
~ Happy Reading ~
Keesokan paginya, setelah Ana dinyatakan baik-baik saja dan proses transfusi darah berjalan dengan lancar semalem. Kini Ana sudah di pindahkan ke ruang rawat VVIP dengan Zeno yang terus duduk menunggu wanita cantik itu tersadar.
" Terimakasih, kau tetap bertahan sayang. " Ujar Zeno dengan mengenggam tangan Ana sambil sesekali mengecup punggung tangannya.
" Kau tau sayang, aku sangat bersalah tidak bisa melindungi wanita yang ku sayang dan cintai seumur hidup ku. " Tetesan air mata mulai terjatuh dari kedua pelupuk mata pria yang di kenal sebagai pria yang kejam dan dingin.
" Ana, kau tau saat kau meninggalkan ku, saat itu aku sangat terpuruk. Aku baru tau saat itu kalau aku mencintai mu melebihi siapapun. "
" Hidup ku sangat suram tanpa dirimu Ana, maafkan pria brengsek ini yang telah melukai mu. " Ujar Zeno yang tanpa disadari atas setetes air mata yang terjatuh di pelupuk mata Ana yang kini masih menutup matanya.
" Saat aku bertemu dengan mu saat itu, aku sangat senang dan berterimakasih kepada Tuhan yang telah memberikan ku kesempatan untuk menebus semua dosa-dosa ku kepada mu. "
" Kau wanita terhebat, terkuat yang pernah ku kenal Ana. Terimakasih telah menjaga dan merawat putri kecil kita. Maafkan aku yang tidak menemani mu saat kau hamil dan melahirkan putri kecil kita, ijinkan aku untuk terus berada di sisi mu dan putri kecil kita. "
" I love you, Ana. " Ujar Zeno sambil mengecup punggung tangan Ana dan mencium kening Ana cukup lama.
Tanpa di sadari dirinya, ada ketiga pasang mata yang memerhatikan dan mendengarkan semua yang di katakannya.
" Tuan benar-benar mencintai dan menyayangi nona Ana, semoga keluarga kecil kalian selalu bahagia. " Batin Bi Ina dengan tersenyum.
" Pih, gak kerasa ya putra dan putri kecil kita sudah tumbuh dewasa. Mamih juga sangat berterimakasih kepada Tuhan yang telah memberikan kita kesempatan untuk menyayangi Ana dan menebus semua dosa-dosa mamih di masalalu. " Ujar Fania yang menitikkan air matanya mengingat betapa kejamnya dia dulu terhadap Ana, putri dari sahabatnya.
Dia juga sudah mengingkari semua janjinya kepada mendiang sahabatnya itu untuk menjaga dan menyayangi putri kecil mereka seperti putri kandungnya sendiri.
__ADS_1
" Ya, padahal perasaan baru kemarin papih menggendong mereka. Papih juga merasa berterimakasih sudah di berikan kesempatan kedua untuk menjaga dan menyayangi Ana seperti janji kita kepada Hans dan Rere. " Ujar Davidto dengan membawa tubuh istrinya kedalam pelukannya.
" Re, Hans, kalian tenang saja, aku dan mas Davidto akan melindungi dan menyayangi putri kecil kalian. Kalian tenang-tenang disana dan maafkan kami yang pernah menyakiti putri kalian. " Batin Fania dengan menangis di pelukan suaminya.
" Semoga keluarga kecil kalian selalu bahagia dan lindungi tuhan. " Ujar Davidto dan diaminkan oleh Fania dan Bi Ina.
Kita kembali lagi ke Zeno yang kini masih mencium kening Ana sambil meneteskan air matanya.
" Ka-kak Zen. "
Suara itu membuat Zeno melepaskan kecupannya dan menatap Ana yang kini sudah mulai membuka matanya.
" Ana, kau sudah sadar? Aku panggilkan dokter dulu. " Ujar Zeno yang ingin keluar memanggil dokter, tapi langsung di tahan oleh Ana.
" Tidak perlu, kak. Aku baik-baik saja. " Ujar Ana dengan tersenyum.
Cklek ...
Pintu terbuka dan masuklah Fania dan Bi Ina. Sedangkan Davidto memanggil dokter yang semalem menangani Ana.
" Ma-mamih. "
Fania tersenyum mendengar Ana yang memanggil dirinya.
" Ya sayang, ini mamih. Apa ada yang sakit? " Ujar Fania yang sudah berada di sebelah putranya.
__ADS_1
" Tidak mih, Bi Ina disini juga? " Ujar Ana yang terkejut mendapati kehadiran BI Ina yang sudah dianggapnya seperti ibu nya sendiri.
" Iya nona, kemarin Bibi merasakan perasaan yang gak enak dan memutuskan untuk menyusul nona dan tuan muda kesini. " Ujar Bi Ina dengan tersenyum.
" Terimakasih bi. " Ujar Ana dengan tersenyum dan Bi Ina hanya tersenyum menanggapinya.
Cklek ...
Pintu kembali terbuka dan masuklah seorang dokter wanita yang semalem menangani Ana bersama dengan Davidto.
" Saya akan memeriksa kondisi pasien terlebih dahulu. " Ujar Dokter tersebut.
" Baik dok. " Zeno mulai menjauh membiarkan dokter memeriksa wanitanya dan begitupun dengan Fania.
" Syukur alhamdulillah, tidak ada luka yang serius pada nona Ana. Kondisi Nona Ana juga sudah membaik, tinggal menunggu lukanya kering. " Ujar dokter tersebut dengan tersenyum.
Sungguh keajaiban melihat pasiennya yang sekarang selamat saat mengalami luka tembak di perutnya dan semalem juga Ana yang mengalami perdarahan yang sangat serius.
" Terimakasih, dok. " Ujar Ana dengan tersenyum.
" Sudah kewajiban dan tugas saya nona. " Ujar dokter tersebut yang ikut tersenyum.
" Kalau begitu saya pamit, masih ada pasien yang harus saya periksa. Jika terjadi sesuatu bisa panggil saya. "
" Baik dok, terimakasih. " Ujar Zeno dan diangguki dokter tersebut sebelum pergi.
__ADS_1
~Bersambung~
Maaf ya dua hari aku gak up, soalnya aku lagi gak enak badan😅 Kalau bisa nanti sore/malam aku up lagi😘