
Happy Reading :)
^^^
Malam harinya setelah selesai makan malam bersama. Ana, Sekar dan Bi Ina berkumpul di ruang keluarga untuk berbincang-bincang, karena sudah rutinitas mereka setelah Caca tidur mereka akan mengobrol bersama di ruang keluarga.
" Nak, sudah empat tahun lamanya kau disini. Kau tidak ingin kembali kesana? " Tanya Bi Ina membuat Ana terdiam mendengarnya.
" Ana masih belum siap bu kembali kesana dan Ana juga tidak ingin kembali kesana. " Ujar Ana yang membuat Bi Ina menghela nafas.
Bi Ina sebenarnya tidak ingin mengatakan ini, tapi Bi Ina hanya ingin Ana bisa berdamai dengan masa lalunya dengan kembali kesana.
Ya, Bi Ina sadar tidak mungkin Ana bisa melupakan kejadian masalalunya yang begitu menyedihkan. Tapi bukannya tidak baik jika kita terus bermusuhan dengan masalalu?, Alangkah indahnya jika kita bisa berdamai dengan masalalu kita, agar kita tidak selalu di hantui bayang-bayang masalalu.
" Sudahlah bu, biarkan saja kak Ana terus disini. Toh buat apa dia kesana kalau ujung-ujung rasa traumanya kembali. " Ujar Sekar yang tidak ingin kak Ana kembali merasakan kesedihan karna mengingat kejadian masalalunya.
__ADS_1
" Bukan maksud ibu memaksa Ana kembali kesana. Tapi itu hanya tidak ingin melihat Ana terus di hantui bayang-bayang masalalunya. Toh juga nanti tuan muda bakal tau caca itu putrinya. " Ujar Bi Ina yang membuat Ana terdiam.
" Maaf Bu, sekar. Ana tidur duluan. " Ujar Ana yang langsung meninggalkan mereka menuju kamarnya dan putrinya.
" Ibu sih pake bahas itu, lihat kak Ana sedih lagi kan. " Ujar Sekar dengan terus menatap punggung Ana yang sudah dianggap sebagai kakaknya sendiri yang mulai menjauh.
" Bukan gitu Sekar, ibu hanya tidak ingin nantinya Ana kaget nantinya kalau dia bertemu dengan anak majikan ibu. " Ujar Bi Ina yang membuat Sekar menghela nafas.
Benar juga yang di katakan ibunya. Suatu saat nanti pasti Daddy dari Caca akan mengetahui keberadaan Ana dan putrinya itu.
" Ya sudah lah bu, biarkan saja kak Ana yang memutuskan. " Ujar Sekar dan di angguki bi Ina.
" Iya bu, ya sudah kita tidur saja ini sudah malam. " Ujar Sekar yang langsung menggerakkan kursi rodanya.
" Sini ibu bantu. " Ujar Bi Ina yang mengambil alih kursi roda putrinya dan di dorong nya dengan hati-hati menuju kamar putrinya.
__ADS_1
...--------...
Sedangkan di sisi Zeno, pria tampan itu masih termenung di dalam kamarnya yang sangat gelap, karena sejak kepergian Ana Zeno sama sekali tidak pernah menyalakan lampu kamarnya.
Karna saat dirinya menyalakan lampu kamarnya, dia akan teringat dengan bayang-bayang Ana yang tersenyum ke arahnya dan menangis saat dia berubah menjadi sosok iblis yang tidak berperasaan.
" Ana kumohon kembalilah. " Lirih Zeno dengan mengusap bingkai foto Ana yang tengah tersenyum sambil mengenakan seragam sekolahnya.
Zeno mengambil foto itu di dalam kamar Ana yang kebetulan tidak di bawa Ana saat pergi. Setiap malam Zeno selalu memandangi bingkai foto itu, sesekali dia menciumnya dan memeluknya.
Bahkan saat dia tertidur dia selalu memeluk bingkai foto itu seakan dengan dia memeluk bingkai foto itu dia merasakan Ana yang sedang memeluk tubuhnya saat tertidur. Itulah yang membuat Zeno tertidur sangat nyaman, tanpa bingkai foto itu dia tidak akan bisa tertidur sangat lama dan nyaman seperti itu.
~Bersambung~
Maaf baru bisa up sekarang🙏😘
__ADS_1
Mau double up gk nih?🤭 Mumpung authornya lagi nganggur😅 Biasalah semua tugas udh aku kerjain jadinya punya waktu luang dehh wkwkwk😂
Kalau mau komen ya di kolom komentar😊 Likenya jangan lupa ya, tanpa dukungan kalian novel ku tidak ada apa" nya🙏😇