My Bastard Brother

My Bastard Brother
Episode 135


__ADS_3

Two months later...


Kini kehamilan Ana sudah memasuki usia 9 bulan. Zeno, David dan Fania lebih memilih bekerja dirumah sambil memantau Ana.


Selama dua bulan ini Caca lebih sering belajar di ruang perpustakaan yang Zeno bikin untuk sang istri. Gadis kecil itu sering mencari tau pengetahuan tentang model, karna dia sangat-sangat ingin menjadi seorang model.


Walaupun Caca tau, sang grandma tidak mendukung dirinya menjadi seorang model. Tapi Caca tidaklah menyerah, dia akan menunjukkan kepada grandmanya bahwa dia bisa menjadi model terkenal tanpa dukungannya.


Sedangkan Tania, gadis kecil itu pergi mengunjungi orang tua dari pipihnya di Ausi bersama dengan auntynya. Sempat Caca diajak kesana oleh Veronica dan Tania, tapi gadis kecil itu menolak dan lebih memilih menemani mommynya disini.


" Putri mamih ngapain di dapur? " Ujar Fania yang ingin membuat jus dibuat kaget melihat kehadiran putrinya di dapur.


" Ana lagi buat kue bolu mih, Caca suka kue bolu. " Ujar Ana sambil mengaduk adonan kuenya.


" Haduh sayang kan bisa suruh bibi, kamu bentar lagi mau lahiran, harus banyak-banyakin istirahat. " Ujar Fania dengan cemas.


" Gak capek kok mih, lagian Ana bosen dikamar terus. " Ujar Ana menatap mamihnya.


" Zeno kemana? Kenapa gak nemenin kamu di kamar. " Ujar Fania.


" Kak Zeno lagi meeting di ruang kerja mih sedangkan Caca lagi di perpus. " Ujar Ana.


" Perpus lagi? " Ujar Fania dan diangguki Ana.


" Akhir-akhir ini Caca lebih suka ke perpus mih daripada main sama bonekanya. " Ujar Ana dengan tersenyum, dia sebenarnya senang melihat perubahan putrinya yang sangat suka ke perpus dan menghabiskan waktunya dengan membaca buku di perpustakaan.


" Ya sudah, kalau capek suruh bibi lanjutkan. " Ujar Fania yang kembali berjalan mengambil buah-buahan di kulkas.


" Iya mih, mamih mau bikin apa? " Ujar Ana yang melihat mamihnya mengambil buah naga dan mangga.


" Mau buat jus, cuaca lagi panas banget kayanya enak minum jus. " Ujar Fania sambil mengupas buah-buahan yang diambilnya.

__ADS_1


" Kenapa gak suruh bibi aja? " Tanya Ana yang menatap aneh mamihnya, karna biasanya mamihnya itu selalu menyuruh pembantu.


" Gak papa sayang, mamih lagi pengen aja buat jus sendiri. Sekalian mamih mau buatin jus buat cucu mamih, kan enak baca buku sambil minum jus. " Ujar Fania dengan tersenyum.


" Iya mih, ditambah lagi sama bolu buatan Ana. Makin betah dia di perpus nantinya. " Ujar Ana dengan terkekeh.


" Nahh bener itu, perutnya udah kenyang makin lama dia keluar dari perpus. " Ujar Fania yang langsung memasukkan buah-buahan yang sudah di potong kedalam blender, tidak lupa dia menambahkan susu agar lebih enak.


" Kamu mau mamih buatin jus? " Tanya Fania menatap Ana yang tengah memasukkan adonan kue yang sudah jadi kedalam loyang.


" Boleh mih. Ana mau jus mangga. " Ujar Ana dengan tersenyum.


" Baiklah mamih buatin langsung. " Ujar Fania yang kembali memasukkan buah mangga lebih banyak.


Setelah selesai membuat jus, Fania langsung membawakan segelas jus mangga untuk cucu tersayangnya ke perpustakaan.


Cklek ...


" Asik banget yang lagi baca buku. " Ujar Fania membuat Caca menoleh menatapnya.


" Grandma, grandma ngapain disini? " Ujar Caca yang langsung menutup buku tentang informasi menjadi seorang model, dia takut grandmanya tau dan malah tidak memperbolehkan dirinya ke perpus lagi.


" Jadi grandma gak boleh kesini nihh. " Ujar Fania dengan cemberut.


" Boleh grandma, cuma Caca kaget aja grandma disini. " Ujar Caca sambil membawa buku yang di bacanya tadi dan meletakkannya di rak buku.


" Kenapa di taro bukunya? " Ujar Fania dengan menatap Caca yang tengah asik memilih-milih buku lainnya.


" Udah selesai dibaca grandma, sekarang tinggal baca buku yang lain. " Ujar Caca dengan tersenyum dan mengambil buku panduan bahasa Jepang.


Caca kembali duduk disebelah Fania dan meletakkan buku itu diatas meja. Fania menatap buku itu dan membaca cover bukunya.

__ADS_1


" Panduan bahasa Jepang? Caca mau belajar bahasa Jepang? " Tanya Fania dan diangguki Caca.


" Iya grandma, Caca mau menguasai lima bahasa, salah satunya bahasa Jepang. " Ujar Caca dengan tersenyum.


" Mau grandma panggilkan gurunya? Biar Caca lebih cepat belajarnya. " Ujar Fania membuat Caca menatap berbinar kearahnya.


" Benarkah grandma? " Ujar Caca dan diangguki Fania.


" Jadi, mau tidak? " Tanya Fania kembali.


" Mau grandma, Caca mau banget. " Ujar Caca dengan senang.


Dengan dia bisa menguasai beberapa bahasa, makin gampang juga peluang dia menjadi seorang model. Seorang model harus mampu menguasai beberapa bahasa dan yang harus mereka kuasai yaitu bahasa Inggris.


" Ya sudah, besok grandma carikan guru privat bahasa Jepang. " Ujar Fania dengan tersenyum.


" Makasih grandma. " Ujar Caca yang langsung memeluk grandmanya.


" Sama-sama sayang, ya sudah dilanjut bacanya. Grandma cuma mau ngasih jus buat Caca. " Ujar Fania memberikan gelas berisikan jus mangga itu.


" Makasih ya grandma, nanti Caca minum. " Ujar Caca menerima gelas itu dan meletakkannya di meja.


" Sama-sama sayang, ya sudah kalau gitu grandma mau ke taman dulu nemenin grandpa. " Ujar Fania dan diangguki Caca dengan tersenyum.


Setelah Fania keluar Caca langsung mengambil kembali buku yang dibacanya tadi dan meletakkan buku panduan bahasa Jepang di rak buku.


Sejujurnya dia tidak ingin membaca buku panduan itu. Dia hanya ingin mengelabui grandmanya agar grandmanya tidak curiga kepadanya.


Dia belajar cara-cara menjadi model, tidak ada yang mengetahuinya. Kecuali Tata, sahabat kecilnya yang mendukung cita-citanya itu.


~Bersambung~

__ADS_1


Likenya jangan lupa😘


__ADS_2