My Bastard Brother

My Bastard Brother
Episode 92


__ADS_3

~Happy Reading~


Sebelum atau sesudah membaca biasakan selalu menekan Like, Fav, Rate 5 Bintang, karena semua itu GRATIS loh 😊😗


°°°


Keesokan Harinya. Davidto menyuruh Zeno untuk ke ruang kerjanya di saat Ana dan Caca masih tertidur dan disinilah mereka berada, di ruang kerja Davidto.


" Ada apa papih manggil Zeno? " Ujar Zeno yang duduk di sofa singgle tepat di depan papihnya.


" Kapan kau akan memberitahukan ke Ana? "


Zeno mengerti apa yang dikatakan papihnya itu. Jujur dia secepatnya Ana tau tentang kebenarannya, tapi Ana selalu tidak percaya dengan apa yang dikatakannya.


" Kalau Zeno yang beritahukan Ana tidak pernah percaya, jadi percuma saja. " Ujar Zeno dengan memandang serius kedua orang tuanya.


" Begini saja, nanti papih dan mamih yang akan bicara ke Ana. Tapi kapan waktu yang tepat untuk memberitahukannya? " Ujar Davidto memandang istri dan putranya bergantian.


" Besok malam, Tepat dimana Zeno melamar Ana. " Ujar Zeno membuat keduanya orang tua terkejut.


Pasalnya putranya tidak mengatakan kepada keduanya bahwa dia akan melamar Ana besok malam.


" Kenapa tidak bilang? "


Kini giliran Fania yang angkat suara. Dia tidak suka dengan sikap putranya ini yang selalu dadakan dan tidak memberitahukan mereka jauh-jauh hari.


Apalagi mereka belum mempersiapkan apapun untuk menyiapkan tempat dan dekorasinya.


" Mamih sama papih tenang aja, Zeno sudah menyiapkan semuanya. Kalau Zeno bilang ke mamih, yang ada nanti bocor ke Ana dan gak jadi kejutan. " Ujar Zeno yang sengaja merahasiakannya dari mamih nya yang kadang suka keceplosan.


" Papih kan gak. " Ujar Davidto memandang putranya.


" Kalau Zeno mengatakan ke papih, yang ada nanti papih cerita ke mamih, sama saja. " Ujar Zeno membuat Davidto terkekeh.

__ADS_1


" Bener juga ya. Tapi tetap saja, seharusnya kamu bilang ke papih, kan papih bisa jaga rahasia nantinya. "


" Papih emang bisa jaga rahasia? Dulu saat aku melamar Wilona, papih bisa jaga rahasianya dari mamih? "


Davidto menggelengkan kepalanya sambil terkekeh. Ternyata putranya masih ingat kejadian dulu dimana putranya bercerita akan melamar Wilona dan menyuruhnya untuk merahasiakannya dari sang istri, tapi keesokan harinya dia malah bercerita ke sang istri.


" Ya sudahlah lupakan. " Ujar Davidto yang tidak mau di salahkan.


" Yayayaya. " Ujar Zeno jengah.


" Mau melamar Ana dimana? " Tanya Fania.


" Di restoran, Zeno juga sudah booking tempatnya. Semua dah beres tinggal nyari alasan buat bawa Ana kesana, tanpa dia tau. " Ujar Zeno.


" Kamu tenang aja, serahin semuanya ke mamih. Intinya besok kamu berangkat duluan aja ke restoran, semua harus terlihat perfect, jangan ada kegagalan sedikit pun. " Ujar Fania dan diangguki setuju Davidto.


" Mamih sama papih tenang aja, Zeno sudah mempersiapkan dari jauh-jauh hari dan semua bakal sesuai rencana. " Ujar Zeno dengan mantap.


" Baguslah kalau gitu. " Ujar Fania tersenyum senang melihat tatapan keseriusan di wajah putranya.


...-------------...


Di kamar bernuansa Black, white. Ana baru terbangun dari tidurnya, disaat dia meraba-raba di sampingnya, dia tidak menemukan kehadiran Zeno disana.


" Hoamm, kemana kak Zeno? " Ujar Ana yang ingat semalam Zeno memaksa dirinya untuk tidur satu kamar dengannya dan Caca tetap tidur di kamarnya sendiri.


" Mungkin dah ke kantor kali ya. " Ujar Ana yang berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya.


Sesudah mencuci mukanya, dia memutuskan untuk menemui putri kecilnya di kamarnya.


Tokk ...


Tokk ...

__ADS_1


" Caca sayang ayo bangun. " Ujar Ana sambil mengetuk pintu berwarna pink itu.


Karna tidak ada jawaban dari sang putri. Dia memutuskan untuk mencoba membuka pintunya yang ternyata tidak di kunci.


" Tumben tidak di kunci? " Ujar Ana yang bertanya-tanya, biasanya Caca selalu mengunci pintunya saat pindah kesini dan katanya dia butuh privasinya sendiri.


Cklek ...


Saat pintu terbuka, dia melihat putri kecilnya. Penyemangat sekaligus penerang hidupnya tengah tertidur pulas di kasur pink bergambar Hello Kitty.


Ana berjalan menghampiri putrinya yang tengah tertidur. Di pandanginya lah wajah cantik putrinya saat tertidur. Dia tersenyum bisa menjaga putrinya sampai saat ini.


Tetesan air mata mulai lolos di kedua pelupuk matanya saat mengingat kisah masa lalunya yang sangat menyakitkan. Di cemooh oleh warga bahkan anaknya yang tidak tau apa-apa dikatakan sebagai anak hina yang terlahir tanpa seorang ayah.


" Mommy. "


Ana langsung buru-buru menghapus air matanya saat menyadari putri kecilnya sudah mulai terbangun.


" Baru mau mommy bangunkan. " Ujar Ana dengan mencoba tersenyum menutupi kesedihannya saat mengingat masalalunya.


" Hoamm, mommy telat. " Ujar Caca yang duduk tapi masih memejamkan matanya.


" Ayo mandi, habis tuh turun sarapan. Pasti grandma, grandpa dan daddy sudah menunggu di bawah. " Ujar Ana sambil merapikan rambut Caca yang sedikit berantakkan, maklum habis bangun tidur.


" Hoamm, baiklah mom. " Ujar Caca sambil sedikit demi sedikit membuka matanya yang masih terasa berat untuk di buka.


" Ayo cepetan mandi. " Ujar Ana sambil mengecup pipi putrinya.


" Ya mom. " Ujar Caca sambil mencium pipi Ana sebelum dia beranjak ke kamar mandi.


" Mommy tunggu di bawah ya sayang. " Ujar Ana dan diangguki Caca yang mulai memasuki kamar mandi.


" Semoga kisah mu tidak sama seperti mommy nak. " Gumam Ana sambil berdoa di dalam hatinya supaya putrinya kelak bisa hidup bahagia tidak seperti dirinya dulu.

__ADS_1


~Bersambung~


Likenya jangan lupa ya😘


__ADS_2