My Bastard Brother

My Bastard Brother
Episode 82


__ADS_3

~ Happy Reading ~


^^^


" Bi Ina! " Ujar mereka serempak yang melihat Bi Ina yang berada di belakang mereka.


" Saya golongan darah O dok, bisakah saya mendonor untuk nona Ana? " Ujar Bi Ina yang baru sampai ke kota dan langsung menyusul ke rumah sakit saat mendengar nona mudanya itu tertembak.


Saat kepergian Ana tadi pagi, Bi Ina merasakan perasaan yang tidak enak dan memutuskan untuk menyusul nona mudanya itu pada sore hari setelah dia menitipkan Sekar kepada Bu ustadzah dan benar saja setibanya di mansion Germani, dia mendapatkan kabar dari beberapa penjaga bahwa nona muda terkena tembak dan di larikan ke rumah sakit Zee hospital.


" Mari saya periksa terlebih dahulu. " Ujar Dokter wanita tersebut dan diangguki Bi Ina tanpa menjawab pertanyaan majikannya karna masih ada yang lebih penting dari pada menjawab pertanyaan majikannya.


Mereka yang mendengar Bi Ina memiliki golongan darah yang sama dengan Ana merasa lega dan di tambah mantan pembantu mereka itu bersedia mendonorkan darahnya untuk Ana.


" Buat jaga-jaga, papih hubungi anak buah papih dulu buat cari golongan darah yang sama dengan Ana. " Ujar Davidto takut jika putrinya itu masih memerlukan pendonor lagi nantinya.


" Iyaa pih, suruh mereka cari secepatnya. " Ujar Fania dan diangguki Davidto yang mulai menghubungi salah satu anak buahnya.


" Grandma, mommy tidak papa kan? " Ujar Caca yang baru bangun dari tidurnya karna terlalu lelah menunggu mommynya di dalam.


Fania dan Zeno yang tersadar bahwa masih ada Caca disana langsung menatap kearah gadis kecil tersebut yang tengah menguap.

__ADS_1


" Tidak sayang, mommy baik-baik saja. Caca tidur lagi aja. " Ujar Fania yang duduk di sebelah cucunya.


" Tidak, Caca tidak mengantuk lagi grandma. Caca mau nunggu mommy sampai keluar. " Fania dan Zeno yang mendengarnya terdiam.


" Sayang, mommy masih lama di dalam. Caca tidur saja ya, nanti daddy bangunkan saat mommy sudah keluar. " Ujar Zeno yang mencoba menjelaskan bahwa wanitanya masih lama berada di dalam, bahkan dalam waktu yang tidak bisa di tentukan.


" Baiklah daddy, nanti bangunkan Caca ya kalau mommy keluar. "


Zeno hanya mengangguk dan mencoba tersenyum agar terlihat baik-baik saja di depan putri kecilnya.


Caca mulai kembali menutup matanya. Fania yang melihatnya langsung membenarkan posisi tidur Caca agar gadis kecil itu tidak merasakan sakit saat tidur di kursi rumah sakit.


Sejam kemudian, datanglah dokter wanita yang menangani Ana bersama dengan Bi Ina yang berada di kursi roda. Terlihat wajah Bi Ina yang sangat pucat dan lemas, mungkin efek dari mendonorkan darahnya.


Saat di tengah-tengah kebingungan mereka, datanglah seorang wanita cantik yang berjalan dengan sangat anggun menghampiri mereka.


" Tante Fania, Om David, ngapain disini? " Ujar wanita tersebut yang tidak lain dan tidak bukan ialah Veronica yang kebetulan ingin menemui manager rumah sakitnya.


" Vero, loh kamu disini juga nak? " Ujar Fania yang terkejut mendapati kehadiran mantan menantunya itu.


" Iya tan, kebetulan Vero ingin mengecek rumah sakit, sudah lama Vero gak kesini. " Ujar Veronica dengan tersenyum dan mulai menyalami kedua orang tua Zeno bergantian.

__ADS_1


" Aduhh tante lupa, inikan rumah sakit kamu ya. " Ujar Fania dengan terkekeh, dia lupa bahwa rumah sakit yang sekarang di pinjak ini milik keluarga Zee yang sekarang di kelola Veronica.


" Hahaha, iya tante. Tante, om dan Zeno ngapain disini? Ada yang sakit? " Ujar Vero dan diangguki Fania.


" Ya, Ana tertembak dan sekarang berada di dalam. " Ujar Fania yang membuat Veronica terkejut.


" Ana?! Loh kok bisa tante? Gimana kejadiannya. " Ujar Veronica yang sangat-sangat terkejut mendengar bahwa Ana masuk kedalam rumah sakit dan bukannya Ana selama ini menghilang dan belum di temukan?


" Ceritanya panjang sayang, sekarang Ana butuh pendonor secepatnya. " Ujar Fania dengan sendu.


" Stok darah di rumah sakit habis, dok? " Ujar Veronica dan diangguki dokter tersebut.


" Ya, nona. Stok golongan darah yang sesuai dengan pasien kebetulan hanya tinggal tiga kantong dan pasien membutuhkan lima kantong darah. " Ujar dokter tersebut menjelaskan.


" Jadi masih kurang dua kantong lagi? " Ujar Veronica.


" Tidak nona, hanya kurang satu. Kebetulan ibu ini sudah mendonorkan darahnya. " Ujar Dokter tersebut sambil menatap Bi Ina yang berada di kursi roda.


" Loh bi Ina? " Veronica terkejut mendapati kehadiran mantan pembantu Germani tersebut dan bi Ina hanya tersenyum menanggapinya.


" Begini saja dok, coba tolong periksa golongan darah saya. Jika sesuai dengan pasien, maka saya bersedia. " Ujar Veronica yang ingin membantu Ana dan menebus semua kesalahannya selama empat tahun yang lalu yang telah membuat wanita tersebut sedih dan hancur saat dirinya bersama dengan Zeno.

__ADS_1


" Baik nona, mari. " Veronica mengangguk dan mulai mengikuti dokter tersebut.


~Bersambung~


__ADS_2