My Bastard Brother

My Bastard Brother
Episode 22


__ADS_3

Happy Reading :)


^^^


Mansion kediaman Germani


Fania yang baru pulang dari agensinya tidak mengetahui bahwa putrinya menginap di rumah sahabatnya.


" Selamat datang nyonya. " Fania menatap wanita paruh baya itu.


" Hmm, kau pembantu baru? " Wanita paruh baya itu mengangguk.


" Baiklah, siapkan makan malam. Apa putri ku sudah makan? " Tanya Fania membuat wanita paruh baya itu bingung.


" Putri? Maaf nyonya saya sejak tadi tidak melihat ada orang lain disini kecuali satpam di depan. " Fania langsung terkejut mendengarnya.


Tanpa menjawab lagi, Fania langsung menaiki anak tangga untuk mengecek ke kamar putrinya dan benar saat dia masuk kedalam kamar Putrinya itu dia tidak melihat kehadiran putrinya disana.


" Kemana anak itu? " Ujar Fania yang langsung menelpon suaminya.


Tuttt ...


" Papih apa Ana kesana? " Ujar Fania yang langsung bertanya, wanita paruh baya itu sangat khawatir dengan putrinya.


Walaupun Fania selalu bersikap kasar dengan Ana, tapi Fania sangat sayang dengan Ana. Ya, walaupun bentuk kasih sayang yang di berikan berbeda.


Fania hanya ingin menjadikan putrinya menjadi sosok yang kuat di masa depan. Dia ingin putrinya nanti sudah siap menjalani dunia yang penuh dengan kekerasan ini dan itu yang membuat Fania selalu bersikap kasar kepada putrinya.

__ADS_1


Fania hanya ingin membuat putrinya tidak bergantung dengan siapapun nantinya. Hal itulah yang membuat Fania bersikap seperti itu agar putrinya membenci dirinya dan tidak akan bergantung dengan dirinya nantinya.


" Tidak, kenapa? " Fania bisa mendengar nada kekhawatiran suaminya itu.


" Ana belum pulang, pih. " Ujar Fania yang bertambah cemas.


" Kau sudah telpon Ana? "


" Belum pih, sebentar mamih telpon dulu. " Fania langsung mematikan sambungannya dan beralih menelpon putrinya.


" Nomor yang Anda tujuh sedang tidak aktif. " Fania makin bertambah cemas dan kembali menelpon suaminya.


" Bagaimana? " Tanya Davidto.


" Gak aktif pih, kita harus gimana pih? Mamih khawatir, bagaimana kalau terjadi apa-apa sama Ana? " Ujar Fania dengan sendu.


" Baiklah, papih hati-hati. " Ujar Fania.


" Iyaa sayang. " Ujar Davidto yang langsung mengakhiri sambungannya.


...--------------...


Sedangkan di posisi Zeno sekarang, pria tampan itu masih terlelap dalam tidurnya dan bunyi deringan ponsel membuat dirinya terbangun.


" Siapa sihh yang nelpon? Ganggu banget. " Gerutu Zeno dengan kesal dan mengambil ponselnya yang dia letakkan di atas narkas samping tempat tidurnya.


" Mamih? " Zeno terkejut melihat siapa yang menelponnya.

__ADS_1


" Ya, Halo mih. " Ujar Zeno yang langsung mengangkatnya.


" Zeno cepat pulang sekarang, adik mu hilang. BURUANN!!! " Zeno langsung menjauhkan ponselnya itu dari telinganya.


" Udah lah mih, biarin aja. Siapa tau dia nginep di rumah temannya. Lagian kalau hilang pun bagus, berkurang beban kita. " Ujar Zeno dengan santai.


" Enak aja kamu bilang! Buruan pulang kalau gak mamih sita semua fasilitas kamu!. " Ujar Fania dengan penuh penekanan.


" Di sita pun gua masih ada. " Batin Zeno.


" Iyaa-iyaa mi, bawel banget. " Zeno langsung mematikan sambungannya sebelum dia mendengarkan amukan dari mamih nya.


" Huhh, dasar merepotkan. Awas aja kalau ketemu gua hukum dia. " Smirk Zeno dengan langsung mengambil jaket serta kunci motornya.


Saat turun kebawah, Zeno terkejut melihat markasnya yang sangat sepi.


" Kemana tuh bocah? " Tanya Zeno yang mencari-cari kedua sahabatnya.


" Sudah lah, paling dah pulang. " Ujar Zeno yang langsung berlalu keluar dan tidak lupa mengunci pintu mansionnya.


" Jaga markas yang bener, gua pergi dulu. " Ujar Zeno ke salah satu penjaga yang dia tugaskan untuk menjaga markasnya.


" Siap bos. " Ujar penjaga tersebut dengan membungkuk hormat.


~Bersambung~


Likenya jangan lupa😘

__ADS_1


__ADS_2