
~Happy Reading~
Sebelum atau sesudah membaca biasakan selalu menekan Like, Fav, Rate 5 Bintang, karena semua itu GRATIS loh 😊😗
°°°
Hari ini adalah hari yang sangat ditunggu-tunggu keduanya. Begitu banyak rintangan yang harus mereka lalui untuk sampai di hari ini. Dari benci menjadi cinta.
Kini Ana tengah di rias di dalam kamarnya. Wanita cantik itu tengah di selimuti perasaan gugup, karna ini menjadi yang pertama di hidupnya dan semoga juga ini menjadi yang terakhir untuknya.
Sedangkan Caca yang sudah selesai sejak tadi, duduk di tepi ranjang memandang ke arah mommynya yang tengah di rias.
Mommynya yang memiliki wajah cantik natural kini terlihat semakin cantik dengan makeup.
" Mommy cantik sekali. " Ujar Caca membuat Ana yang mendengarnya tersenyum malu, di puji oleh putrinya sendiri membuat dia salting sendiri dan dua perias yang mendengarnya juga ikut tersenyum.
Jujur, mereka baru kali ini merias seorang pengantin secantik ini. Dari awal sebelum mereka makeup in juga, wajah calon pengantin perempuan sudah cantik alami. Kulit wajah yang begitu kenyal dan putih bersih.
" Baru kali ini saya dandanin pengantin perempuan secantik nona. " Ujar perias itu.
Ana yang mendengarnya makin membuat pipinya memerah menahan malu. Siapa sih yang di puji seperti itu tidak malu+salting?.
Ceklek ...
Pintu kamar Ana di buka oleh seseorang dari luar, yang ternyata Fania. Fania kini terlihat seperti anak muda, bukan seorang wanita paruh baya yang sudah memiliki kedua anak dan seorang cucu.
" Omg, sayang! Kau cantik sekali, mamih jadi pangling lihatnya. " Ujar Fania yang syok melihat putrinya bisa secantik ini.
" Ma-mamih bisa saja. " Ujar Ana yang makin malu di puji terus-terusan, rasanya dia ingin menenggelamkan dirinya di dasar laut saking malunya.
" Mamih serius loh, kamu gak dandan aja udah cantik, apalagi ini kamu dandan makin cantik. " Ujar Fania yang berdiri di belakang tubuh Ana. Ana hanya bisa tersenyum malu memerhatikan mamihnya dari kaca meja rias.
" Ini sudah selesai? " Tanya Fania ke perias yang menjadi ketuanya.
__ADS_1
" Sudah nyonya, tinggal ganti pakaian saja. " Ujar perias itu yang mulai menyuruh asistennya untuk merapikan alat makeupnya.
" Ya sudah, Sekarang kamu ganti baju dulu sana, sebentar lagi kita berangkat. " Ujar Fania yang sejak tadi mondar mandir ke kamar putranya dan putrinya untuk mengecek persiapan keduanya.
" Iya mih. " Ujar Ana yang langsung ke ruang wardrobe untuk mengganti baju di bantu perias itu dan asistennya.
Sedangkan Fania duduk di sebelah cucunya untuk menunggu putrinya itu selesai berganti pakaian.
Fania menatap cucunya yang begitu cantik dan elegan. Baru pertama kali Fania melihat cucunya memakai dress seperti sekarang ini. Karna biasanya cucunya selalu memakai kaos lengan panjang di padukan dengan celana panjang bahan atau jeans.
" Cucu grandma cantik sekali. " Ujar Fania membuat Caca tersenyum manis.
" Maacih grandma, grandma cucu cantik kaya anak muda. " Ujar Caca membuat Fania yang mendengarnya malu-malu.
" Cucu grandma bisa aja buat grandmanya salting. " Ujar Fania membuat Caca terkekeh mendengarnya.
Sebenarnya Caca risih menggunakan dress minim seperti ini, hanya sebatas pahanya. Tapi mau gimana lagi, ini adalah momen spesial untuk kedua orang tuanya.
Caca mengerti dulu kedua orang tuanya belum sempat menikah, dia adalah anak di luar nikah. Tapi itu semua tidak masalah untuk dirinya, yang penting sekarang kedua orang tuanya bisa bersatu di ikatan pernikahan dan mereka bisa membangun keluar kecil bertiga yang di idam-idam kan Caca selama ini.
" Ehmm, grandma nanti mommy sama daddy bisa kasih Caca adik kan? " Tanya Caca membuat Ana yang baru keluar dari ruang wardrobe mematung terdiam.
Dia tidak menyangka putri kecilnya sangat ingin mempunyai adik. Dia bisa saja mengabulkannya, tapi pasti semua butuh proses dan tidak akan segampang itu. Dia masih memiliki trauma saat kehamilan Caca dulu.
Dulu saat kandungannya berusia lima bulan, Ana sempat mengalami perdarahan karna terlalu capek bekerja. Tapi Tuhan masih baik kepadanya, dia masih menyelamatkan buah hatinya.
Sampai kandungannya menginjak usia tujuh bulan. Ana yang seperti biasa berangkat kerja, tidak sengaja tertabrak pengendara motor saat dia tengah menyebrang jalan, membuatnya mengalami perdarahan lagi.
Saat di larikan ke rumah sakit terdekat. Ana harus melahirkan secara prematur saat itu juga dan Caca kecil mengalami gangguan pernafasan.
Panik, satu kata yang mewakili situasi Ana saat itu. Gimana tidak panik, buah hatinya yang sangat ditunggu-tunggunya mengalami gangguan pernafasan dan sedang berjuang antara hidup dan mati.
Setengah jam dia menunggu kabar tentang kondisi putri kecilnya. Kata dokter saat itu Caca sudah tidak bisa di selamatkan.
__ADS_1
Syok?, sudah pasti. Tapi Tuhan masih baik kepadanya, dia memberikan sebuah mukjizat untuknya, Caca kembali bernafas saat dia memeluk tubuh mungil itu.
Saat itu juga dia takut untuk hamil lagi, takut kalau buah hati selanjutnya akan sama seperti Caca nantinya dan karna kelahiran prematur itu, Caca mengalami gangguan kekebalan tubuh dan itu penyebab putri kecilnya mudah sakit.
Fania menoleh menatap putrinya yang tengah terdiam di depan pintu ruang wardrobe. Terlihat tatapan kesedihan mendalam di wajahnya.
Caca yang sadar Fania tengah menatap ke arah lain, langsung mengikuti arah pandangannya dan dia melihat mommynya yang tengah terdiam dengan raut wajah penuh kesedihan.
Caca langsung berjalan menghampiri mommynya. Dia mengenggam tangan mommynya dan membuat Ana tersadar dari lamunan masalalunya.
" Mommy kenapa sedih? Caca ada buat salah ya? " Ujar Caca yang ikut sedih melihat mommynya sedih.
" Tidak sayang, Caca gak buat salah apapun. " Ujar Ana yang berjongkok mensejajarkan tinggi putrinya.
" Kalau Caca salah, Caca minta maaf mommy. Caca gak bisa lihat mommy sedih. " Ujar Caca yang memeluk mommynya membuat Ana buliran bening di kedua pelupuk matanya jatuh.
" Tidak sayang, mommy cuma sedih terharu karna sebentar lagi mommy menikah. " Ujar Ana menatap tersenyum putri kecilnya yang sudah melepaskan pelukannya.
" Benarkah? " Tanya Caca dan Ana mengangguk tersenyum.
" Huhh, Caca lega dengernya. Caca kira, Caca ada salah sama mommy, mommy jangan nangis lagi ya, nanti makeupnya luntur. " Ujar Caca mengusap pipi mommynya yang sedih basah akibat buliran bening yang jatuh di kedua pelupuk matanya.
" Iya sayang, tetap jadi putri mommy yang kuat. " Ujar Ana dan diangguki Caca dengan tersenyum.
" Pasti mommy, Caca bakal jadi orang yang kuat. Biar mommy dan daddy gak hawatil dengan Caca. " Ujar Caca dengan tersenyum membuat Ana tersenyum mendengarnya.
" Jangan sedih-sedih lagi, sekarang kan hari bahagia. Masa kalian sedih-sedih begitu. " Ujar Fania yang mencoba menghibur keduanya.
" Siap grandma, mamih. " Ujar Ana dan Caca serempak.
Fania tersenyum melihat keduanya yang sudah kembali tersenyum. Setelah itu Fania menuntun Ana keluar kamar menghampiri suami dan putranya yang pastinya sudah menunggu di ruang tengah, mereka akan berangkat ke gedung sekarang.
~Bersambung~
__ADS_1
Dua episode ku gabungin nihh😁 Jangan lupa likenya ya gess, jangan jadi silent readers dan hargai semua author, karna membuat sebuah novel tidaklah mudah, terimakasih 🙏😇