
~Happy Reading ~
Sebelum atau sesudah membaca biasakan selalu menekan Like, Fav, Rate 5 Bintang, karena semua itu GRATIS loh 😊😗
°°°
Setelah dokter keluar. Mereka memutuskan untuk mengobrol-ngobrol santai sekalian memantau kondisi Ana, takut jika Ana kembali drop atau merasakan sakit di perutnya.
" Kau mau apel? " Ujar Zeno yang melirik Ana yang tengah menatap buah-buahan yang berada di atas meja lebih tepatnya Ana menatap buah apel yang di bawa mamih nya tadi.
" Ana mau apel? Kalau mau biar mamih kupas kan. " Ujar Fania yang tengah asik mengobrol dengan Bi Ina langsung terhenti mendengar suara putranya.
" Mau. " Ujar Ana mengangguk mengiyakan.
" Zeno aja yang kupas kan. " Ujar Zeno yang ingin mengambil buah apel itu tapi kalah cepat dengan Fania.
" Tidak, biar mamih saja. Kau tidak bisa mengupas buah, yang ada nanti hasilnya jelek. " Ujar Fania yang ingin mengupas kan buah tersebut khusus untuk putrinya.
" Cih, nanti juga di makan, ngapain harus bagus. " Ujar Zeno menatap malas mamihnya itu, bilang saja dia pengen mengupas kan buah untuk wanitanya.
" Biarin, suka-suka mamih dong. Kenapa gak suka, hah? " Ujar Fania menatap sinis putranya itu.
" Cih, serah mamih lah. " Ujar Zeno yang juga membalas menatap sinis mamihnya itu.
" Apa tuh mata? Mau mamih colok? " Ujar Fania sambil menunjuk Zeno dengan pisau buah yang di pegangnya.
" Sudah-sudah, kenapa kalian berdua ribut. Mendingan Zeno kupaskan apel satu lagi buat papih, kan adil. " Ujar Davidto yang menatap malas istri dan putranya yang selalu ribut.
" Cih, keenakan papih. " Ujar Zeno yang kembali duduk di samping Ana tanpa berniat mengupas kan buah untuk papih nya.
Bi Ina yang memerhatikan interaksi keluarga mantan majikannya itu hanya tersenyum. Bi Ina senang melihat nyonya-nya sudah mulai menyayangi nona mudanya. Semoga mulai hari ini dan seterusnya kehidupan nona mudanya itu hanya di penuhi kebahagiaan.
__ADS_1
" Dasar anak laknat. " Ujar Davidto yang menatap tajam putranya itu.
" Terimakasih pujiannya. " Ujar Zeno dengan santai.
Ana yang melihatnya mencubit perut Zeno pelan.
" Aww, sakit sayang. " Ujar Zeno dengan mengelus perutnya.
" Jangan gitu kak, gak baik begitu sama orang tua. " Ujar Ana menasehati Zeno.
" Cubit aja yang keras, Ana. Biar tau rasa dia. " Ujar Davidto yang mengompori putrinya itu.
" Cih, dasar kakek tua tukang kompor. " Ujar Zeno dengan menatap tajam papih nya dan begitupun dengan Davidto yang juga menatap tajam Zeno.
Mereka berdua berperang dengan tatapan tajam satu sama lain. Sampai suara pintu terbuka dengan diiringi suara anak kecil yang imut membuat mereka menyudahi tatapan tajam mereka dan menatap ke arah pintu.
" Mommy!!! " Teriakan Caca yang di dengar mereka sangat imut dan gemas sambil berlari menuju brankar Ana.
Happ ...
" Jangan lari princess. " Ujar Zeno yang menghela nafas lega bisa menangkap putri kecilnya itu sebelum terjatuh mencium lantai.
" Xixixi, iya daddy. " Ujar Caca dengan tertawa geli dan kembali berjalan menuju mommynya.
" Caca pengen naik. " Ujar Caca yang berusaha untuk naik ke atas brankar Ana tapi tidak bisa.
" Dasar pendek. " Ujar Zeno yang mengangkat tubuh Caca ke atas brankar Ana.
" Daddy, Caca gak pendek. " Rengek Caca tidak terima di bilang pendek.
" Cih, pendek. " Ledek Zeno membuat Caca tambah kesal mendengarnya.
__ADS_1
" Mommy, lihat daddy! " Rengek Caca yang sudah mulai berkaca-kaca mendengar dadynya terus meledeknya.
" Ulululu, anak mommy, cini peluk mom. " Ujar Ana yang langsung di peluk putrinya itu dengan menangis kencang melihat daddynya yang meledeknya pendek.
" Udah pendek, cengeng pula. " Ujar Zeno yang tertawa senang berhasil meledeknya putrinya kecilnya itu.
" HUAAA, MOMMY!!! " Teriak Caca yang tambah kencang menangis nya.
" Zeno! Dasar anak nakal. " Ujar Fania yang menjewer kuping putranya itu yang membuat cucu menangis.
" Hikss, jewer terus hikss grandma. " Ujar Caca menatap grandmanya yang tengah menjewer daddynya.
" Tenang sayang, grandma kasih hukuman buat daddy yang nakal ini. " Ujar Fania yang tambah kencang menjewer kuping putranya melihat putranya kembali meledeknya cucunya.
" Aww, Aww, mamih sakit! Sakit mih! " Ujar Zeno yang berteriak sakit membuat Caca yang tengah menangis tertawa.
" Huhh, rasain! Siapa suruh ledekin Caca, wlekk. " Ujar Caca yang gantian meledek daddy sambil menjulurkan lidahnya.
" Dasar anak nakal, sini daddy kasih hukuman. " Ujar Zeno yang sudah terlepas dari jeweran Mamihnya dan berjalan mendekati Caca yang kini kembali memeluk Ana.
" Huaa, mommy lindungi Caca. " Ujar Caca yang tambah erat memeluk Ana saat merasakan daddynya sudah mendekat.
" Sini daddy kasih hukuman. " Ujar Zeno yang mengangkat tubuh putri kecilnya dan menciumi setiap inci wajah putri kecilnya itu membuat Caca terkekeh geli.
" Xixixi, daddy ampun! sudah xixixi, geli. " Ujar Caca dengan terus tertawa geli.
Mereka semua yang menatapnya ikut tersenyum melihat interaksi ayah dan anak itu.
~Bersambung~
Likenya jangan lupa ya😘
__ADS_1