
Happy Reading :)
^^^
Sebelum atau sesudah membaca biasakan selalu menekan Like, Fav, Rate 5 Bintang, karena semua itu GRATIS loh😊😗
°°°
Zeno menatap gadis kecil yang tengah menunduk takut di belakang wanita kursi roda di depannya.
" Maafin keponakan saya tuan. " Ujar wanita kursi roda itu menatap Zeno yang tengah menatap datar gadis kecil yang entah kenapa wajah gadis itu sekilas mirip dengannya.
" Tuan. " Panggil wanita kursi roda itu yang tidak lain ialah Sekar.
" Hmm, Ya. Lain kali hati-hati. " Ujar Zeno yang masih menatap gadis kecil yang berada di belakang Sekar.
Caca yang takut dengan tatapan mata Zeno yang terus menatapnya dengan intens, membuat dirinya menarik lengan baju aunty nya dan Sekar yang seakan tau kalau keponakannya itu takut dengan pria yang di depannya ini yang terus menatap keponakannya.
" Sekali lagi maaf tuan, kalau begitu kami permisi. " Sekar langsung mendudukkan Caca di atas pangkuannya dan dirinya pun langsung menggerakkan kursi rodanya menjauh dari hadapan pria tampan yang masih menatap mereka.
Di sepanjang jalan Caca selalu berkata takut terhadap tatapan Zeno yang menatapnya dengan intens. Sesekali Caca juga menatap wajah Zeno yang memiliki kemiripan olehnya dari segi bola mata mereka.
" Lain kali Caca jangan nyebrang sembarangan, kalau ketabrak tadi gimana? " Ujar Sekar yang menasehati keponakannya itu sambil terus menggerakkan kursi rodanya menuju toko kue tempat kerja Ana.
" Iya aunty, lain kali Caca gak bakal kaya gitu lagi. " Ujar Caca dengan mata berkaca-kacanya.
" Ya sudah, jangan menagis. " Ujar Sekar yang menurunkan Caca dari atas pangkuannya dan mereka kini sudah berada di depan toko kue tempat kerja Ana.
" Iya aunty. " Ujar Caca yang langsung membuka pintu toko kue tempat mommy nya bekerja dan berjalan masuk mencari keberadaan mommy nya.
Para karyawan menatap kedatangan Caca dan Sekar dengan tersenyum. Mereka tau Caca putri dari Kak Ana dan Sekar adik dari Kak Ana.
__ADS_1
" Halo Caca sayang. " Ujar Bu Ustadzah yang menghampiri Caca dan Sekar.
" Halo, Nenek Umi. " Ujar Caca yang sudah terbiasa memanggil bos mommy nya dengan sebutan nenek Umi dan itu pun atas ijin orang yang bersangkutan.
" Caca mencari mommy ya? " Caca mengangguk dengan ekspresi wajah yang sangat menggemaskan.
" Nenek Umi tau dimana mommy? " Ujar Caca dengan tatapan polosnya.
" Tentu sayang, mommy Caca lagi nganter kue ke proyek pembangunan di sana. " Ujar Bu Ustadzah dengan mengendong Caca.
" Lama tidak nenek Umi? Caca sama aunty nganterin makan siang buat mommy, Caca takut nanti maag nya mommy kambuh karna belum makan nenek Umi. " Ujar Caca dengan cerewet membuat Bu Ustadzah yang mendengarnya tersenyum.
Beruntung sekali Ana memiliki putri kecil yang manis, imut, menggemaskan, baik dan perhatian.
" Tidak sayang, bentar lagi pasti mommy kesini. " Ujar Bu Ustadzah yang meletakkan tubuh Caca di sofa ruangannya.
" Hmm, baiklah. " Ujar Caca dengan tersenyum manis.
" Alhamdulillah baik Umi. " Ujar Sekar dengan tersenyum.
" Alhamdulillah, syukur kalau baik-baik saja. Umi tinggal bentar ya mau ke depan lihat kue-kue untuk nanti sore. " Ujar Bu Ustadzah yang sering dipanggil dengan sebutan Umi oleh masyarakat kampung.
" Iya silahkan Umi. " Ujar Sekar dengan tersenyum.
" Caca sama aunty disini dulu ya, nenek Umi mau ke belakang dulu. " Ujar Bu Ustadzah dengan mengelus pucuk kepala Caca dengan sayang.
" Iya nenek Umi. " Ujar Caca dengan tersenyum.
...---------------...
Disisi Zeno setelah kepergian gadis kecil tadi. Dirinya pun langsung melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda menuju proyek pembangunan mall nya.
__ADS_1
Selama di perjalanan menuju proyek, Zeno terus memikirkan gadis kecil tadi yang sangat mirip dengannya. Ya, walaupun hanya dari segi bola mata saja yang mirip dengannya.
Apa jangan-jangan itu Anaknya?, Anak dirinya dengan Ana?.
Tapi langsung saja dirinya menyangkal itu semua. Mungkin hanya kebetulan saja bola mata gadis itu mirip dengannya. Tapi tidak ada orang lain yang memiliki bola mata yang mirip dengan kakeknya.
Karena bola mata Zeno menurun dari kakeknya. Yang katanya bola mata tersebut sangatlah langka dimiliki orang lain.
" Tuan kita sudah sampai. " Ujar sekretaris Hans yang membuyarkan lamunannya.
" Hmm. " Zeno langsung turun setelah pintunya di bukakan oleh sekretarisnya dan sebelum memasuki proyek pembangunannya itu dirinya pun merapikan jas kerjanya.
" Selamat datang tuan Albert. " Ujar seorang pria paruh baya yang di tunjuk Zeno sebagai kepala proyek.
" Hmm, bagaimana dengan pembangunannya? " Ujar Zeno yang berjalan memasuki pembangunan untuk mengecek kinerja para pegawainya.
Tapi di pertengahan jalan. Ada seorang wanita yang menabrak dirinya dan membuat sebagian kue yang di pegangnya jatuh mengotori jasnya.
Hans dan kepala proyek pembangunan langsung panik. Mereka berdua tau kalau tuannya paling tidak suka ada seseorang yang mengotori pakaiannya.
" Ma-maaf tuan, sa-saya tidak sengaja. " Ujar wanita cantik tersebut dengan menundukkan kepalanya.
" Tuan. " Hans memberikan sapu tangan untuk tuannya membersihkan jasnya yang kotor.
Zeno langsung mengambilnya dan membersihkan noda cream kue yang menempel di jasnya.
" Kau tidak punya mata?! " Ujar Zeno dengan nada membentak.
Zeno belum mengetahui wajah wanita yang menabraknya.
" Ma-maaf tuan. " Wanita itu mendongak menatap Zeno dan ...
__ADS_1
~Bersambung~