My Bastard Brother

My Bastard Brother
Episode 81


__ADS_3

Zee Hospital


Setibanya di rumah sakit Zeno langsung turun sambil berlari menggendong tubuh Ana yang makin lama semakin lemah.


" DOKTER! DOKTER! "


Beberapa perawat yang melihat itu pun langsung berlari sambil mendorong brankar dengan secepat mungkin menghampiri Zeno yang tengah berlari sambil menggendong seorang wanita yang tubuhnya berlumuran darah.


" Letakkan disini tuan. " Ujar salah satu perawat yang menyuruh Zeno untuk meletakkan tubuh wanita tersebut ke atas brankar.


Zeno tanpa banyak bicara pun langsung menidurkan tubuh Ana di atas brankar tersebut. Para perawat pun langsung mendorong dengan cepat menuju UGD di ikuti Zeno, Davidto, Fani dan Caca yang berada di dalam gendongan grandpanya.


" Mohon tunggu di luar tuan, kami akan melakukan yang terbaik. " Ujar perawat tersebut yang menghalangi Zeno yang ingin ikut masuk kedalam UGD.


" Tidak! Saya ingin masuk! " Ujar Zeno yang terus memaksa ingin masuk menemani Ana di dalam.


" Tidak bisa tuan, mohon kerjasamanya. " Ujar perawat tersebut yang terus menahan tubuh Zeno agar tidak masuk ke UGD.


" Tenanglah nak, pasti Ana baik-baik saja. " Ujar Fani yang menahan tubuh putranya dan menyuruh perawat tersebut masuk kedalam dan menangani putrinya.


" Ini semua salah ku. " Ujar Zeno yang sudah mulai menitikkan air matanya. Kenapa tidak dia saja yang tertembak, kenapa harus wanitanya.


" Tidak, disini tidak ada yang salah. Ini musibah nak, kita berdoa saja untuk Ana. " Ujar Fani yang memeluk tubuh putranya yang terlihat rapuh.

__ADS_1


Fani dan Davidto sebagai orang tua yang melihat putranya sangat rapuh merasa ikut terpukul, ditambah putri mereka jugalah yang menjadi korbannya. Baru kali ini mereka melihat putra mereka menangis dan begitu lemah.


" Hikss, mommy, hikss. "


Davidto terus memeluk tubuh cucunya itu yang berada di dalam pangkuannya.


" Grandpa, hikss mommy hikss tidak akan hikss tinggalin caca kan hikss? " Ujar Caca dengan mendongak menatap Davidto yang kini tengah terdiam menatapnya.


" Tentu tidak, mommy kan sayang Caca. Gak mungkin tinggalin cucu grandpa yang sangat cantik ini. " Ujar Davidto yang mencoba untuk menenangkan cucunya walau di dalam hatinya dia merasa sangat takut akan kehilangan putri tersayangnya.


" Grandpa tidak bohong kan? " Ujar Caca yang masih sesegukan menatap sang grandpa.


" Tidak, sekarang Caca berdoa agar mommy baik-baik saja. "


" Ya Allah semoga mommy baik-baik saja dan bisa bermain dengan Caca lagi nantinya, aminn. " Ujar Caca membuat Fani, Zeno dan Davidto yang mendengarnya ikut mengaminkan.


Selama menunggu kabar dari dokter yang menangani Ana di dalam. Zeno terus berjalan gelisah kesana kemari membuat kedua orang tuanya yang melihatnya pusing dengan tingkah putranya itu.


Zeno hanya takut Ana meninggalkan dirinya lagi yang kedua kalinya untuk selama-lamanya.


Begitupun dengan Fani dan Davidto yang juga merasa takut, gelisah dan khawatir menunggu kabar dari dokter di dalam. Mereka berdua pun tidak ingin melihat putri mereka meninggalkan mereka lagi untuk selama-lamanya.


Cklek ...

__ADS_1


Pintu pun terbuka mereka langsung melihat dokter tersebut keluar menghampiri mereka.


" Bagaimana kondisi putri saya dok? " Ujar Fani yang mewakili putra dan suaminya.


" Pasien kehilangan banyak darah, di rumah sakit kami stok golongan darah O yang sesuai dengan pasien hanya tersisa tiga kantong, sedangkan pasien membutuhkan lima kantong darah, apa diantara tuan dan nyonya ada yang memiliki golongan darah yang sama? " Ujar dokter tersebut dengan menatap mereka bertiga secara bergantian.


" Tidak dok, golongan darah kami tidak sama. Kami hanya keluarga angkatnya " Ujar Fani yang menjelaskan saat melihat raut wajah bingung dokter tersebut.


" Apa ada saudara pasien yang lain yang memiliki golongan darah yang sama? "


" Ada dok, tapi semua ada di luar negri. " Ujar Davidto yang bantu jawab melihat istrinya yang sudah begitu terpukul.


" Kami membutuhkan pendonor dengan segera, mengingat kondisi pasien yang makin lama semakin menurun."


Mereka semua terdiam bingung. Davidto yang ingin menghubungi anak buahnya itu pun juga butuh waktu untuk mencari golongan darah yang sesuai dengan putrinya sedangkan Ana membutuhkannya dengan segera.


" Saya golongan darah O. "


Suara tersebut membuat mereka semua menoleh kebelakang dan


~Bersambung~


Tenang habis ini tidak ada masalah lagi yang menimpa Ana:v Karna bentar lagi and🤭

__ADS_1


Hehehe gak kerasa kan bentar lagi tamat😭 Maaf juga kalau cerita ku mungkin bertele-tele, karna aku gak pandai buat cerita:v Jadi masih jauh dari kata sempurna😊


__ADS_2