
~ Happy Reading ~
^^^
Beberapa jam kemudian, setelah tes menyatakan golongan darah Veronica sama dengan Ana. Veronica pun mendonorkan darahnya untuk Ana dan kini Ana tengah melakukan proses pemeriksaan lebih lanjut setelah melakukan transfusi darah.
" Tante sangat berterimakasih kamu mau donorin darah kamu buat Ana. " Ujar Fania yang senang setelah mendengar golongan darah Veronica sama dengan Ana dan Veronica pun mau mendonorkan darahnya untuk Ana.
" Sama-sama tante, tapi maaf Vero harus pergi, masih ada urusan. " Ujar Veronica yang merasa tidak enak tidak bisa menunggu hasil pemeriksaan Ana lebih lanjut.
" Gak papa, tante ngerti kok dan sekali lagi makasih dah mau bantu. " Ujar Fania dan di balas senyuman oleh Veronica.
" Makasih ya nak Vero. " Ujar Davidto yang baru kali ini mau mengucapkan terimakasih kepada orang lain.
" Sama-sama om, Vero juga senang bisa bantu om dan tante. " Ujar Veronica dengan tersenyum.
" Makasih. " Ujar Zeno dengan tatapan datarnya.
" Hmm, kalau gitu Vero pamit dulu. Semoga Ana baik-baik saja. " Ujar Veronica yang mulai menyalami Davidto dan Fania.
" Aminn, makasih sekali lagi ya sayang. " Ujar Fania dan diangguki Veronica.
" Kalau gitu Vero pamit, mari bi Ina. " Ujar Veronica menatap tersenyum Bi Ina yang masih duduk di kursi roda.
__ADS_1
" Iya nona Vero. " Ujar Bi Ina dengan tersenyum.
Veronica pun mulai berjalan meninggalkan mereka menuju ruangan manager rumah sakit, yang merupakan orang kepercayaan papihnya untuk mengelola rumah sakit mereka selama dia sibuk dengan perusahaan papihnya.
" Papih, mamih pulang saja. Biar Zeno yang nungguin Ana. " Ujar Zeno yang melihat kedua orang tuanya yang sudah mulai mengantuk dan lelah.
" Gak, mamih mau disini aja, nungguin Ana. " Ujar Fania yang tidak ingin meninggalkan putrinya, dia tidak ingin di tinggal lagi oleh putrinya itu.
" Pulang aja mih, nanti Zeno kabarin hasil pemeriksaannya. "
" Iya mih, kita pulang aja. Besok kita kesini lagi, kasihan cucu kita tidur di bangku. " Ujar Davidto yang memerhatikan Caca yang terus mengubah posisi tidurnya.
" Ya sudah, nanti kabarin mamih kalau dokternya dah keluar. " Zeno mengangguk mengiyakan.
" Mamih sama papih pulang dulu, kalau ada apa-apa langsung hubungi mamih sama papih. " Ujar Fania yang sebenarnya tidak mau pulang, tapi karna kasihan melihat cucunya yang tidur tidak nyenyak itu pun akhirnya mengalah untuk pulang.
" Iya, papih sama mamih hati-hati di jalan. " Ujar Zeno yang berjalan mendekati Davidto yang menggendong tubuh putri kecilnya dan mengecup kening putrinya itu.
" Sweet dream princessnya daddy. " Ujar Zeno setelah mengecup kening putrinya.
" Bi Ina ikut pulang aja sama kita, besok mau kesini lagi bareng-bareng. " Ujar Fania yang merasa hutang budi dengan mantan pembantunya itu yang sudah menyelamatkan putrinya.
Coba saja kalau mantan pembantunya itu tidak ingin mendonorkan darahnya kepada putrinya. Mungkin sekarang Ana belum bisa di tangani dan mungkin kondisi putrinya itu makin menurun.
__ADS_1
" Tidak usah nyonya, saya tunggu disini aja. " Ujar Bi Ina yang merasa tidak enak untuk tinggal di mansion Germani kembali.
" Pulang aja bi, bibi juga butuh istirahat. " Ujar Zeno yang menatap wajar Bi Ina yang sudah pucat dan lemas dari setelah mendonorkan darahnya.
" Iya bi, ikut saja sama kami, bibi gak usah merasa gak enak sama kita. Apalagi kami sangat berutang budi sama bibi yang telah merawat Ana selama ini, memberikan Ana tempat tinggal dan mendonorkan darah bibi untuk Ana, kami sangat berterimakasih. "
" Saya juga secara pribadi minta maaf, kalau selama ini mungkin saya ada salah sama bibi. " Ujar Fania dengan menunduk.
" Tidak nyonya, nyonya tidak ada salah apapun sama saya. Justru saya sangat berterimakasih kepada nyonya dan tuan yang sudah mau mempekerjakan saya di mansion tuan dan nyonya. " Ujar Bi Ina dengan menitikkan air matanya mengingat dulu betapa susahnya dia mencari pekerjaan di jakarta untuk membesarkan putrinya Sekar di kampung.
" Tidak bi, justru saya dan suami yang mengucapkan terimakasih kepada bibi yang telah mau merawat Ana dari kecil sampai sekarang dan bibi juga sudah mau menampung dan merawat Ana dan cucu saya dengan sangat baik. Bibi juga sudah mau menyelamatkan nyawa Ana dengan donor darah bibi. " Ujar Fania dan diangguki setuju oleh Davidto serta Zeno.
" Saya juga minta maaf, kalau mungkin perkataan saya selama bibi bekerja ada yang menyakiti hati bibi. Saya juga mau mengucapkan terimakasih karna bibi sudah mau menjaga istri dan putri kecil saya. " Ujar Zeno dengan membungkukkan badannya bertanda terimakasih.
" Ekhemm , kapan kalian menikah? " Ujar Davidto yang baru sadar dengan perkataan putranya.
" Ya nanti. " Ujar Zeno dengan santai.
Davidto, Fania dan Bi Ina hanya menggeleng tersenyum mendengarnya. Dulu saja benci, sekarang bucin akut.
Benar ya kata orang benci dan cinta itu beda tipis. Yang awalnya benci menjadi cinta.
~Bersambung~
__ADS_1
Maaf ya kalau gaje, otak ku lagi buntu😂 Dan maaf juga kalau kemarin aku gak up, karna ya itu otak ku benar-benar buntu🥲 Ini aja sekarang ku paksain, makanya kalau gaje mohon maaf ya🙏 Dah see you😘