My Bastard Brother

My Bastard Brother
Episode 79


__ADS_3

Malam harinya di meja makan. Zeno, Davidto dan Zeno sudah berkumpul di meja makan. Hanya tinggal Ana dan Caca yang belum di perbolehkan Zeno ke meja makan, karna dia ingin memberikan mamih nya itu sebuah kejutan.


" Mih, ada yang mau Zeno bicarakan. " Ujar Zeno yang menatap Fania yang tengah menuangkan air di gelas papihnya.


" Soal wanita itu? Kalau iya mamih gak mau denger. Kau kan tau Zeno, mamih menginginkan kau bersama dengan Ana. " Ujar Fania yang kembali duduk setelah selesai menyiapkan minuman suaminya.


" Mih, Zeno sangat menyayanginya dan di tambah lagi Zeno sudah punya anak darinya. "


Fania yang sedang mengunyah makanannya langsung tersedak mendengarnya.


" Minum sayang. " Ujar Davidto yang memberikan istrinya segelas air putih yang langsung di teguk sang istri.


" Are you crazy?! Dimana otak mu Zeno?! Kau telah menghamili Ana dan sekarang kau juga menghamili wanita itu?! " Ujar Fania yang sangat murka melihat anaknya yang sudah keterlaluan.


" Tapi Zeno mencintainya mih. " Ujar yang masih ingin memancing emosi mamih nya dan Davidto yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya.


" Mamih gak setuju! " Ujar Fania yang hanya ingin Ana menjadi menantunya bukan wanita lain.


" Mamih belum kenal aja dengan dia, setelah mamih kenal pasti mamih menyukainya. " Ujar Zeno di dalam hatinya dengan tertawa melihat ekspresi wajah mamih nya yang merah padam menahan emosinya.


Brakk ...


" Cukup ya Zeno! mamih gak pernah mengajari kamu jadi pria brengsek seperti ini! " Ujar Fania yang ingin menangis melihat putranya yang sangat cepat melupakan Ana dan tidak ingin bertanggung jawab kepada putrinya itu.


" DADDY!!! "


Teriakan gadis kecil di belakang mereka membuat ketiganya langsung menoleh dan menatap gadis kecil yang berlari ke arah Zeno dengan wajah menggemaskan.


Happ ...


Zeno langsung menangkap putri kecilnya itu dan membawanya kedalam gendongannya.


" Kenapa kebawah hmm? Kan Daddy belum menyuruh Caca ke bawah. " Ujar Zeno yang terkejut melihat putri kecilnya sudah turun ke bawah tanpa instruksinya.


" Huhh, Daddy lama! Caca sudah lapar. " Ujar Caca dengan cemberut yang terkesan sangat menggemaskan.


" Siapa dia? " Ujar Fania yang terkejut mendapati kehadiran gadis kecil di mansionnya.


" Dia anak Zeno. " Ujar Zeno dengan tenang.

__ADS_1


Fania sangat-sangat syok mendengarnya. Dia kira putranya tadi sedang berbohong memiliki anak dari wanita itu agar dia merestui nya.


" Daddy, itu grandma dan grandpa? " Ujar Caca yang melirik Fania dan Davidto bergantian.


" Ya, ayo salim ke grandma dan grandpa. " Ujar Zeno yang menurunkan Caca agar menyalami kedua orang tuanya.


Caca langsung berjalan menghampiri Fania dan Davidto.


" Hallo grandma. " Ujar Caca yang ingin mencium punggung tangan Fania tapi langsung di tepis olehnya.


" Aku tidak sudi tangan ku di cium orang lain. " Ujar Fania dengan melipat tangannya di depan dada.


" Mamih! " Ujar Davidto yang memperingati istrinya agar tidak bersikap keterlaluan di depan anak kecil.


" Apa?! Mamih gak suka. " Ujar Fania dengan kekeh.


" Apa mamih membenci anak ku? "


Suara dari arah belakang yang sangat di kenalinya dan di rindukan nya selama ini langsung membuat Fania menoleh kebelakang dan melihat Ana yang sedang berjalan tersenyum ke arahnya.


" Ana? " Gumam Fania terkejut mendapati kehadiran putri tercintanya.


" Apa kabar mih? " Ujar Ana mencium punggung tangan Fania yang masih terdiam memandanginya.


" Hmm, Ya ini Ana. " Ujar Ana dengan tersenyum.


" Hikss, mamih merindukan mu Ana. Maafin mamih selama ini mamih selalu jahat sama kamu. " Ujar Fania yang langsung memeluk Ana sambil menangis.


" Lupakan masalalu mih, Ana sudah memaafkannya, Ana juga merindukan mamih. " Ujar Ana yang sebelumnya sudah menguatkan dirinya untuk bertemu dengan Fania.


Bagaimanapun Ana sangat merindukan sosok mamihnya itu. Karna Ana yakin, sejahat-jahatnya mamih nya, dia masih menyayanginya.


" Jadi anak ini? " Ujar Fania yang mendapatkan anggukan dari Ana.


" Ini putri ku mih. " Ujar Ana dengan tersenyum.


" Putri kita sayang! " Ujar Zeno dengan penuh penekanan.


" Ahhh, iyaa. Putri kita. " Ujar Ana dengan tersenyum.

__ADS_1


" Cantik sekali cucu grandma. " Ujar Fania yang ingin menangkup pipi chubby Caca tapi langsung di hempaskan oleh Caca.


" Tadi grandma gak mau di sentuh sama Caca, sekarang kenapa grandma mau nyentuh Caca, huhh. " Ujar Caca yang melipat tangannya di depan dada sambil membuang muka dengan kesal.


Mereka semua tertawa kecuali Fania yang mengerucutkan bibirnya. Dia gak tau bahwa gadis kecil ini putri dari Ana. Kalau dia tau dia tidak akan seperti tadi.


" Caca gak boleh gitu sayang. " Ujar Ana yang mengusap kepala Caca dengan tersenyum.


" Maafin grandma ya sayang, grandma gak tau kalau gadis kecil cantik ini cucu grandma. " Ujar Fania yang mencoba mengelus kepala Caca.


" Huhh gak mau, sebelum grandma kasih Caca coklat dan eskrim. " Ujar Caca membuat mereka semua tersenyum mendengarnya.


" Baiklah, besok grandma belikan, sekarang sini peluk grandma. " Ujar Fania yang sudah berjongkok di depan Caca.


" Sayang grandma. " Ujar Caca yang langsung memeluk grandma nya.


Fania merasa senang melihat cucu cantiknya mau memeluk dirinya. Davidto, Zeno dan Ana tersenyum melihat Fania yang begitu bahagia di peluk Caca.


" Gantian dong, mih. Papih kan juga mau di peluk. " Ujar Davidto yang cemburu melihat istrinya di peluk cucu cantiknya.


" Udah tua masih aja cemburuan. " Ujar Fania yang sudah melepaskan pelukannya.


" Grandpa cemburu? Sini Caca peluk. " Ujar Caca yang langsung memeluk Davidto yang sudah berjongkok di hadapannya.


Cupp ...


Cupp ...


Davidto mencium kedua pipi chubby Caca setelah pelukan mereka terlepas.


" Cucu grandpa cantik sekali, kaya mommynya. " Ujar Davidto yang membuat Caca terkekeh geli mendapatkan ciuman di kedua pipinya itu.


" Cantikan Caca grandpa. " Ujar Caca yang tidak ingin bersaing dengan mommynya.


Yang lain tertawa mendengarnya.


" Iyaa deh cantikkan cucu grandpa. " Ujar Davidto yang kembali menciumi seluruh wajah cucunya itu sampai membuat Caca tertawa geli.


Ana tersenyum lega melihat kedua orang tuanya menerima Caca dengan penuh kegembiraan. Ketakutannya selama ini sudah hilang saat melihat Davidto dan Fania yang begitu senang mendapati kehadiran Caca di tengah-tengah mereka.

__ADS_1


~Bersambung~


Maaf gaje, otak author lagi buntu dan maaf juga up nya malem🙏


__ADS_2