
Four years later ...
Di sebuah rumah sederhana di perdesaan, terlihat seorang anak perempuan tengah berlari-lari menghindari kerjaan sang nenek.
" HAHAHA, AYO KEJAR CACA KALAU BISA!!! " Teriak gadis kecil tersebut dengan terus berlari sambil menjulurkan lidahnya meledek sang nenek yang masih mengejarnya.
" Dasar gadis nakal, nenek akan menangkap mu. " Ujar wanita paruh baya tersebut yang berhasil menangkap gadis kecil tersebut.
" Hahaha, ampun nek, ampun. Caca gak bakal nakal lagi, hahaha. " Ujar gadis itu yang terus tertawa geli mendapatkan kelitikan dari neneknya.
" Hahaha, rasakan gadis nakal. " Ujar wanita paruh baya tersebut yang terus menggelitiki gadis kecil tersebut.
" Asik sekali kayanya sampe gak ngajak mommy. " Ujar seseorang wanita cantik yang ternyata mommy gadis kecil bernama Caca.
" Huhh, sudah nenek. Caca capek. " Ujar Caca dengan mengeluh.
" Hmm, baiklah. Lain kali jangan nakal lagi. " Ujar wanita paruh baya tersebut yang tak lain ialah Bi Ina.
" Uhh, iya-iya, Caca kapok jailin nenek. " Ujar Caca dengan mengerucutkan bibirnya yang membuat kedua wanita tersebut gemas melihatnya.
" Sudah-sudah ayo kita makan, ayo Bu Ana sudah masak makanan kesukaan kalian berdua. "
Ya, wanita cantik yang menjadi mommy Caca tidak lain dan tidak bukan ialah Ana. Selama dua tahun ini Ana dengan susah payah menghidupi putri kecilnya sekaligus Bi Ina dan putrinya.
__ADS_1
" Bu, sekar dimana? " Ujar Ana yang tidak mendapati kehadiran Sekar, putri dari Bi Ina yang sudah dianggapnya sebagai adiknya sendiri.
" Pasti dia lagi di luar ngurusin bunga-bunganya. " Ujar Bi Ina.
" Biar Ana panggilkan, Ibu sama Caca duluan aja ke meja makan. " Ujar Ana yang diangguki Bi Ina.
" Caca sama nenek dulu ya, mommy mau panggilin Aunty Sekar. " Ujar Ana dengan berjongkok menyamakan tinggi putrinya.
" Siap mom, Ayo nek." Ujar Caca dengan nada cadelnya.
" Baiklah Ayo gadis nakal. " Caca yang mendengarnya mencibikkan bibirnya kesal.
" Caca gak nakal nenek! " Ujar Caca yang terus protes sepanjang jalan.
" Iya-iya Caca gak nakal. "
" Aku bahagia dengan kehidupan ku sekarang dan semoga kalian juga bahagia. " Ujar Ana dengan lirih mengingat kehidupannya yang dulu.
" Kakak! " Panggilan dari arah belakang membuat Ana menoleh dan melihat Sekar yang menggerakkan kursi rodanya sendiri.
" Sekar, sini kakak bantu. Baru kakak mau nyusul kamu keluar. " Ujar Ana yang mengambil alih kursi roda Sekar.
" Apa makanannya sudah jadi? " Tanya Sekar dengan menoleh kebelakang dimana Ana berada.
__ADS_1
" Sudah, Ayo kita ke meja makan. Ibu sama Caca dah nungguin. " Ujar Ana yang mendorong kursi roda Sekar menuju meja makan.
Kondisi Sekar kini sudah mulai membaik pasca sesudah operasi. Beruntung saat Sekar melakukan operasi, ada orang baik yang membayarkan pengobatan Sekar sampai sembuh.
Ana dan Bi Ina saat itu sangat bingung dengan orang baik tersebut, pasalnya mereka berdua tidak mengetahui siapa yang telah membayarkan pengobatan Sekar. Tapi mereka sangat bersyukur di berikan pertolongan oleh Tuhan melalui orang baik tersebut.
" Kakak inget kejadian dulu ya? " Uang Sekar tiba-tiba membuat Ana menghentikan dorongannya.
" Tidak. " Ana menggelengkan kepalanya dengan tersenyum.
Dia akan berusaha baik-baik saja di depan Sekar dan Bi Ina. Walau kadang Ana sering teringat kejadian dulu di dalam mimpinya sampai membuat dirinya kadang tidak bisa tidur mengingat kejadian masalalunya.
Katakan saja dirinya trauma atas apa yang dilakukan pria brengsek tersebut yang sialnya ayah dari putri kecilnya.
" Kakak gak bisa bohong sama Sekar, mungkin Ibu percaya tapi tidak dengan Sekar. " Ujar Sekar dengan memutar kursi rodanya menghadap Ana.
" Kak, Sekar tau ini mungkin sulit untuk Kak Ana melupakan masalalu kakak. Tapi kakak juga gak bisa terus-terusan begini, kakak berhak bahagia, apalagi sekarang sudah ada Caca, Caca dan kakak berhak bahagia dengan kehidupan baru kalian. " Ujar Sekar dengan mengenggam telapak tangan Ana.
" Siapa sih yang gak pengen bahagia, tapi itu sangat sulit buat kakak lupakan. " Ujar Ana dengan menitikkan air matanya.
" Sekar tau itu sulit di lupakan, tapi kakak harus berusaha pelan-pelan melupakannya, pasti kakak bisa kok, percaya sama Sekar. " Ujar Sekar dengan menghapus air mata Ana yang kini berjongkok di hadapannya.
" Iya pasti, kakak pasti bakal lupain semuanya pelan-pelan dan kakak gak mau buat Caca kecewa nantinya. " Ujar Ana yang mengingat Caca selalu menanyakan tentang dadynya dan Ana selalu saja mengatakan bahwa dadynya sedang kerja di kota yang jauh dan belum bisa menemui mereka.
__ADS_1
~Bersambung~
Double up mau gak nihh?🤭