
Happy Reading :)
^^^
" Bagaimana? Udah ketemu Ananya Zen? " Ujar Fania yang menghampiri putranya yang tengah terdiam dengan mata sembabnya.
Baru kali ini Fania dan Davidto melihat putranya yang terkenal dingin menangis di hadapannya karena seorang Anastasia Germani.
" Belum. " Satu kata yang membuat Fania dan Davidto di sampingnya terdiam.
Fania menyesal dulu pernah menyakiti hari putri angkatnya itu karena kesalah pahaman atas kematian Wilona.
Fania telah mengingkari janjinya kepada almarhum dan almarumah untuk menjaga dan menyayangi putri mereka dengan sebaik-baiknya.
Dan begitupun dengan Davidto yang juga menyesal tidak memperdulikan kehadiran Ana di sisi mereka. Dirinya malah sibuk dengan pekerjaan dan tidak perduli dengan siksaan yang dilakukan istrinya kepada Ana, putri angkatnya.
" Mungkin nona Ana sudah berangkat. " Ujar Bi Lona yang di dalam hatinya tersenyum bahagia melihat nona mudanya sudah berangkat ke kampung Bi Ina.
Bi Lona bukannya bahagia di atas penderitaan majikannya. Tapi Bi Lona hanya ingin melihat mereka mendapatkan penyesalan atas apa yang mereka lakukan selama ini kepada nona mudanya.
Bi Lona hanya berpikir enak sekali mereka yang dengan mudahnya mendapatkan perkataan maaf dari nona mudanya.
" Sial! Katakan kemana Ana pergi!!! " Teriak Zeno dengan penuh air mata penyesalan.
" Maaf tuan, saya tidak tau. Nona muda hanya menyuruh saya untuk mengantarkannya ke stasiun. " Ujar Bi Lona yang lagi-lagi berbohong.
Bi Lona ingin majikannya itu berusaha untuk mencari keberadaan Ana sendiri sampai mereka menemukan nona mudanya dengan hasil pencarian mereka sendiri.
__ADS_1
" ANAAA!!! " Teriak Zeno dengan menumpahkan semua rasa sakit, marah, menyesal menjadi satu.
Semua orang yang berada disana hanya bisa terdiam melihatnya, karena mereka tidak berani mengusik tuan muda Germani.
Siapa sih yang tidak mengenal keluarga Germani?, Keluarga yang sangat di segani di seluruh dunia. Bahkan mereka sangat takut membuat masalah dengan keluarga Germani.
...------------...
Sedangkan di sisi Ana, wanita cantik itu sudah berada di dalam kereta api yang akan membawanya menuju kampung halaman Bi Ina.
Sebelumnya Ana sudah menghubungi Bi Ina dan menceritakan semua kejadian yang dialaminya yang membuat Bi Ina syok tidak percaya dengan kelakuan biadap tuan mudanya itu.
Bi Ina juga menyetujui keinginan Ana yang ingin tinggal di kampung halamannya, malah wanita paruh baya itu senang Ana mau tinggal bersamanya dan di tambah lagi Bi Ina hanya tinggal berdua dengan putrinya yang sedang sakit-sakitan.
" Hufftt semoga aku tidak salah mengambil keputusan. " Ujar Ana dengan menatap keluar.
Bukannya enak saat kita menjadi amnesia setelah mendapatkan masalah bertubi-tubi?, Dengan cara begitu kita bisa melupakan semua masalah yang pernah terjadi di hidup kita.
Ana ingin semua itu terjadi kepada dirinya. Menjadi seorang yang amnesia dan melupakan semua kejadian-kejadian pahit dalam hidupnya.
Tapi Ana juga tidak ingin memori bersama dengan sahabat-sahabatnya dan orang-orang yang tulus mencintainya juga ikut terhapus.
" Ana senang kenal sama kalian. " Ujar Ana dengan memerhatikan foto dirinya dengan kedua sahabatnya di ponselnya.
Drttt ...
Drttt ...
__ADS_1
Saat Ana ingin mematikan ponselnya, bunyi deringan ponsel bertanda ada yang menghubungi membuat dirinya langsung melihat nama Cecilia, sahabatnya.
" Halo, kenapa Cil? " Ujar Ana saat sudah menerima panggilan sahabatnya untuk yang terakhir kalinya.
Karena sehabis ini dia ingin mengganti nomor ponselnya agar tidak ada seorang pun yang tau keberadaannya.
" Lo dimana? " Ujar Cecilia yang sejak menghadiri pesta pernikahan Zeno, kakak sahabatnya itu tidak mendapati kehadiran sahabatnya disana.
" Gua lagi di mansion, kenapa? " Ujar Ana dengan berbohong.
" Lo gak dateng di pesta pernikahan kakak lo? Tapi gak papa sih lo gak dateng juga, pesta udah bubar. "
Ana mengernyit heran dengan perkataan sahabatnya itu.
" Bubar? " Tanya Ana dengan terkejut.
" Ya, dan lo tau kenapa pestanya bu- " Belum sempat mendengarnya penjelasan sahabatnya itu, ponselnya mati karena kehabisan baterai.
" Aishh, kenapa pake lupa ngechas HP. Maaf gua cil, mungkin tadi terakhir kalinya lo denger suara gua. " Ujar Ana yang langsung mematahkan nomor ponselnya dan membuangnya.
" Selamat tinggal semuanya. " Ujar Ana bersamaan dengan kereta api yang di tumpanginya melaju meninggalkan kota yang penuh kesedihan dan kebahagian itu.
~Bersambung~
Bentar lagi tamat nihh🤠Kalau cerita ini dah tamat jangan lupa mampir ya ke cerita baru ku😂
Likenya jangan lupa guys! See you😘
__ADS_1