My Bastard Brother

My Bastard Brother
Episode 73


__ADS_3

~Happy Reading~


Sebelum atau sesudah membaca biasakan selalu menekan Like, Fav, Rate 5 Bintang, karena semua itu GRATIS loh 😊😗


°°°


Keesokan harinya, Seperti yang di bilang Zeno bahwa hari ini mereka akan kembali ke mansion Germani.


Caca yang tau bahwa hari ini dia akan mengunjungi grandma dan grandpanya, membuat gadis kecil itu bahagia.


Caca selalu mengatakan ke Mommynya bagaimana grandma dan grandpa. Dia hanya ingin tau sifat grandma dan grandpanya dan Ana selalu mengatakan bahwa mereka berdua adalah orang yang baik kepadanya.


Caca yang mendengarnya saat itu langsung tersenyum bahagia, mendengar bahwa grandma dan grandpanya baik dengan mommynya.


" Cantiknya putri daddy. " Ujar Zeno yang langsung menggendong Caca saat gadis kecil itu berlari ke arahnya.


" Hihihi, mommy yang dandani. " Ujar Caca dengan terkekeh geli saat Zeno mengecup seluruh wajahnya.


" Cantik seperti mommynya. " Ujar Bi Ina yang menghampiri mereka di luar.


" Assalamu'alaikum Bi. " Ujar Zeno dengan mengecup punggung tangan Bi Ina.


Bi Ina tersenyum melihat perubahan tuan mudanya yang kini menjadi laki-laki yang sopan kepada orang yang lebih tua, tidak seperti dulu.


" Waalaikumsalam, ayo duduk dulu sambil nunggu Ana. " Ujar Bi Ina yang mempersilahkan mereka masuk sekedar mengopi atau ngeteh.


" Terimakasih. " Ujar Zeno yang berjalan masuk ke dalam diikuti sekretaris pribadinya di belakangnya.


" Pada mau minum apa? " Ujar Bi Ina saat melihat mereka semua sudah duduk di ruang tengah.

__ADS_1


" Gak usah bi, terimakasih. " Ujar Zeno yang tidak ingin merepotkan sang tuan rumah.


" Ya sudah, kalau gitu bibi mau manggil Ana dulu. "


Zeno mengangguk mengiyakan, sambil menunggu Ana. Zeno menemani putri kecilnya bermain boneka Barbie yang di belinya kemarin sewaktu mereka bermain ke mall.


Tidak lama kemudian datanglah Bi Ina bersama dengan Ana dan seorang perempuan yang duduk di kursi roda yang tengah di dorong Ana.


Sekretaris Hans yang menatap perempuan di kursi roda itu seketika terpana akan kecantikannya. Entah kenapa saat menatap wajah cantik itu membuat hatinya berdebar-debar.


Ana yang sudah duduk di sebelah Caca bisa melihat sekretaris Hans yang sejak tadi tidak berkedip menatap Sekar yang kini tengah duduk di sebelah Bi Ina dengan kursi rodanya.


" Ekhemm. "


Semua orang langsung menatap Ana. Ana hanya pura-pura batuk untuk membuat sekretaris Hans tersadar.


" Tidak ada, kalau cinta bilang saja. " Ujar Ana tiba-tiba membuat mereka semua kembali menatapnya.


" Siapa? " Tanya Zeno yang semakin heran, karna dia tidak merasa dan dia sudah menyatakan cintanya ke Ana.


" Tidak ada. " Ujar Ana yang diam-diam memerhatikan tingkah sekretaris Hans yang salah tingkah dengan ucapannya barusan.


" Ya sudah, ayo kita berangkat. " Ujar Zeno yang merapikan jasnya kembali.


" Hmm, bu Ana berangkat dulu. Ibu kalau ada apa-apa hubungi Ana. " Ujar Ana yang mengecup punggung tangan Bi Ina.


" Iyaa Ana, kau tenang saja disana. Ibu sama Sekar di sini bisa jaga diri. " Ujar Bi Ina dengan mengusap atas kepala Ana sambil tersenyum.


" Iya bu, Sekar kakak berangkat dulu ya. Kau baik-baik disini, kalau ada sesuatu hubungi kakak, jangan sungkan ya. " Ujar Ana dengan memeluk adiknya itu dengan sayang.

__ADS_1


" Baiklah kak, kalau juga baik-baik disana. " Ujar Sekar dengan membalas memeluk Ana.


" Ya baiklah, kakak menyayangi mu. " Ujar Ana dengan tersenyum.


" Sekar juga. " Sekar tersenyum mendengarnya. Walaupun mereka bukanlah saudara kandung, tapi rasa kasih sayang Ana kepadanya begitu tulus.


" Kami berangkat dulu bi. " Ujar Zeno yang bergantian menyalami Bi Ina.


" Bibi titip Ana dan Caca tuan, jangan biarkan Ana menderita lagi, sudah cukup selama ini dia menderita. " Ujar Bi Ina dan diangguki Zeno.


" Saya janji bi akan selalu membuat Ana dan Caca putri saya selalu bahagia, tanpa di minta sekalipun. " Ujar Zeno dengan tersenyum.


" Baiklah, terimakasih. Kalian hati-hatilah di jalan, semoga lancar sampai tujuan. " Ujar Bi Ina dengan tersenyum.


" Aminn, kalau gitu kita berangkat Bu. "


" Caca belangkat ya oma, aunty. " Ujar Caca mencium punggung tangan Bi Ina dan Sekar bergantian.


" Ya sayang, Hati-hati ya. " Ujar Bi Ina dengan mencium pucuk kepala Caca.


" siap oma. " Ujar Caca dengan hormat membuat mereka disana tersenyum melihatnya.


" Caca jangan nakal disana, jangan buat mommy capek ya sayang. " Ujar Sekar sambil mencium kening Caca.


" Siap aunty. " Ujar Caca dengan mencium kembali pipi Sekar sambil tersenyum.


" Byee oma, aunty. " Ujar Caca dengan melambaikan tangannya sambil di gendong Zeno menuju mobil mewahnya.


~Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2