
Happy Reading :)
^^^
Setibanya di depan kamar dimana kakaknya berada itu membuat Ana terdiam di samping pria bartender tadi.
" Ini nona kamarnya, didalam hanya ada kakak nona saja dan teman saya sudah kembali bekerja. Kalau begitu saya permisi nona. " Ujar pria bartender itu dengan tersenyum.
" Ehh mass sebentar. " Ujar Ana yang langsung membuat pria bartender itu menengok menatapnya.
" Ya, ada apa nona? " Ana langsung menghampirinya.
" Hmm, bisakah mas saja yang masuk dan bawa kakak saya ke mobil saya. Nanti saya bayar dehh. " Ujar Ana yang takut masuk kedalam dan apalagi memapah kakaknya itu.
" Maaf nona, bukannya saya menolak atau tidak ingin bantu. Tapi saya harus kembali bekerja lagi, takutnya bosnya saya marah kalau saya lama-lama meninggalkan pekerjaan saya. " Ujar pria bartender itu dengan tidak enak menolaknya.
" Ya sudah tak apa mas, sekali lagi makasih. " Ujar Ana dengan tersenyum mengerti.
" Sama-sama nona, kalau begitu saya permisi. " Ujar pria bartender itu dengan langsung meninggalkan Ana.
__ADS_1
Ana kembali berdiri di depan pintu kamar tersebut. Ada was-was saat dirinya memegang knop pintu tersebut.
" Hufftt, bismillah. " Ujar Ana yang langsung masuk kedalam kamar tersebut.
Cahaya remang langsung menimpanya saat memasuki kamar tersebut. Ana bisa lihat kakaknya yang tengah tertidur di ranjang king size tersebut.
" Ayo Ana kau pasti bisa. " Ana langsung menutup pintunya dan berjalan mendekati kakaknya.
Setibanya di samping ranjang tersebut. Ana berusaha membangunkan kakaknya itu, tapi mungkin karena pengaruh alkohol membuat Zeno tidak sadarkan diri dan mau tidak mau Ana harus memapah kakaknya itu.
Tapi saat dirinya ingin membangunkan tubuh kakaknya itu. Zeno langsung bangun dan menindih tubuhnya.
" Akhh, kak Zeno apa yang kakak lakukan. " Ujar Ana dengan penuh ketakutan.
Ana terus memberontak saat kakaknya itu merobek pakaiannya. Tapi namanya juga tenaga cewek tak sebanding dengan tenaga cowok membuat dirinya tak bisa mendorong tubuh kakaknya itu.
Tanpa aba-aba Zeno langsung melakukan penyatuannya tanpa harus pemanasan terlebih dahulu.
Ana hanya menangis melihat perbuatan Zeno tersebut yang sangat brutal dan kasar. Apalagi Zeno melakukannya tanpa pemanasan terlebih dahulu dan membuat tubuhnya belum siap menerimanya.
__ADS_1
...-------------...
Pagi yang cerah masih di tempat yang sama. Ana terbangun dari tidurnya lebih tepatnya dari pingsannya karena tak sanggup menahan sakit atas perbuatan Zeno semalam.
Ana menatap ke samping dan melihat kakaknya yang tertidur dengan sangat pulas. Tangisan kecil langsung keluar mengingat kejadian semalam.
" Hikss, hikss, a-aku kotor. " Ana terus terisak dan mencoba bangkit menahan rasa sakit di bagian intinya.
" Aww, kau harus bisa Ana. " Ana mencoba menyemangati dirinya sendiri sambil berjalan menuju kamar mandi.
Setelah selesai membersihkan dirinya Ana langsung berjalan tertatih-tatih menuju ranjang. Ana memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai.
" Astaga robek, terus aku harus pake apa coba. " Ujar Ana dengan melihat pakaiannya yang sudah tidak berbentuk.
Ana melihat kemeja dan celana bahan Zeno yang juga berserakan di lantai. Dirinya langsung mengambil kemeja putih tersebut dan memakainya.
" Biarin lahh walaupun kegedean. " Ujar Ana yang sudah memakai kemeja Zeno yang ternyata se pahanya.
Karena tak mungkin dia memakai celana bahan Zeno juga yang sangat kebesaran di tubuhnya itu. Akhirnya Ana memutuskan untuk tidak memakainya dan lagian juga kemeja kakaknya itu sudah menutupi tubuhnya walaupun hanya se pahanya saja.
__ADS_1
Tanpa menunggu waktu lagi, Ana langsung keluar dari kamar terkutuk tersebut meninggalkan tempat terlaknat itu dan membuatnya berjanji tidak akan pernah datang lagi walaupun dalam keadaan penting sekalipun.
~Bersambung~