My Bastard Brother

My Bastard Brother
Episode 137


__ADS_3

~Happy Reading~


Sebelum atau sesudah membaca biasakan selalu menekan Like, Fav, Rate 5 Bintang, karena semua itu GRATIS loh 😊😗


°°°


Zeno yang sedang fokus-fokusnya meeting online bersama tekan kerjanya itu mendengar pintu ruang kerjanya diketuk.


" Maaf tuan, sebentar. " Ujar Zeno yang memotong pembicaraan rekan kerjanya.


" Tidak papa tuan, silahkan. " Ujar rekan kerjanya itu yang terkenal sangat ramah dan bijaksana.


" Terimakasih. " Zeno langsung bangkit dan membukakan pintu.


Terlihat disana kepala pelayannya berdiri dengan raut wajah yang panik.


" Kenapa? " Ujar Zeno dengan datar.


" Maaf tuan, saya hanya menyampaikan dari nyonya bahwa nona muda ingin melahirkan. " Ujar kepala pelayan membuat Zeno terkejut.


" Kenapa gak bilang dari tadi. " Ujar Zeno yang kembali masuk ke ruang kerjanya dan memberitahukan kepada rekan kerjanya bahwa istrinya ingin melahirkan dan untungnya rekan kerjanya itu bisa mengerti dan menunda meeting mereka ke minggu depan.


" Dimana Ana sekarang? " Ujar Zeno yang sudah keluar dari ruang kerjanya.


" Di perpus tuan. " Ujar kepala pelayan dengan menundukkan kepalanya.


Zeno langsung menutup pintunya dan berlari menuruni anak tangga. Dia lupa bahwa dirumahnya ada lift saking paniknya dan kepala pelayannya juga ikut berlari di belakang tuannya.


Sampai tiba di ruang perpustakaan. Zeno langsung masuk kedalam dan melihat disana sudah ada mamih dan papihnya.


" Sayang! " Zeno menghampiri istrinya yang sedang duduk dengan keringat yang bercucuran.

__ADS_1


" Sakit kak. " Ujar Ana dengan mengenggam tangan suaminya.


" I-iya terus aku harus apa sayang?. " Ujar Zeno panik.


" BAWA KE RUMAH SAKIT ZENO!!! " Teriak Fania yang greget melihat putranya yang malah nanya harus apa.


" I-iya mih. " Ujar Zeno yang langsung menggendong Ana apa bridal style menuju mobil mereka yang sudah di siapkan supir atas perintah Davidto sebelumnya.


" Bi, tolong siapkan keperluan Ana selama dirumah sakit. " Ujar Fania kepada kepala pelayan.


" Siap, nya. " Ujar kepala pelayan yang langsung berlari menuju kamar tuan dan nona mudanya.


Sedangkan Fania, Davidto dan Caca langsung berlari keluar menyusul Ana dan Zeno.


" Pih, mih ayo cepetan! lama banget, istri aku pengen lahiran ini! " Ujar Zeno dengan kesal melihat mamih dan papihnya yang lama banget.


" Dasar putra kurang ajar! ini kita juga dah lari. " Ujar Fania dengan memukul bahu Zeno.


" Sudah-sudah, ini bukan waktunya untuk berantem. Buruan masuk, kita berangkat. " Ujar Davidto yang langsung masuk ke kursi pengemudi karna dia ingin menyetir sendiri.


Didalam mobil Ana terus meremas tangan Zeno, menyalurkan rasa sakit yang dialaminya.


" Kak sakit kak hikss. " Ujar Ana dengan menangis, rasa sakitnya tidak seperti waktu Caca lahir.


" Sabar ya sayang, Pih cepetan dong pih. Istri Zeno udah gak kuat ini! " Ujar Zeno sambil memukul bangku pengemudi.


" I-iya sabar. " Ujar Davidto yang menambah kecepatan sampai menerobos lampu merah dan hampir menabrak mobil orang, banyak para pengendara yang mengumpati dirinya.


Setibanya di rumah sakit, Fania langsung turun dan berteriak memanggil suster dan dokter.


" SUSTER, DOKTER MENANTU SAYA MAU LAHIRAN!!! " Ujar Fania berteriak tanpa memperdulikan tatapan orang-orang yang menatap dirinya.

__ADS_1


Tidak lama datanglah beberapa suster sambil mendorong brankar.


" Tolong letakkan disini tuan. " Ujar Suster dan Zeno pun langsung meletakkan tubuh istrinya diatas brankar itu.


Suster pun mulai mendorong brankar. Zeno terus berlari sambil menggenggam tangan istrinya. Begitupun dengan Fania dan Davidto sambil menggendong Caca.


" Sakit kak hikss. " Ujar Ana dengan terus berteriak kesakitan.


" Sabar sayang, kamu kuat. " Ujar Zeno yang sebenarnya tidak tega melihat istrinya kesakitan seperti itu.


Tidak lama mereka pun sampai di ruang persalinan. Brankar Ana mulai dibawa masuk kedalam.


" Tuan ingin menemani istri anda? " Tanya suster dan Zeno pun mengangguk.


" Baiklah silahkan masuk, sisanya tunggu di luar. " Suster itu pun langsung menutup pintu setelah Zeno masuk.


Fania, Davidto dan Caca menunggu di luar sambil duduk di kursi tunggu. Fania kadang mondar mandir dengan cemas, khawatir dan takut. Sedangkan Davidto tetap duduk sambil memeluk cucunya, karna Caca terus menangis memikirkan mommynya didalam.


Setelah menunggu begitu lama, terdengar suara tangisan bayi didalam sana membuat Fania dan Davidto tersenyum senang.


" Pih, cucu laki-laki kita dah lahir. " Ujar Fania dengan mengenggam tangan suaminya.


" Iya mih, semoga Ana dan cucu kita baik-baik saja. " Ujar Davidto dan diangguki Fania.


Tidak lama kemudian keluarlah suster bersama dengan Zeno.


" Sus gimana kondisi menantu dan cucu saya. " Ujar Fania melihat putranya yang lemas dan langsung duduk di kursi.


" Alhamdulillah nyonya, ibu dan anak sehat. " Ujar Suster itu dengan tersenyum.


" Alhamdulillah pih, Cucu dan menantu kita sehat. " Ujar Fania dengan menitikkan air matanya dan Davidto mengangguk tersenyum.

__ADS_1


~Bersambung~


Likenya jangan lupa😘


__ADS_2