
~ Happy Reading ~
Sebelum atau sesudah membaca biasakan selalu menekan Like, Fav, Rate 5 Bintang, karena semua itu GRATIS loh 😊😗
°°°
Keesokan harinya. Zeno yang sudah rapih dengan pakaian kerjanya memutuskan untuk pergi ke rumah Bi Ina terlebih dahulu, dia sangat merindukan wanitanya dan juga putri kecilnya.
Setibanya disana, Zeno langsung disambut hangat oleh Bi Ina yang saat itu tengah menyirami tanaman bunganya bersama dengan putrinya Sekar.
" Permisi bi, ada Ana nya? " Ujar Zeno dengan menyalami Bi Ina.
" Maaf tuan muda, Nak Ana baru saja pergi berangkat kerja. " Ujar Bi Ina dengan menundukkan kepalanya, bagaimanapun juga dia harus tetap hormat dengan anak mantan majikannya itu.
" Caca? " Ujar Zeno yang berpikir tak masalah tidak bertemu dengan Ana asalkan bisa bertemu dengan putri kecilnya.
" Caca juga ikut Nak Ana berangkat kerja. " Zeno yang mendengarnya kecewa, padahal dia berusaha bangun pagi agar bisa bertemu dengan Ana dan juga putri kecilnya.
" Ini alamat Nak Ana bekerja, siapa tau tuan muda ingin kesana. " Ujar Bi Ina yang memberikan kertas alamat toko kue dimana Ana bekerja.
" Baiklah, terimakasih bi. " Ujar Zeno yang langsung kembali memasuki mobilnya dan menyuruh sang supir ke alamat yang di berikan bi Ina.
Bi Ina masih terdiam tak percaya mendengar kata terimakasih yang keluar dari mulut tuan mudanya itu. Seumur-umur dirinya bekerja di mansion keluarga Germani, tuan mudanya itu jarang sekali mengucapkan kata sakral seperti itu.
Jangankan kata terimakasih, kata maaf pun juga sangat jarang di ucapannya. Bahkan tuan mudanya itu tidak pernah menyalami dirinya atau asisten rumah tangga yang notabennya lebih tua darinya. Tapi kali ini dirinya di buat terkejut dengan tuan mudanya itu yang menyalaminya dan mengucapkan terimakasih.
" Ibu! "
Bi Ina tersadar dari lamunannya saat mendengar suara putrinya yang memanggil dirinya dengan keras.
" Ibu kenapa melamun gitu? Sekar panggil tapi ibu gak nyaut-nyaut. " Ujar Sekar yang khawatir dengan ibunya itu.
__ADS_1
" Ibu gak papa, ayo lanjutkan nyiramnya. " Ujar Bi Ina yang kembali menyirami tanaman bunganya.
Sekar yang melihat menjadi bingung. Tapi dirinya tidak terlalu diambil pusing dan mulai melanjutkan membantu ibunya menyiram tanaman.
...------------...
Di toko kue yang tidak jauh dari rumah Bi Ina dan pembangunan proyek perusahaan Zeno. Kini Ana bersama dengan Caca sudah tiba di toko kue tersebut.
" Wahh, siapa ini yang datang. " Ujar Bu Ustadzah yang melihat Ana menggandeng Caca.
" Nenek Umi!!! " Teriak Caca sambil berlari mendekati bu ustadzah.
" Hap, nenek tangkap. " Ujar Bu Ustadzah yang langsung menangkap tubuh Caca dan di gendongnya lah tubuh mungil gadis kecil tersebut.
" Nenek Umi tau tidak? " Ujar Caca dengan gemasnya membuat bu ustadzah yang mendengarnya menggelengkan kepalanya.
" Caca kemarin bertemu dengan daddy Caca. "
" Hmm, sayang. Kamu main dulu ya sama kak Siska ya, mommy sama nenek Umi mau bicara dulu, bisa? " Ujar Ana dan diangguki Caca.
" Siska tolong ajak Caca main sebentar. " Ujar Bu Ustadzah yang menyuruh salah satu karyawatinya untuk menemani Caca bermain saat dirinya dan Ana mengobrol.
" Baik Umi, ayo Caca main sama kakak dulu. " Ujar Siska yang mengambil Caca di gendongan Bu bosnya itu dan menggendong gadis kecil itu menuju taman yang tidak jauh dari toko kue.
" Ayo Ana kita bicarakan di ruangan ibu saja. " Ujar Bu Ustadzah yang berjalan duluan dan diikuti Ana di belakangnya.
Setibanya disana suasana menjadi hening. Tidak ada yang membuka suara terlebih dahulu sampai akhirnya Bu Ustadzah mulai membuka suaranya.
" Laki-laki itu kesini Ana? " Ujar Bu Ustadzah dan diangguki Ana.
" Iya bu, dia kesini. " Ujar Ana dengan menunduk.
__ADS_1
" Terus bagaimana Ana, dia ingin mengambil Caca? " Ujar Bu Ustadzah yang sangat tau kekhawatiran Ana selama ini jika laki-laki itu akan menemuinya dan mengambil Caca darinya.
" Tidak Bu, dia ingin aku dan dia menikah. " Ujar Ana yang membuat Bu ustadzah syok, karena yang Bu ustadzah tau laki-laki itu adalah kakak kandung Ana sendiri dan bagaimana mereka bisa menikah?.
" Bukannya kalian bersaudara Ana? "
" Iya Bu, kita bersaudara. Tapi dia mengatakan bahwa kita bukanlah saudara kandung. " Ujar Ana dengan menunduk, dia masih bingung antara percaya atau tidak dengan perkataan Zeno.
Ana tidak akan semudah itu percaya dengan kata-kata laki-laki yang pernah menyakiti dirinya itu. Di tambah lagi tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa mereka bukanlah saudara kandung.
" Boleh ibu kasih solusi sayang? " Ujar Bu Ustadzah yang jika dalam situasi serius dia akan berubah menjadi seorang ibu untuk Ana bukan sebagai karyawan dan bos.
" Tentu Bu, Ana pasti mendengarkan solusi ibu selama itu baik untuk Ana. " Ujar Ana membuat Bu Ustadzah tersenyum.
" Temui orang tua mu dan tanyakan ke mereka tentang kebenarannya. " Ujar Bu Ustadzah membuat Ana terdiam.
Bu Ustadzah seakan tau dengan isi hati Ana yang masih takut menemui orang tuanya yang dulu sangat-sangat membencinya. Bu ustadzah pun langsung bangkit dan duduk di sebelah Ana, di peluknya lah tubuh Ana itu yang langsung membuat Ana menangis.
" Ibu tau kau masih trauma Ana, tapi mau sampai kapan kau terus begini? lawan rasa takut mu Ana dan insyaallah semua akan baik-baik saja, serahkan semuanya pada Allah swt. " Ujar Bu Ustadzah dengan mengelus kepala belakang Ana dengan sayang, walaupun dia ingin Ana menjadi menantunya, tapi dia juga tidak bisa memaksa Ana untuk bersama putranya kalau Ana sendiri menolaknya.
Ana sudah dianggap sebagai putrinya sendiri. Sejak pertama kali kenal dengan Ana entah kenapa dia seketika mengingat almarumah putrinya yang telah meninggalkannya dan membuat Bu Ustadzah sangat-sangat menyayangi Ana, di tambah lagi saat melihat kebaikan Ana yang dengan tulus menolong orang lain yang dulu sempat mengatainya sebagai wanita malam.
" Baiklah Bu, Ana akan berusaha semampu Ana. " Ujar Ana yang tersenyum saat pelukannya terlepas.
" Kau pasti bisa sayang, ingat disini ada banyak orang yang menyayangi mu, kita semua selalu mendoakan yang terbaik untuk mu. " Ujar Bu Ustadzah yang membuat Ana sangat terharu mendengarnya.
" Terimakasih Bu, karna telah menyayangi Ana dan selalu menolong Ana saat Ana kesusahan. " Ujar Ana dengan meneteskan air matanya.
" Ibu sudah menganggap kau sebagai putri ibu. " Ujar Bu Ustadzah yang kembali memeluk Ana, sungguh Ana sangat beruntung bisa di pertemukan dengan orang-orang baik seperti mereka.
~Bersambung~
__ADS_1
Nahh ku banyakin nihh sampai 1000 kata😘 Likenya jangan lupa guyss😊