
Happy Reading :)
^^^
Malam hari di mansion kediaman keluarga Peter terlihat ketiga gadis cantik yang tengah asik perang bantal membuat seseorang wanita paruh baya yang mengintip di balik pintu kamar yang terbuka kecil ikut tersenyum melihatnya.
Wanita paruh baya itu senang melihat putrinya kini sudah bisa kembali tertawa seperti dulu. Wanita paruh baya itu yang tak lain ialah Liana Danuarta Piter.
Sejak kejadian dimana dirinya bertengkar hebat dengan sang suami yang tercyduk sedang berselingkuh membuat putri semata wayangnya itu menjadi gadis yang dingin dan senyuman yang biasanya terpancar kini telah tiada.
Tapi hari ini, Liana kembali bisa melihat senyuman dan canda tawa putrinya itu. Ya, walaupun bukan dialah penyebab putrinya tertawa tapi sebagai seorang ibu dia ikut merasakan senang melihat putrinya kembali ceria.
Liana tau betapa dekatnya putrinya itu dengan kedua sahabatnya dan itu membuat dia seakan sedikit tenang jika dia akan meninggalkan putrinya itu. Karena masih ada orang di sekeliling putrinya itu yang masih menyayanginya.
" Semoga senyuman mu tak akan pernah pudar sayang, Mamih menyayangi mu. " Batin Liana sambil menitikkan air matanya dan setelah itu Liana kembali menutup pintu kamar putrinya dengan sangat pelan agar ketiga gadis cantik itu yang tengah asik berperang dengan gulingnya tidak mengetahui kehadirannya.
Setelah kepergian Liana dari kamar Cecilia. Kini ketiga gadis cantik itu langsung ambruk di ranjang sambil tertawa.
" Hahahaha, capek sekali. " Ujar Cecilia dengan tertawa lepas dan melupakan semua bebannya.
__ADS_1
" Wkwkwkwkwk, Ana lemparannya mantep juga ya. " Ujar Olivia dengan tertawa.
" Lo jahat berdua, masa dua lawan satu. " Ujar Ana dengan cemberut.
Sejak tadi Olivia dan Cecilia bersama-sama menyerangnya. Membuat Ana sedikit kewalahan menghindar dari serangan keduanya.
" Wkwkwk, tenang An nanti ganti sihh Olivia. " Ujar Cecilia dengan tertawa.
" Njirr. " Olivia melemparkan bantal guling yang di pegangnya ke wajar Cecilia.
" Sksksksk, canda baperan bingits. " Ujar Cecilia dengan membuang bantal gulingnya.
" Dasar tamu gak tau diri. Masa orang rumah di jadiin babu. " Ujar Cecilia membuat Ana dan Olivia kembali tertawa.
" Hahahahah, canda. Ya udah gua yang bikin baperan banget anaknya tante Liana sksksksk. " Ujar Olivia yang langsung buru-buru keluar sebelum mendapatkan lemparan bantal dari sang pemilik rumah.
" Njirr lahh ngeselin banget tuhh anak. " Ujar Cecilia dengan menggerutu kesal.
" Wkwkwkwk biasalah. Ohh ya Li, gimana badan lo udah enakkan? " Tanya Ana.
__ADS_1
" Lumayan lahh, ada lo berdua sakit gua langsung ilang wkwkwk. " Ujar Cecilia dengan tertawa kecil.
" Biasa aja lo. " Ujar Ana yang juga ikut tertawa.
" Ohh ya, An. Lo tumben gak pulang? Biasanya mah lo pulang terus. Ohh atau jangan-jangan ada ortu lo ya? " Tanya Cecilia.
" Hmm, itu lo tau. Gua males ada mereka, gua sihh seneng mereka pulang. Tapi yang bikin gua males itu setiap mereka pulang pasti aja berantem sama gua wkwkwk. " Ujar Ana dengan mencoba tertawa.
" Hahhh, aneh ya hidup kita berdua mahh. Gua iri sama Olivia yang keluarganya rukun-rukun aja gak kaya kita wkwkwk. " Ujar Cecilia dengan menatap langit-langit kamarnya dan begitupun dengan Ana.
" Iyaa lo bener. Sabi kali ya kita tukeran sama tuh anak wkwkwk. " Keduanya langsung tertawa bersama.
Tanpa mereka berdua ketahui. Olivia yang sudah selesai mengambil minuman, sengaja berdiri di depan pintu mendengarkan percakapan kedua sahabatnya.
Olivia juga ikutan sedih melihat keluarga kedua sahabatnya yang tidak pernah rukun tidak seperti dirinya. Tapi sebisa mungkin Olivia memberikan kasih sayang dan kebahagiaan untuk keduanya.
Andai dia bisa mengubah segalanya. Dia dengan senang hati akan menggantikan posisi keduanya menjadi di posisinya. Tapi sayang Tuhan sudah menentukan kehidupan mereka seperti ini.
~Bersambung~
__ADS_1