kesal lain yang dirinya tanyakan lain pula yang Alex lakukan terhadap dirinya.
"Huh..." memang benar-benar menyusahkan berurusan dengan orang-orang kaya ini...! keluh Aldari sambil tergesa-gesa mengikuti langkah kaki panjang Alex.
Aldari yang kurang fokus karena dirinya takut kehilangannya jejak Alex yang begitu melangkah begitu panjang, sehingga membuat konsentrasi Aldari sedikit hilang dan akhirnya Aldari langsung membentur dada bidang Alex karena Alex tiba-tiba saja berhenti mendadak.
Brukkkk.
Dan akhirnya berkas-berkas yang sudah tersusun rapi itu harus berceceran di lantai karena ulah Aldari yang kurang konsentrasi kerena takut kehilangan jejak Alex.
"Kau..." ujar Alex dengan menatap tajam kearah sang sekretaris baru nya itu.
"Maaf..." t-tuan!" sahut Aldari langsung menundukkan kepalanya karena tak berani menatap wajah Alex yang begitu dingin menatap dirinya.
__ADS_1
"Dasar payah!" maki Alex sambil melihat berkas-berkas yang sudah berceceran itu.
Bersambung