
Happy Reading :)
^^^
Sebelum atau sesudah membaca biasakan selalu menekan Like, Fav, Rate 5 Bintang, karena semua itu GRATIS loh😊😗
°°°°
Pagi hari di kediaman Germani. Zeno yang sudah rapih dengan style kantoran sedang menunggu kehadiran sekretaris pribadinya dengan mengecek pekerjaan melalui ipad.
Tokk ...
Tokk ...
" Masuk!!! " Teriak Zeno yang masih sibuk dengan ipadnya.
Clek ...
" Permisi tuan sebentar lagi kita akan berangkat ke bandara. " Ujar sekretaris Hans dengan berjalan menghampiri Zeno yang tengah duduk di sofa single.
" Hmm, semuanya sudah siap? " Ujar Zeno dengan menghentikan kegiatannya sejenak menatap sekretarisnya.
" Sudah tuan, semua sudah siap kita tinggal berangkat saja. " Ujar sekretaris Hans dengan menunduk hormat.
" Ya sudah kita berangkat sekarang. " Ujar Zeno yang memberikan ipadnya untuk di pegang Hans terlebih dahulu dan merapikan jasnya sebelum mereka keluar.
__ADS_1
" Ayo. " Ujar Hans yang berjalan duluan diikuti sekretaris Hans di belakangnya.
Saat berjalan melewati meja makan, langkahnya harus terhenti dengan panggilan mamihnya.
" Zeno, Hans ayo sarapan dulu. " Ujar Fania yang memanggil keduanya.
Hans sudah dianggap seperti putranya sendiri oleh Fania mengingat Hans merupakan sekretaris pribadi Zeno yang sangat setia dari awal putranya itu terjun ke dunia bisnis.
" Maaf nyonya lain kali saja. " Ujar Hans yang tau tuan mudanya itu ingin buru-buru pergi.
" Zeno gak lapar. " Ujar Zeno yang kembali melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.
" Son pikirkan lagi!!! " Teriak Davidto dari meja makan yang membuat Zeno mendengus kesal.
Zeno mengerti dengan apa yang dikatakan Davidto dan dia tidak akan meneruskan perusahaan papahnya itu karena dia ingin fokus ke perusahaannya sendiri.
Zeno hanya mengabaikannya saja sambil masuk kedalam mobil mewahnya. Hans yang sudah terbiasa itu pun tidak peduli dan langsung duduk di sebelah supir.
Mobil mewah mereka pun melaju diikuti beberapa bodyguard di belakang mereka sekitar 5 mobil. Karena perusahaannya yang sudah menduduki deretan pertama sebagai perusahaan termaju di seluruh dunia membuat Zeno merekrut beberapa bodyguard menjaga pengawasannya dimana pun dia berada.
Sejak Ana meninggalkan dirinya membuat dirinya melampiaskan semuanya ke pekerjaan. Bahkan seharian dirinya terus bekerja tanpa kenal lelah dan membuat perusahaannya bisa seperti sekarang ini.
Namanya sudah terkenal di belahan dunia. Bahkan semua orang menyebut namanya saja tidak berani. Zeno Albert Germani, Nama yang di segani dan di hormati di belahan dunia.
Bahkan semua orang takut berurusan dengan Zeno Albert Germani. Sosok pengusaha yang dikenal kejam tanpa pandang bulu, dingin dan tak berperasaan. Mereka semua memilih menjauh daripada harus mempertahukan nyawa mereka untuk berurusan dengan Zeno.
__ADS_1
" Berapa lama kita disana? " Ujar Zeno sambil menatap keluar jendela menikmati pemandangan yang sangat indah yang tidak seperti hidupnya.
" Hanya seminggu tuan. " Ujar Hans dengan menengok ke belakang menatap tuannya.
" Hmm, Baiklah. " Ujar Zeno dengan menatap lurus kedepan sambil menutup matanya.
" Oh ya Hans, saya sampai lupa. Perjanjian dengan perusahaan Mr. Peter di Inggris bagaimana? " Ujar Zeno yang kembali membuka matanya dan menatap Hans.
" Semuanya berjalan dengan baik tuan, begitu banyak keuntungan dari kerja sama tersebut. " Ujar Hans dan di angguki Zeno.
" Baiklah, kau urus semuanya. Jika ada hal yang mencurigakan, kasih tau saya. " Ujar Zeno yang tidak mau terlalu pusing memikirkan kerja sama dengan semua perusahaan.
" Baik tuan. " Ujar Hans dan tidak lama kemudian mereka pun tiba di bandara.
Hans langsung keluar membukakan pintu mobil sambil membungkuk hormat begitupun dengan para bodyguard yang sudah mulai berbagi memanjang bersiap mengawal bos mereka.
Zeno keluar dari dalam mobil dengan aura kepimpinan yang sangat kental membuat beberapa orang yang menatapnya menunduk hormat.
" I-itu bukannya Mr. Albert, pengusaha muda yang sukses itu? " Bisik salah satu wanita kepada temannya.
" Ya benar sekali, gak nyangka lebih tampan dari di televisi. " Bisik kagum teman wanita tersebut dengan memandang Zeno.
Zeno yang sedang berjalan melewati kedua wanita yang berbisik-bisik tentangnya hanya acuh. Dirinya sudah terbiasa di jadikan gosip hangat oleh semua orang, bukan gosip yang tidak benar. Tapi gosip tentang kesuksesan, ketampanan, dan kepintarannya yang bisa membuat perusahaannya memasuki deretan pertama sebagai perusahaan termaju di dunia dalam kurung waktu dua tahun.
~Bersambung~
__ADS_1
Gak jadi malam up nyaðŸ¤