
~Happy Reading~
Sebelum atau sesudah membaca biasakan selalu menekan Like, Fav, Rate 5 Bintang, karena semua itu GRATIS loh 😊😗
°°°
Pagi harinya, Ana dibuat pusing dengan tangisan putri kecilnya yang meringis merasakan sakit di perutnya.
" Mommy, hikss sakit, hikss perut caca hikss sakit hikss. " Caca tak henti-hentinya menangis sambil memukul mukul perutnya.
" Jangan di pukul sayang, nanti tambah sakit. Sini mommy elus-elus ya. " Ujar Ana yang menahan tangan putrinya agar berhenti memukul-mukul perutnya.
Caca hanya mengangguk sambil terus menangis. Sejak pulang dari pasar malam dia sudah merasakan sakit di perutnya, tapi dia tahan agar mommynya tidak memarahi dirinya dan pagi ini dia sudah tidak tahan dengan rasa sakitnya yang bertambah berkali-kali lipat.
Cklek ...
" Gimana sayang masih sakit? " Tanya Zeno yang masuk sambil membawakan semangkuk bubur dan teh hangat.
Ana hanya mengangguk dan terus mengelus-elus perut putri kecilnya yang kini masih menangis sesegukan.
" Hikss, masih sakit mommy. " Ujar Caca yang masih merasakan rasa sakit di perutnya.
" Makan dulu ya, habis itu minum obat. Biar gak sakit lagi. " Ujar Zeno yang duduk di tepi ranjang sebelah kanan sedangkan Ana di sebelah kiri.
" Gak mau hikss dad, sakit hikss. " Ujar Caca dengan menangis sesegukan.
Ana dan Zeno merasa bingung, pasalnya tadi mereka sudah memanggil dokter dan dokter bilang Caca terlalu banyak memakan makanan sembarangan dan terlalu banyak minum es.
__ADS_1
Tapi putri kecil mereka itu sangat susah untuk meminum obat. Sejak jam enam pagi, mereka terus membujuk Caca untuk memakan sarapannya dan meminum obat, tapi gadis kecil itu terus menolaknya.
Mereka juga tidak bisa memaksa, takutnya nanti Caca malah makin menangis dan susah untuk di bujuk lagi nantinya.
" Justru itu sayang, kalau Caca makan terus minum obat, perut Caca gak bakal sakit lagi. Sekarang makan ya sayang? " Bujuk Ana sambil terus mengelus-elus perut putri kecilnya.
" Hikss, gak mau. Obatnya pait hikss. " Ujar Caca sambil terus menolak meminum obat.
Clekk ...
Pintu kamar Caca kembali terbuka. Kini terlihat Fania yang baru tiba dari bandara. Semalam Fania menemani sang suami melakukan perjalanan bisnis keluar negri dan karna mendapatkan kabar bahwa cucu tersayangnya sakit, dia langsung berangkat kesini tanpa sang suami.
" Mamih kok pulang? " Tanya Zeno menatap wanita paruh baya itu yang kini sudah berjalan mendekati mereka.
" Mamih gak mau cucu mamih kenapa-kenapa. Mana yang sakit sayang? " Ujar Fania yang mendorong Zeno dan dia pun duduk di tepat putranya tadi.
Zeno hanya diam saja dan memilih berdiri di samping mamihnya.
" Cup, cup, cup, cucu grandma kan kuat. Sudah minum obat? " Tanya Fania ke Ana dan Ana menggelengkan kepalanya.
" Cucu grandma kenapa belum minum obat, hmm? " Tanya Fania melepaskan pelukannya dan menangkup kedua pipi chubby Caca.
" Pait grandma, Caca gak mau. " Ujar Caca dengan cemberut.
" Siapa yang bilang pait? Obatnya manis kok kaya permen. " Ujar Fania yang mencoba membohongi agar cucunya itu mau meminum obatnya, kalau tidak rasa sakit perutnya tidak akan berhenti.
" Bohong! Grandma bohong, Caca gak suka. "
__ADS_1
Sejatinya Caca yang terlahir dengan IQ di atas rata-rata itu tidak akan pernah bisa di bohongi seperti anak kecil lainnya.
" Sekarang grandma tanya, Caca mau terus perutnya sakit? "
Caca menggelengkan kepalanya. Siapa sih yang mau terus-terusan sakit. Hanya orang bodoh saja yang mau.
" Nahh sekarang minum obatnya, kalau Caca gak minum obatnya sampai kapanpun gak bakal ilang sakitnya. " Jeda Fania.
" Nanti Caca gak bisa makan coklat sama eskrim lagi. Biarin aja nanti coklat sama eskrimnya grandma yang makan, hmm lezatnya. " Ujar Fania dengan menjilat bibir nya.
Caca yang mendengarnya meneguk salivanya susah payah. Dia tidak bisa terlalu lama berjauhan dengan kedua makanan itu. Ana dan Zeno yang melihat wajah pucat putrinya menahan tawa, mereka berdua yakin putri kecilnya setelah ini akan mau meminum obat.
" Ya sudah, Caca mau dehh. "
See?, benar dugaan mereka. Putri kecil mereka itu tidak bisa hidup tanpa coklat dan eskrim. Fania yang melihatnya tersenyum senang, dia berhasil membujuk cucu tersayangnya.
" Ini baru cucu grandma, sekarang makan dulu baru minum obat. " Ujar Fania dan diangguki Caca.
" Mau grandma suapin? " Tawar Fania dan diangguki Caca.
" Siniin buburnya. " Ujar Fania ke Zeno dan Zeno pun langsung memberikannya.
" Sekarang, aaa. " Ujar Fania dan Caca pun langsung membuka mulutnya.
Ana dan Zeno terus menatap Fania yang dengan penuh kasih sayang menyuapi Caca makan sampai selesai dan Fania juga yang memberikan obat untuk Caca.
Setelah selesai meminum obat, Caca kembali tertidur. Ana dan Zeno bisa menghela nafas lega melihat putri mereka akhirnya bisa tertidur setelah semalam tidak bisa tidur merasakan sakit.
__ADS_1
~Bersambung~
Aku ceritain dulu kisah Caca kecil, sambil nunggu acara pernikahan Zeno dan Ana🤠Likenya jangan lupa ya😘